Sosial-Demokrasi ala Anthony Giddens

Ekonomi Oct 08, 2017

Bagi kelompok sosdem, negara perlu untuk membenahi kehidupan keluarga-keluarga kurang mampu akibat kemiskinan sistematis yang dilakukan oleh kapitalisme.


Anthony Giddens - The Third Way

Judul Buku: The Third Way

Penulis: Anthony Giddens

Penerbit: Polity

Tebal Buku: 165 halaman

Tahun Terbit: 1999

Buku yang akan saya resensi kali ini cukup booming pada zamannya dan ditulis oleh salah seorang profesor dibidang sosiologi di London School of Economics (LSE). Si penulis mengikuti aliran yang bukan kanan maupun kiri, tapi tengah (centrist), ia adalah seorang pengajar yang mendukung keberadaan globalisasi dan mendorong percepatan globalisasi sebagai bentuk penyebaran ilmu pengetahuan. Beliau selalu melihat bahwa kiri memang tidak cocok berada di Inggris jika melalui jalur konfrontasi, maka dari itu, buku ini ditulis untuk mendamaikan baik kelompok neoliberal maupun kelompok Marxis dengan memperkuat Sosial-Demokrasi (sosdem).

Awalnya buku ini ditulis dengan tujuan untuk menggambarkan politik sosial-demokrat dimasa mendatang untuk menemui kesepakatan mengenai “Negara Kesejahteraan” (Welfare State) yang mendominasi negara-negara industri ditahun 1970an dan mendiskreditkan Marxisme layaknya sebuah pemikiran yang sudah usang. Menurut si penulis, Sosial Demokrasi tidak hanya bisa bertahan, namun juga bisa berkembang, baik secara teoritis maupun secara prakteknya, karena kelompok sosial demokrat lah yang mau melakukan revisi terhadap pandangannya jika memang ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Mereka bukan orang-orang kolot idealis melainkan orang-orang rasional dengan jiwa kemanusiaan tinggi (contoh: New Left, Fabian Society, Labor Party).

Beberapa dari karakteristik sosial-demokrasi klasik menurut Giddens ialah: campur tangan negara dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya, Negara mendominasi masyarakat, tidak melulu menggunakan sudut pandang Marx (seringkali menggunakan Keynes) dalam melihat permasalahan sosial dan ekonomi, modernisasi yang sejalur, kolektifisme. Peran pasar yang terbatas dan diatur oleh negara (bagi kelompok sosial-demokrat, pasar sangatlah liar, maka diperlukan ketegasan negara dalam membatasi kemampuan pasar dalam mendominasi ekonomi). Pemekerjaan secara penuh dimana pengangguran dianggap sebagai faktor utama munculnya ketidaksejahteraan dan kemiskinan di suatu negara dan penyedia lapangan kerja ialah negara dan sektor swasta. Adapun negara mewajibkan sektor swasta untuk memberi pekerjaan kepada masyarakat sekitar. Bagi kelompok sosdem, negara perlu untuk membenahi kehidupan keluarga-keluarga kurang mampu akibat kemiskinan sistematis yang dilakukan oleh kapitalisme. Itu kenapa mereka mengikuti Keynes yang menganggap fungsi negara adalah menstabilkan ekonomi dalam negeri (fungsi stabilisasi).

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa dilema yang dihadapi oleh kaum sosial demokrat, yakni globalisasi, individualisme, kelompok kanan dan kiri (sosdem sebenarnya berada ditengah-tengah), agensi politik dan permasalahan ekologi. Saya akan membahas mengenai agensi politik dari kelompok sosdem yang muncul pada abad kesembilanbelas, dimana pada waktu itu masih berupa gerakan massa yang lambat laun diawal abad keduapuluh mulai berubah menjadi partai politik agar dapat masuk kedalam lingkaran kekuasaan, bagi mereka membenahi sebuah sistem harus masuk kedalam sistem tersebut.

Dalam membuat partai, tujuan mereka adalah masuk kedalam pemerintahan dan mewujudkan tujuan utama dari negara: menyediakan perwakilan atas kepentingan yang berbeda-beda, menawarkan sebuah forum untuk mendamaikan kepentingan-kepentingan tersebut, membuat dan mempertahankan ruang publik untuk masyarakat, menyediakan barang publik yang bermacam-macam dalam bentuk keamanan dan kesejahteraan, mengatur pasar kedalam kepentingan publik dan meminimalisir monopoli yang dilakukan oleh pasar, mempromosikan pengembangan sumberdaya manusia melalui sistem pendidikan, menyokong sistem peradilan yang bersih dan efektif, melakukan intervensi baik ekonomi makro maupun mikro, memperkuat aliansi regional dan nasional untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Hal-hal tersebut adalah cita-cita kelompok sosial demokrat yang dijelaskan oleh Giddens dalam bukunya. Dan baginya, tujuan dan cita-cita itu dapat dimaknai dan diterapkan dengan cara yang berbeda-beda, bagi Giddens, jika pelaksanaan suatu program negara ialah demi kemaslahatan masyarakat, maka negara tersebut pasti menganut Welfare State dengan jenis Social-Democrat.

Buku ini ditulis oleh Giddens sebagai penengah untuk kelompok radikal kanan maupun kiri, neoliberal maupun marxis, meskipun dikritik secara luas oleh banyak intelektual lain, Giddens menganggap bahwa perdamaian ideologi bisa diterapkan selama tujuan ideologi-ideologi yang ada ialah untuk mensejahterakan umat manusia. (rez)

Reza Maulana Hikam

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.