Categories
Serba-serbi

Tenang Sebelum Badai

Selalu ada keheningan yang aneh sebelum badai meletus. Seolah mengatakan ada bagian terbaik yang akan datang ketika virus telah menarik diri.

Artikel ini adalah bagian keempat dari kronik psycho-deflation oleh Franco ‘Bifo’ Berardi yang terbit pertama kali di NERO. Diterjemahkan oleh Faricha atas sepengetahuan penulis. Baca bagian kedua di link ini.

Selamat menikmati.


bifo-kedai-resensi-surabaya
Franco ‘Bifo’ Berardi (Foto: Luca Panella/Flickr)

4 April

Lucia menemukan foto hitam putih dan mengirimkannya ke ponselku. Di foto itu, seorang wanita muda yang cantik mengenakan pakaian terbaiknya di hari Minggu, seperti yang biasa dilakukan anak perempuan di usia 30-an. Bersamanya, ada gadis lain.

Di latar belakang ada bangunan yang mudah saya kenali. Wanita dan gadis itu berjalan bersama melalui Ugo Bassi, di belakang ada pedimen segitiga dari bangunan yang memisahkan Pratello dari San Felice. Wanita muda itu memandang ke depan, dengan pandangan yang agak kosong, sementara gadis kecil itu hampir memegang tangannya, tampaknya meminta perhatian, tetapi wanita itu tidak memandangnya, dia menatap ke depan.

Wanita itu adalah ibuku, dan gadis itu adalah sepupunya, Maria.

Aku langsung bertanya-tanya siapa yang mengambil foto itu, siapa yang ada di belakang kamera. Aku yakin itu adalah Marcello, tunangannya. Kakek saya, Ernesto, mengizinkan Dora untuk pergi bersamanya di akhir pekan, tetapi dengan syarat untuk ditemani oleh seseorang, baik itu saudara laki-laki atau perempuan. Dora terlihat terganggu, agak angkuh, mungkin kesal dengan kehadiran sepupunya yang tidak diinginkan. Dia tidak menghadap ke arahnya [si gadis], dia menatapnya, pada fotografer yang menangkap momen itu. Dia melihat jauh ke depan, menuju masa depan yang dia bayangkan, pada hari raya musim semi di akhir 30-an—ketika ibuku baru berusia lebih dari dua puluh tahun, dan tragedi apapun tampak jauh. Kemudian perang datang dan menghancurkan, mengganggu kehidupan dan masa depan yang telah lama dia nantikan.

bifo-krs-1

6 April

A grim calculus. Judul artikel di The Economist minggu ini mengatakan semuanya. “Muram” berarti suram, murung, dan bahkan sengit. Kalkulasi menyedihkan yang memaksa kita. Sangat mudah untuk memahami apa artinya judul ini dari majalah yang telah mewakili ekonomi liberal selama lebih dari satu abad. Berapa banyak beban yang akan menimpa kita dari pandemi coronavirus ini dalam hal ekonomi, dan pertimbangan seperti apa yang diberikan kepada kita, seperti harus memilih di antara dua keputusan alternatif, yaitu untuk menutup semuanya dan hampir sepenuhnya memblokir segala produksi, distribusi—singkatnya, seluruh mesin ekonomi—atau untuk menerima kemungkinan sebuah pembantaian.

Saya membaca di majalah London, “Gubernur New York, Andrew Cuomo, telah menyatakan bahwa ‘Kita tidak akan meletakkan angka dolar pada kehidupan manusia.’ Maksudnya sebagai seruan dari seorang lelaki pemberani yang negaranya kewalahan. Namun, dengan mengesampingkan pertukaran timbal balik, Tuan Cuomo sebenarnya menganjurkan pilihan—pilihan yang tidak mulai memperhitungkan serangkaian rapalan konsekuensi diantara komunitasnya yang lebih luas. Kedengarannya keras hati, tetapi angka satu dolar dalam kehidupan, atau setidaknya beberapa cara berpikir sistematis, adalah persis apa yang akan dibutuhkan para pemimpin jika mereka ingin melihat jalan keluar mereka melalui bulan-bulan menyedihkan yang akan datang. Seperti di bangsal rumah sakit itu, pertukaran tidak dapat dihindari.

Kerumitannya semakin meningkat semenjak lebih banyak negara diserang covid-19. Dalam minggu sampai 1 April, penghitungan kasus dilaporkan meningkat dua kali lipat: kini hampir 1 juta. Amerika telah mencatat lebih dari 200.000 kasus dan telah melihat 55% lebih banyak kematian daripada China. Pada 30 Maret, Presiden Donald Trump memperingatkan soal “tiga minggu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya”. Ketegangan pada sistem kesehatan Amerika mungkin memuncak selama beberapa minggu (lihat artikel). Gugus tugas kepresidenan telah meramalkan bahwa pandemi akan menelan biaya setidaknya 100.000-240.000 jiwa warga Amerika.

Sekarang saja upaya melawan virus tampaknya begitu menguras segalanya. […] Namun dalam perang atau pandemi, para pemimpin tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa setiap tindakan akan menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang besar. Untuk bertanggung jawab, Anda harus saling menumpuk satu sama lain. […] Pada musim panas, ekonomi akan mengalami penurunan dua digit dalam GDP triwulanan. Orang-orang akan bertahan berbulan-bulan dalam ruangan, menyakiti kohesi sosial dan kesehatan mental mereka. Lockdown selama setahun akan menghabiskan sepertiga GDP Amerika dan zona euro. Pasar akan jatuh dan investasi tertunda. Kapasitas ekonomi akan layu ketika inovasi terhenti dan keterampilan telah membusuk. Akhirnya, bahkan jika banyak orang sekarat, biaya menjaga jarak bisa lebih besar daripada manfaatnya. Itulah sisi dari pertukaran yang belum seorang pun siap mengakuinya.

Semuanya jelas. The Economist menghadapkan kita dengan cara berpikir yang meskipun nampak begitu brutal, itulah yang realistis. Tajuk utama lainnya di majalah itu ialah, “Hard-headed is not hard-hearted” (Keras kepala bukan keras hati). Siapa yang bisa menyangkalnya? Karena keputusan untuk menghentikan aliran kegiatan sosial dan ekonomi, para pemimpin politik telah menyelamatkan jutaan nyawa dalam tiga, enam, dua belas bulan. Tapi—The Economist mengamati dengan konsistensi tanpa kompromi—ini akan menghabiskan banyak nyawa di masa yang akan datang. Kita menghindari pembantaian bahwa virus dapat membebani kita, tetapi skenario apa yang kita persiapkan untuk beberapa tahun ke depan, dalam skala global, dalam hal pengangguran, gangguan produksi dan rantai distribusi, dalam hal hutang dan kebangkrutan, pemiskinan dan keputusasaan?

Tunggu sebentar.

Tajuk rencana The Economist masuk akal, koheren, tidak terbantahkan, tapi hanya dalam konteks kriteria dan prioritas yang sesuai dengan bentuk ekonomi yang kita sebut kapitalisme. Suatu bentuk ekonomi yang menjadikan alokasi sumber daya, distribusi barang tergantung pada partisipasi dalam akumulasi modal. Dengan kata lain, hal itu membuat kemungkinan konkret untuk mengakses barang-barang yang berguna tergantung pada kepemilikan sekuritas moneter yang abstrak.

Nah, ini adalah model yang telah mengalokasikan sumber daya yang begitu besar untuk pembangunan masyarakat modern, saat ini telah berubah menjadi perangkap logis dan praktis yang tidak dapat kita temukan jalan keluarnya. Tapi sekarang, jalan keluar telah memaksakan dirinya secara otomatis, sayangnya dengan kekerasan. Bukan kekerasan pergolakan politik, tapi kekerasan virus. Bukan melalui keputusan sadar kekuatan yang diberkahi dengan kehendak manusia, tetapi penyisipan sel darah yang heterogen—seperti yang akan dilakukan tawon ke anggrek—sel darah yang mulai berkembang biak sampai organisme kolektif tidak dapat memahami dan menginginkan, tidak mampu menghasilkan, tidak dapat melanjutkan.

Hal ini telah menghentikan reproduksi, menyedot sejumlah besar uang yang akhirnya menjadi sedikit atau tidak ada gunanya sama sekali. Kita telah berhenti mengkonsumsi dan memproduksi, dan sekarang di sinilah kita, memandang birunya langit dari balik jendela dan kita bertanya-tanya bagaimana ini semua akhirnya—buruh, sangat buruk, kata The Economist, kepada siapa gangguan siklus pertumbuhan dan akumulasi tampaknya menjadi peristiwa bencana yang menyebabkan kelaparan, kesengsaraan, dan kekerasan.

Aku membiarkan diriku tidak menyetujui nada bencana The Economist, karena aku maksudku soal “bencana” (catastrophe) berbeda—seperti dalam etimologinya yang juga bisa berarti “sebuah belokan di mana Anda dapat melihat panorama lain.” Kata dapat diterjemahkan sebagai “melampaui” (beyond) dan strofein artinya bergerak, berubah. Jadi, kita bergerak lebih jauh (moved beyond), kita akhirnya melakukan langkah yang gagal dilakukan selama lima puluh tahun yang penuh tekad dan perjuangan secara sadar. Segala sesuatunya—atau hampir semuanya telah berhenti, sekarang adalah masalah memulai kembali (restart) prosesnya, tapi menurut prinsip lain—tujuan daripada akumulasi abstrak, kesetaraan penghematan daripada kompetisi dan ketidaksetaraan.

Akankah kita dapat mengembangkan prinsip ini untuk menghidupkan kembali mesin—bukan mesin yang sama yang bekerja tanpa henti sebelumnya, tetapi yang elastis, sebuah mesin yang mungkin sedikit lebih goyah, tentunya lebih hemat, tetapi mesin yang ramah?

Akankah kita mampu? Aku tidak tahu, dan di atas semua itu aku bahkan tidak tahu siapa yang akan membuatnya jadi “kita.” Siapa yang mampu melakukan apa?

Bukan lagi politik, atau seni pemerintahan. Politik tidak mampu mengelola apapun dan di atas semua itu tidak mampu memahami apapun. Politisi miskin tampaknya diburu, mengejutkan, cemas. Permainan baru proliferasi rhizomatik dari sel-sel yang tidak dapat dikendalikan membutuhkan pengetahuan—bukan kehendak.

Karena itu, bukan lagi politik, tetapi pengetahuan. Tapi pengetahuan seperti apa?

Bukan pengetahuan The Economist, yang tak mampu melampaui cermin dari valorisasi, yang mengakses produk apapun sebagai syarat abstrak perhitungan moneter dan meningkatkan volume kehancuran untuk meningkatkan nilai abstrak. Maksudku pengetahuan konkret, pengetahuan yang tidak menerjemahkan laba menjadi nilai, tetapi tujuan menjadi kesenangan dan kekayaan.

Apakah kita membutuhkan pesawat tempur F35? Tidak, kita tidak butuh. Selain mendukung aliansi militer yang sia-sia, mereka tidak berguna. Para pekerja itu lebih suka memproduksi kaleng tuna. Juga karena, tahukah Anda berapa banyak unit perawatan intensif yang dapat dibuat dari satu F35? Dua ratus.

Aku tahu, ini adalah dongeng yang diucapkan secara umum yang tidak memperhitungkan kondisi saling tergantung yang kompleks di belakangnya dan sebagainya. Oke, aku akan tutup mulut. Jadi, ayo dengarkan saja pidato para realis yang menyanyikan lagu sama berulang-ulang: jika kita ingin mempertahankan pekerjaan pada tingkat ini kita harus memproduksi senjata, kan? Kata realis The Economist, baik yang di kanan maupun yang di kiri.

Jadi kita akan terus membuat senjata untuk membuat semua orang bekerja delapan-sembilan jam per hari. Dalam satu bulan atau satu tahun dari epidemi, kesengsaraan massal akan menyusul, kemudian perang. Dan kepunahan yang baru saja kita rasakan, akan datang dan menyambut kita dengan kuda putihnya yang indah, seperti dalam The Triumph of Death di Palazzo Abatellis, di Palermo.

Bagaimana jika sebaliknya kita memutuskan untuk membuat orang bekerja hanya untuk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan apa yang berguna? Bagaimana jika kita memberi semua orang penghasilan terlepas dari waktu kerja mereka (sekalipun tidak berguna)? Bagaimana jika kita berhenti membayar untuk pesawat tidak berguna yang sudah mereka beli? Bagaimana jika kita mengacaukan obligasi internasional yang memaksa kita untuk membayar sejumlah besar uang untuk biaya perang?

Di sini: pidato-pidato ini bukan lagi gembar-gembor seorang ekstremis, tetapi satu-satunya realisme yang memungkinkan. There is no alternative 😉

Kawanku, Penny, menulis kepadaku dari London: “Aku hanya duduk dan menulis—kehidupan yang aneh ini sudah jadi lazim dan menenangkan tapi selalu ada tenang sebelum badai.” Selalu ada keheningan yang aneh sebelum badai meletus. Seolah mengatakan ada bagian terbaik yang akan datang ketika virus telah menarik diri. Pada saat itu orang-orang bodoh akan berpikir waktunya untuk kembali ke normal, sementara orang bijak sudah sibuk mempersiapkan badai yang lebih besar yang akan datang.

7 April

Setelah bersembunyi selama hampir dua bulan, asma telah kembali hari ini, dan telah menghantuiku sepanjang hari. Berbaring di tempat tidur, aku terengah-engah tanpa oksigen dan tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun.

Di malam hari aku pergi untuk membuang sampah: organik, gelas, tidak terpisah. Aku berjalan perlahan di alun-alun kecil di sekitar rumah. San Donato Best Western Hotel tutup, dikunci dengan daun jendela ditarik. Aku berjalan sedikit melalui Zamboni untuk melihat menara. Tidak ada seorangpun di jalan ini di mana, sejak abad kedua belas, setiap siswa musim semi biasanya bergerombol dan berpacaran.

8 April

Aku mengambil kopiku dan melihat ke alun-alun yang cerah. Bahkan hari ini ada seorang gadis yang keluar dari rumahnya, mungkin ia tinggal sendirian di sebuah apartemen studio di Via del Carro. Ia mengenakan pakaian hitam dengan tepian kuning, ia memegang ponsel di tangannya saat melakukan olahraga harian. Gerakannya sedikit canggung, ia mengangkat  kaki kanannya dan menahannya selama beberapa detik, tapi ponselnya menarik perhatiannya, kemudian ia mengangkat kaki kiri sambil menatap ponsel, kemudian berbalik dan meletakkan tangannya di atas dinding. Teleponku berdering, aku berjalan kembali ke dalam. Mereka menelponku dari Milan untuk bertanya apakah aku masih dapat mengirim rekaman untuk Radio Virus hari ini. Aku kembali ke jendela, gadis itu menghilang.

Jika wakil-Nya di bumi tidak melarang menganggap penyakit ini sebagai hukuman Tuhan, aku akan berasumsi bahwa Tuhan adalah orang tua yang cerdas. Ia mengirim Johnson ke perawatan intensif terlebih dahulu, kemudian dia mengirim Menteri Israel yang homofobik, Litzman. Litzman sebelumnya menyatakan bahwa Covid adalah hukuman ilahi untuk homoseksualitas.

Sayangnya, ini adalah satu-satunya berita yang menghibut dari negara rasis itu. Untuk selebihnya, kronik politik Israel menceritakan tentang perkelahian tiada ujung antara penyiksa Ganz, Netanyahu yang korup dan si Nazi, Lieberman. Mungkin mereka akan maju untuk pemilihan keempat dalam tahun ini, ketika dunia di sekitar mereka sedang larut, mereka terlalu sibuk berdebat untuk menyadarinya.

Menurut International Labour Organization di Jenewa (ILO), pandemi ini akan menyebabkan rata-rata 25 juta peningkatan pengangguran tahun ini. Di Amerika ada lebih dari sepuluh juta PHK dalam dua minggu, dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang. Memakai salah satu ungkapan paling populer saat ini, ini adalah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kebijakan ekonomi tradisional tidak akan cukup untuk menghadapi fenomena ini. Entah kita akan menggunakan marginalisasi kekerasan dari sebagian besar populasi orang-orang yang merana di pinggiran kota, atau kita harus meninggalkan wacana “ekonomi modern”, utopia lama “pekerjaan penuh”, asumsi “upah buruh” dan secara harfiah memulai dari awal lagi sekali dan untuk selamanya. Yang pasti kini adalah akumulasi pengetahuan ilmiah, dan di atas semua itu kekuatan virtual pekerjaan kognitif, penemuan teknis serta kata puitis.

Tapi kriteria ekonomi yang sejauh ini mengatur hubungan dan prioritas mereka sudah pasti edan—habis, selamanya.

Jika kita mencoba memulihkan hubungan lama antara mereka yang memiliki kekayaan dan mereka yang harus bekerja untuk mencari nafkah, maka kesengsaraan akan menghasilkan sungai-sungai kekerasan, pengangguran untuk memberi makan pasukan nekat yang siap untuk apapun.

Ini akan jadi soal mengambil alih ruang dan struktur produksi. Ini akan jadi soal mengatur akses ke sumber daya yang tersedia di bawah kondisi kesetaraan.

Kita tidak dapat membuang waktu dalam ilusi untuk kembali ke “keadaan normal” di masa lalu karena ilusi ini berisiko menyeret apa yang tersisa ke dalam spiral kehancuran, tanpa kembali. Apa yang diharapkan konsumen dalam lima puluh tahun terakhir telah berlalu, dan tidak boleh kembali. Sistem pengharapan itu sendiri harus berubah secara radikal.

Jika aku harus memilih suatu peristiwa, tanggal, dan tempat sebagai awal mula kiamat, aku akan mengatakan bahwa peristiwa itu adalah KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro pada Juni 1992. Untuk pertama kalinya, negara-negara besar bertemu untuk menilai kebutuhan demi mengatasi bahaya yang mulai diungkapkan untuk pertumbuhan ekonomi. Pada kesempatan itu, Presiden Amerika Serikat, George Bush Sr. menyatakan bahwa “standar hidup rakyat Amerika tidak dapat dinegosiasikan.”

Kini kita semua membayar untuk harga dirinya, yang mungkin melekat pada keberadaan bangsa yang lahir dari genosida, yang kekayaannya bergantung pada deportasi, perbudakan, perang, dan perampokan sumber daya dan tenaga orang lain. Bangsa itu akan segera menghadapi kehancuran dalam perang internal dan, sepatutnya, tidak akan selamat.

bifo-krs-2

9 April

Setelah sebulan menyendiri dan merasa tidak pasti tentang implikasi situasi ini, terasa kegugupan tertentu dalam suara kawan-kawan yang menelponku, tapi juga dalam catatan tertulis, atau analisis yang biasa ku baca setiap hari. Aku tidak benar-benar membaca semuanya, tapi banyak memang yang ku baca.

Dalam sebuah milis berjudul Neurogreen, aku mendapat artikel hari ini yang ditulis oleh Laurie Penny, diterbitkan di majalah California, WIRED, yang selama bertahun-tahun telah menjadi pelopor futuristik digital dan terutama imajinasi dan visi ultra-liberal.

Sungguh aneh menemukan artikel seperti itu di majalah yang biasanya sangat optimistis. Karya ini kemungkinan besar merupakan kisah pengalaman pribadi yang agak dramatis. Laurie Penny mendapati dirinya entah di mana hanya-Tuhan-yang-tahu, jauh dari rumah, dikejutkan oleh badai virus. “Kapitalisme tidak bisa membayangkan masa depan yang melampaui dirinya sendiri yang bukan penjagalan. […] Demokrasi sosial sedang dipulihkan dengan tergesa-gesa, karena—memparafrase Bu Thatcher—there really is no alternative (benar-benar tidak ada alternatif).

Sejumlah 150 anggota keluarga kerajaan Saudi terkena virus. Bernie Sanders pensiun, Biden akan kalah dalam pemilihan, (atau mungkin tidak) jika pemilihan akan benar-benar diadakan. Delapan dokter meninggal di Inggris karena merawat pasien terkena virus. Mereka semua adalah orang asing: Pakistan, India, dari Mesir, India, Nigeria, Pakistan, Sri Lanka dan Sudan. Langit Delhi tampak bersih setelah bertahun-tahun tak pernah seperti itu. Di malam hari orang bisa melihat bintang-bintang.

Namun, Confindustria sedang terburu-buru untuk memulai lagi, bahkan jika berita yang datang dari China sama sekali tidak meyakinkan: meskipun Wuhan dibuka kembali, Heilongjiang ditutup. Pertarungan melawan coronavirus terasa seperti mencoba mengosongkan laut dengan ember—buka sini, tutup sana.

Mungkin seharusnya kita tidak bertarung sama sekali, karena kalah perang sejak awal. Kita harus meminimalkan gerakan kita, kita harus menerima bahwa hal-hal yang kita gunakan di zaman modern akhirnya habis.

Mereka yang membayar harga paling mahal adalah mereka yang paling percaya dan terus percaya pada kehendak manusia yang kekuatannya tidak terbatas.

Maklum bahwa laki-laki menginjak-injak, karena mereka ingin mengambil tongkat kerajaan kembali ke tangan mereka, mereka ingin mengatur masa depan mereka karena mereka percaya yang mereka lakukan di masa lalu begitu mulia. Tetapi, seperti yang diajarkan oleh virus kepada kita, kekuasaan tak terbatas itu adalah dongeng dan dongeng itu sudah berakhir.

By Kedai Resensi Surabaya

Resensi singkat dan segala macamnya. Dikelola oleh dua orang mahasiswa pegiat literasi dan berbasis di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *