Sowan, Bukan Blusukan

Film Nov 20, 2017

Pesan terakhir ialah pesan yang paling menarik, "Rakyat bisa menikmati hidupnya selama di memimpin," jenis walikota seperti ini lah yang seharusnya kita cari, bukan blusukan, tapi sowan.


Sutradara: Destian Rendra

Produser: Syahidan Z

Pemeran: Antonius Budi P, Siadi, Lendy Wahyono, dll.

Sekitar beberapa jam yang lalu penulis melihat sebuah video unggahan berdurasi lima menit di Linimasa Line, karena tidak ada pekerjaan lain dan badan masih dalam keadaan kurang sehat, maka diputarlah video tersebut. Awal terlihat kurang menarik karena isinya pembicaraan saja tanpa adegan aksi atau bertarung, namun memang bukan itu yang mau dituju oleh film pendek yang satu ini. Dibagi dalam tiga adegan yang menjelaskan kehidupan petani, pengepul dan penjual di pasar.

Permasalahan yang diangkat cukup lah sederhana, problematika pasar tradisional di Indonesia sehari-harinya. Film ini mengisahkan seorang Walikota yang menyamar menjadi penduduk biasa dan keliling kotanya untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakatnya. Ini kenapa judul film ini Sowan bukan Blusukan. Ia memulai perjalanannya dengan turun ke para petani yang merasa resah dengan kegiatan para pengepul. Mereka menganggap bahwa para pengepul selalu mendapat untung yang lebih tinggi dibanding para petani yang susah-susah menanam padi dengan modal yang tidak kecil.

Setelah bertemu petani, ia melanjutkan perjalanan dan nyangkruk dengan para pengepul. Ternyata tidak hanya petani yang berkeluh-kesah, bahkan pengepul pun merasa tidak tenang hidupnya dikarenakan harga sembako yang tidak pasti dan berapapun pendapat mereka, para pengepul harus setor 5%, entah kepada siapa, bagi mereka, susah hidup menjadi pengepul karena dimata masyarakat selalu dipandang buruk. Pemasukan mereka pun tidak tentu karena terkadang pedagang pasar tidak mau membeli barang dari mereka, dibeli pun masih harus dipotong komisi dan pembayaran oleh pedagang dilakukan setelah barang para pengepul laku terjual.

Dalam penggambaran si penjual di pasar, terlihat sedikit konflik yang muncul antara kelompok pedagang dengan seorang pengepul yang kesal karena pekerjaannya selalu dianggap buruk oleh khalayak umum. Para pedagang pun merasa dirugikan di pasar tradisional dan menganggap bahwa keuntungan hanya mengalir pada pengepul, si pengepul tidak sepakat karena tidak hanya mengirimkan barang, tapi mengumpulkan barang dari petani-petani juga sulit, belum lagi tawar menawar harga yang pas dan mereka pun mengambil untung sepantasnya untuk bertahan hidup dengan pekerjaan mereka yang dipandang sebelah mata.

Ternyata, permasalahan yang ada di ranah paling dasar pun kompleks penyelesaiannya, si Walikota pada akhirnya membuat kebijakan untuk harga tetap bagi sembako, sehingga baik petani, pengepul dan penjual dapat memperkirakan keuntungan yang mereka dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menggelontorkan program wajib belajar sembilan tahun. Acapkali mahasiswa sekarang berbicara begitu tinggi mengenai revolusi dan segala macamnya yang merupakan konflik horisontal antara “borjuasi” dan “proletar”, hingga mereka lupa bahwa di kalangan bawah sendiri, konflik vertikal seringkali terjadi dan belum dapat terselesaikan. Pesan terakhir ialah pesan yang paling menarik ialah “rakyat isok nikmati selama de’e mimpin” (rakyat bisa menikmati hidupnya selama di memimpin), jenis walikota seperti ini lah yang seharusnya kita cari, bukan blusukan, tapi sowan. (rez)

Reza Maulana Hikam

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.