Categories
Serba-serbi

RESET, Normalitas Tidak Boleh Kembali

Kita harus bertanya pada diri sendiri apa yang benar-benar berguna. Kata “berguna” harus menjadi alfa dan omega produksi, teknologi, dan aktivitas.

Pengantar (KRS)

Artikel ini adalah bagian kedua dari kronik psycho-deflation oleh Franco ‘Bifo’ Berardi yang terbit pertama kali di NERO. Diterjemahkan oleh A. Faricha Mantika dan Reza Maulana Hikam atas sepengetahuan penulis. Laiknya sebuah kronik, Bifo menuliskan sorotan menarik dari harinya, apa yang dipikirkan, direnungkan, atau dibaca pada hari ini. Pembaca dapat membaca kronik ini secara berurutan mulai tanggal 15 – 24 Maret atau secara acak dan mengandalkan daftar isi yang telah kami cantumkan di awal kronik dalam tiga laman.

Sebagai seorang filsuf, teoritisi, intelektual, figur ternama dari gerakan Autonomia Italia; tulisan-tulisan Bifo selalu bernas. Menghadirkan sentakan penuh tenaga pada cara pandang kita terhadap kapitalisme, serta menawarkan renungan yang cukup radikal mengenai apa yang dapat kita lakukan selama dan setelah pandemi.

Selamat menikmati.


Franco Berardi - RESET - Kedai Resensi Surabaya
Franco ‘Bifo’ Berardi (Foto: Eugenio Fernández)

15 Maret

Dalam keheningan pagi, beberapa merpati yang kebingungan memandang ke bawah dari atap gereja dan nampak tertegun. Mereka tidak dapat memahami hamparan kosong perkotaan yang mereka lihat. Demikian pula saya.

Saya membaca naskah pertama dari karya Jess Henderson, Offline, sebuah buku yang akan diterbitkan dalam beberapa bulan ke depan (setidaknya buku itu harus terbit, tapi siapa yang tahu). Hari ini, kata “offline” memperoleh makna yang filosofis: ialah cara untuk mendefinisikan dimensi fisik yang nyata dari, berlawanan dengan atau lebih baik disebut sebagai, pengurangan dari dimensi virtual.

Saya bertanya-tanya bagaimana hubungan antara online dan offline berubah selama pandemi, dan mencoba membayangkan apa akibatnya.

Dalam tiga puluh tahun terakhir, aktivitas manusia telah amat mengubah sifat hubungan, proxemic, dan kognitifnya: sejumlah besar interaksi telah berpindah dari dimensi fisik dan konjungtifnya—dimana pertukaran linguistik menjadi tidak tepat dan ambigu (dengan demikian dapat dimaknai secara tidak terbatas), dan setiap tindakan produktif yang mengkonsumsi energi fisik, ketika tubuh berhubungan dengan alur aktivitas konjungsi—menuju dimensi yang terkoneksi, dimana operasi linguistik dimediasi oleh mesin komputer dan karenanya bereaksi terhadap format digital. Setiap kegiatan produktif sebagian dimediasi oleh automatisme, dan orang-orang lebih sering berinteraksi meskipun secara fisik tidak pernah bertemu. Kondisi keseharian dari seluruh populasi telah semakin dirantai ke perangkat elektronik yang terkait dengan banyak data. Persuasi telah digantikan oleh pervasi, sedangkan psikosfer dipersarafi oleh infosfer. Sambungan ini mengandaikan keakuratan yang tak berambut dan bebas debu. Virus komputer mungkin dapat mengganggu atau mengalihkan keakuratan ini, yang tidak mengetahui ambiguitas tubuh fisik dan juga tidak menganggap ketidakakuratan sebagai suatu kemungkinan.

Sekarang, ini dia, agen biologis memperkenalkan dirinya ke dalam rangkaian kesatuan sosial, membuatnya meledak, dan memaksanya menjadi tidak aktif. Konjungsi, bidang yang sebagian besar telah direduksi oleh teknologi yang terkoneksi, adalah penyebab penularan. Bersatu dalam ruang fisik telah menjadi bahaya mutlak yang harus dihindari dengan cara apapun. Konjungsi harus dicegah secara aktif—jangan tinggalkan rumahmu, jangan kunjungi teman, jaga jarak dua meter, jangan sentuh apapun di jalan….

Apa yang kita alami di minggu-minggu ini adalah ekspansi besar-besaran dari waktu yang dihabiskan selama online, dan hal ini tidak bisa dilakukan sebaliknya karena hubungan emosional, produktif, pendidikan harus ditransfer ke bidang di mana seseorang tidak dapat bersentuhan atau bergabung. Setiap sosialitas yang tidak sepenuhnya dalam konektivitas tak lagi ada.

Lalu? Apa yang selanjutnya terjadi? Bagaimana jika koneksi yang berlebihan ini berakhir dengan pecahnya mantera?

Maksud saya, cepat atau lambat wabah ini akan hilang (jika hal ini benar terjadi, kata mereka yang Italia [hilangnya wabah] itu mungkin sekitar 25 April) bukankah kita cenderung menghubungkan secara psikologis kehidupan online kita dengan penyakit itu? Saya membayangkan ledakan gerakan kasih sayang yang spontan, mendorong sebagian besar populasi yang lebih muda untuk menutup layar konektivitas mereka, sebagai pengingat atas periode kesepian yang malang ini?

Saya mencoba untuk tidak menganggapnya terlalu serius, tetapi saya memang memikirkannya.

16 Maret

Bumi memberontak melawan dunia. Polusi terbukti berkurang. Satelit yang mengirimkan foto China dan Padania, sama sekali berbeda dari yang mereka kirim dua bulan lalu. Begitu terasa di paru-paru saya, yang belum pernah bernapas sedemikian baik selama sepuluh tahun terakhir, sejak saya didiagnosis menderita asma parah yang disebabkan oleh udara kota tempat saya tinggal.

17 Maret

Runtuhnya bursa saham begitu serius dan persisten, sehingga tidak layak lagi diberitakan.

Sistem bursa saham telah menjadi perwakilan dari realitas yang hilang: ekonomi permintaan dan penawaran tidak stabil, dan akan mengabaikan jumlah uang virtual yang beredar dalam sistem keuangan untuk waktu yang lama. Tetapi ini berarti bahwa sistem keuangan kehilangan cengkeramannya: di masa lalu, fluktuasi matematis menentukan jumlah kekayaan yang dapat diakses semua orang. Sekarang, mereka tidak lagi menentukan apapun. Sekarang, kekayaan tidak lagi tergantung pada uang yang kita miliki, tetapi pada apa yang menjadi milik kehidupan psikis kita.

Kita harus memikirkan penangguhan fungsi uang ini, karena mungkin ini adalah kunci untuk keluar dari bentuk kapitalis—untuk secara definitif memutuskan hubungan antara tenaga kerja, uang, dan akses sumber daya. Untuk menegaskan konsepsi berbeda tentang kekayaan, karena kekayaan bukanlah jumlah yang setara dengan uang yang saya miliki, tetapi kualitas hidup yang dapat saya alami.

Dampak COVID-19, resesi ekonomi
Foto: Reuters

Ekonomi memasuki resesi, tetapi kali ini kebijakan dukungan pasokan tidak terlalu berguna, apalagi kebijakan dukungan permintaan. Jika orang takut untuk pergi bekerja, jika orang mati, tidak ada tawaran yang bisa diajukan. Dan jika kita dikurung di rumah, tidak ada permintaan yang bisa dinaikkan—selama sebulan atau bahkan dua, tiga bulan….

Cukup dengan memblokir mesin, blokir yang akan memiliki efek permanen. Mereka yang berbicara tentang kembali ke normalitas, berpikir mereka dapat mengaktifkan kembali mesin seolah-seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Agar mesin bekerja kembali, akan menjadi masalah tentang menciptakan segalanya dari awal. Kita harus siap untuk mencegahnya berfungsi seperti yang telah dilakukan selama tiga puluh tahun terakhir: agama pasar, liberalisme privat harus dianggap sebagai kejahatan ideologis. Ekonom yang telah menjanjikan bahwa selama tiga puluh tahun terakhir solusi untuk penyakit sosial apapun adalah memotong pengeluaran publik dan privatisasi, akan terisolasi secara sosial jika mereka mencoba membuka mulut lagi, mereka layak diperlakukan seperti apa adanya: idiot yang berbahaya.

