Ulasan Kritis atas Seorang Zawahiri

Biografi Sep 07, 2017

Dalam buku ini digambarkan bahwa Az-Zawahiri bukanlah orang yang sangat reaksioner dan lebih kepada pendengar yang baik, karena hal itu, ia sangat berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatannya.


Judul Buku: The Road to Al-Qaeda

Penulis: Montasser Al-Zayyat

Penerbit: Pluto Press

Tebal Buku: xxi+137 halaman

Tahun Terbit: 2004

Saat pertama kali membaca judul buku ini, akan terlintas dibenak para pembaca yang budiman bahwa ini adalah buku mengenai Islam garis keras atau sebuah panduan masuk Al-Qaeda. Salah! Buku ini adalah buku yang menggambarkan seorang Ayman Az-Zawahiri, sebuah biografi yang ditulis oleh kawannya yang bukan hanya berisi pujian terhadapnya, namun berisi kritikan. Sekiranya para sumbu pendek mengira bahwa resensi ini ditujukan untuk melukiskan mengenai terorisme, alangkah lebih baiknya mereka menyimak terlebih dahulu, dan apabila perlu membaca bukunya langsung (tidak mungkin seorang Islam garis keras akan menerbitkan buku pada penerbit yang mereka sebut “Kafir). Dari buku ini kita akan mengetahui bagaimana latar belakang kehidupan orang paling dicari di dunia setelah Osama Bin Laden (saat ia masih hidup), dan sekarang menjadi pimpinan gerakan muslim paling ditakuti di dunia.

Ayman bertemu pertama kali dengan si penulis saat bersama-sama menghabiskan waktu di sebuah penjara di Kairo, Mesir yang bernama Penjara Tora. Model penjara ini dibentuk seperti penjara Bastille di Perancis yang berisi tahanan politik. Perlakuan yang dilakukan disana pun sama dengan melakukan siksaan-siksaan terhadap para tahanan. Dari tahanan ini, Montasser Al-Zayyat mulai mempelajari mengenai kisah dibalik seorang Zawahiri.

Ayman terlahir pada kalangan aristokrasi Muslim di Kairo, tepatnya di wilayah Maadi, semasa kecil ia jarang sekali bergaul bersama kawan-kawan seumurannya, namun ia lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca, sehingga kisah-kisah yang dikumpulkan oleh penulis berasal dari penuturan keluarganya yang masih hidup. Dia besar di lingkungan keluarga dengan religiusitas tinggi, seringkali menghabiskan waktu dengan membaca kitab-kitab fiqh dan tafsiran Al-Qur’an. Ia juga sering berkumpul di Masjid dekat rumahnya yang seringkali mendatangkan Mustafa Kemal Al Wasfi, seorang intelektual Islam yang menjadi wakil pimpinan dari kelompok Al Islam Al Tanwiri (Islam yang tercerahkan).

Dalam buku ini digambarkan bahwa Az-Zawahiri bukanlah orang yang sangat reaksioner dan lebih kepada pendengar yang baik, karena hal itu, ia sangat berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatannya (itu kenapa Al-Qaeda sekarang cenderung pasif setelah dipegang oleh Ayman Az-Zawahiri). Ia adalah dokter bedah dan seorang alumni dari Fakultas Kesehatan Universitas Kairo lulusan tahun 1974. Menurut keluarganya, Az-Zawahiri bukan tipe orang yang suka bermain perempuan dan hanya satu perempuan yang selalu bersamanya sejak menikah, yakni Azza Ahmed Nuwair, istrinya. Perkawinan mereka dilaksanakan di hotel yang megah namun tetap dengan cara yang konsevatif, membedakan tempat duduk laki-laki dan perempuan dengan diberi hijab (pembatas, makna asli dari kata hijab).

Pada awal-awal ia bergabung dengan kelompok jihadis yakni Jamaah Islamiyah, ada perubahan yang signifikan dari pribadi Ayman, ia beranggapan bahwa untuk membawa perubahan harus dengan cara kudeta militer. Namun ia menolak untuk usulan Jamaah Islamiyah melakukan gerakan demonstrasi. Demonstrasi akan memprovokasi negara akan membuat negara memperkuat keamanannya dan berujung pada penangkapan anggotanya. Dengan pemikiran yang taktis semacam ini, Az-Zawahiri menjadi aset berharga bagi kawannya dan musuh yang sangat berbahaya bagi lawannya.

Pengikut Az-Zawahiri mayoritas adalah pemuda dimana ia mengharapkan agar tidak hanya Jamaah Islamiyah yang menjadi pendongkrak untuk gerakan jihad dan urgensi terhadap pelatihan militer untuk melakukan kudeta. Pemikiran seperti ini yang ditiru oleh gerakan-gerakan islamis di abad keduapuluhsatu, tapi dengan tujuan untuk menyebar teror. Jihad yang diserukan oleh Ayman awalnya adalah untuk melawan Israel, bukan melakukan kudeta, namun karena Anwar Al-Saddat akan melakukan perjanjian gencatan senjata, makan Ayman lah yang merencanakan pembunuhan Anwar Al-Saddat. Disinilah perubahan dari melawan musuh dari luar Mesir melawan kawan sendiri. Terlepas penulis memang adalah teman dari Ayman, ia tidak pernah setuju dengan aksi-aksi yang dia laksanakan, dimana aksi tersebut mengundang ketakutan dan terlalu banyak membawa korban kolateral. Selama bisa menggunakan jalan Da’wah, kenapa harus ber-Jihad? (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.