Selama dua minggu terakhir saya telah membaca buku Cara de pan dari Sara Mesa, Lectura facil dari Cristina Morales, dan Chanson Douce yang lempeng dari Leila Slimani yang mengerikan. Saya saat ini membaca Babine, seorang penulis Azerbaijan, ia berbicara mengenai Baku pada permulaan abad ke-20, tentang kekayaan dadakan yang diakumulasi melalui minyak dan keluarganya yang kaya raya, yang kehilangan segalanya selama revolusi Soviet.

Lebih pada soal kesempatan daripada pilihan, bahwa tahun ini saya hanya telah membaca penulis-penulis perempuan, mulai dari novel Djavadi yang mengagumkan yakni Disoriental, kisah mengenai kekerasan, pengasingan, kesepian dan nostalgia.

Tapi untuk saat ini, cukup dengan tragedi perempuan dan manusia. Cukup sudah. Jadi saya pergi dan mengambil bacaan yang lebih santai, Orlando Furioso sebuah pembacaan dari Italo Calvino. Ketika saya mengajar, saya selalu merekomendasikannya kepada anak-anak. Saya telah membaca beberapa bab. Saya telah membacanya sepuluh kali dan dengan senang hati membacanya lagi.

18 Maret

Beberapa tahun lalu, saya dan kawan saya, Max—terinspirasi oleh Mago, kawan saya lainnya, menerbitkan sebuah novel yang tidak tahu mau diberi judul apa. Kami suka judulnya KS atau Gerontomachia. Tapi pihak penerbit yang akhirnya harus menerbitkan buku itu (setelah, dapat dipahami, banyak yang menolaknya) memberi judul yang agak buruk namun jelas populer: Morte ai vecchi (kematian bagi orang tua). Penjualan bukunya tidak begitu bagus, tapi mengisahkan suatu hal yang kelihatannya masih sangat relevan bagi saya. Timbul sejenis wabah yang tidak dapat dijelaskan: anak laki-laki berusia 13-14 tahun membunuh para orang tua-tua, pertama beberapa kasus yang terisolasi menjadi semakin sering, dan pada akhirnya kasus itu terjadi di mana-mana. Saya akan memberikan rincian atau misteri teknis-mistik dari alurnya. Intinya adalah orang-orang muda memutuskan untuk membunuh orang tua karena mereka meracuni atmosfer dengan kesedihan mereka.

Malam ini terpikir oleh saya bahwa seluruh urusan virus korona ini dapat dibaca secara metaforis seperti itu: pada 15 Maret tahun lalu, jutaan anak perempuan dan laki-laki turun ke jalan sambil berteriak—engkau memberi kami sebuah dunia di mana kami tidak bisa bernapas, kau telah menjangkit atmosfer, sekarang sudah saatnya untuk menghentikannya, mengurangi konsumsi minyak dan batubara dan menurunkan tingkat debu-debu halus! Mungkin mereka berharap bahwa penguasa dunia akan mendengar permohonan mereka. Tapi seperti yang kita semua tahu, mereka kecewa: KTT Madrid pada bulan Desember, yang terakhir diantara banyak peristiwa internasional tentang perubahan iklim, hanyalah kegagalan lainnya. Emisi zat beracun tidak berkurang sama sekali dalam dekade terakhir, dan pemanasan global telah berkembang dengan baik. Perusahaan-perusahaan besar batu bara dan plastik tidak menunjukkan minat apapun untuk berhenti. Kemudian di beberapa titik, anak-anak marah dan membuat aliansi dengan Gaia, dewi yang melindungi planet bumi. Bersama-sama mereka meluncurkan pembantaian peringatan, dan orang-orang tua itu mulai mati seperti lalat.

Akhirnya semua berhenti. Setelah sebulan, satelit memotret tanah yang sangat berbeda dari sebelum gerontomachy.

By Kedai Resensi Surabaya

Resensi singkat dan segala macamnya. Dikelola oleh dua orang mahasiswa pegiat literasi dan berbasis di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *