PDB, Angka yang Berbahaya

Ekonomi Nov 23, 2017

Pada kisaran 1990an, PDB menancapkan kekuasaannya di benua Eropa melalui Traktat Maastricht.


Judul Buku: Problem Domestik Bruto

Penulis: Lorenzo Fioramonti

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal Buku: 220 halaman

Tahun Terbit: 2017

Selaras dengan mata kuliah yang saya ambil, buku ini membahas Produk Domestik Bruto (PDB) yang nantinya juga akan bertemu dengan Pembangunan. Secara garis besar PDB ini adalah angka-angka yang digunakan untuk menilai kesejahteraan suatu negara secara makro. Nilai dari PDB inilah yang menguasai kebijakan pembangunan di berbagai belahan dunia, terutama jika dilihat lebih jeli, negara-negara berkembanglah yang berlomba-lomba untuk meningkatkan PDB. Di bagian belakang buku dijelaskan secara singkat mengenai PDB, bahwa angka-angka tersebut juga berguna untuk akses terhadap tata kelola dunia. Akan tetapi, ternyata banyak kekurangan dari neraca kesejahteraan ini. Buku ini diterbitkan dalam usaha untuk menguak permasalahan dibalik PDB.

Bab awal dalam buku ini menjelaskan mengenai Sejarah PDB. Fioramonti berargumen bahwa usaha-usaha menghitung pendapatan nasional telah dilaksanakan sejak abad ketujuhbelas oleh orang Irlandia bernama William Petty. Yang melahirkan PDB ialah sebuah krisis mendunia yang kita kenal sebagai Depresi Besar pada tahun 1930an yang meremukkan perekonomian Amerika dan membuat para buruh dirumahkan setiap harinya. PDB lahir untuk menguji kondisi perekonomian nasional dengan nama Sistem Neraca Nasional (SNA). Dikala itu usaha tersebut muncul untuk mendorong perekonomian Amerika Serikat keluar dari krisis Depresi Besar dan mulai bersiap-siap untuk ekonomi dalam kondisi perang. SNA ini dipersiapkan oleh Simon Kusnetz, seorang ekonom berdarah Amerika-Rusia.

Tujuan utama Kusnetz dalam menjalankan program SNA ini adalah menghasilkan suatu ukuran agregat untuk merangkum produksi ekonomi, baik perseorangan, perusahaan maupun pemerintah menjadi satu angka tunggal. Banyak perdebatan mengenai muatan dalam SNA dan semakin lama semakin berevolusi menjadi PNB yang kelak akan digunakan secara luas, menjadi standar pertumbuhan ekonomi.

Pasca Perang Dunia Kedua, terbelah kedua kubu yakni Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Pada tahun 1988 mulai diterimalah sistem PNB ke dalam Negeri Tirai Besi tersebut. Dan dengan digunakannya PNB di dua poros besar, PBB mulai meng-global-kan PNB ke berbagai penjuru dunia, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Di tahun 1991, PNB resmi diubah menjadi PDB. Perubahan nama ini juga merubah muatan perhitungannya. Dulu, PNB hanya menghitung barang dan jasa yang diproduksi oleh penduduk suatu negara tanpa memperhatikan penghasilan tersebut dari dalam atau luar perbatasan negara tersebut. PDB membuat statistik negara-negara di dunia berubah total karena juga melingkupi pendapatan perusahaan multinasional dan makin memperlihatkan usaha dominasi negara-negara pusat terhadap negara berkembang. Inilah dimulainya permasalahan dalam PDB yang dipandang makin memiskinkan negara miskin.

Pada kisaran 1990an, PDB menancapkan kekuasaannya di benua Eropa melalui Traktat Maastricht. Sejak ini, pandangan ekonomi di Eropa yang sosial-demokrat mulai beralih kepada neoliberal. Tidak akan ada kebebasan jika PDB sebuah negara rendah, dan tata kelola pemerintahan supranasional setingkat Uni Eropa akan turun tangan untuk mengintervensi kebijakan ekonomi di negara terkait. Seperti kata penulis, “tiada peningkatan PDB, tiada pesta”. Kemampuan PDB dalam menghegemoni negara-negara di seluruh dunia membuatnya semakin ditakuti dan makin banyak yang mengikuti sistem ini untuk berlomba-lomba menjadi negara yang dapat dilabeli sebagai adidaya.

Semenjak PDB ini diterapkan di seluruh negara, muncul istilah-istilah seperti “emerging powers” atau kekuatan yang sedang naik daun. Beberapa negara yang mendapatkan panggilan seperti itu ialah BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina). Mereka adalah negara dengan kategori berkembang yang memiliki pertumbuhan PDB cukup pesat. Menurut teori sistem dunia, mereka adalah negara-negara semi-periferi. Perhitungan PDB tidak hanya meningkatkan perekonomian, namun status suatu negara secara geopolitik. G8 dan G20 pun mengikuti sudut pandang PDB dalam keanggotaannya. PDB lah sumber kesenjangan terbesar dan asal muasal munculnya golongan negara si kaya dan si miskin.

Secara keseluruhan, buku ini menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami dan memang cocok dibaca oleh khalayak umum, penerjemahnya pandai memilih kata sehingga pembaca tidak bingung dengan kalimat-kalimat yang digunakan. Dari segi penataan halaman terkesan rapi dibalut dengan sampul yang menarik. Adapun tambahan didalam buku ini berupa pembatas buku yang sederhana tapi berguna. Harga nya pun tidak mahal, dalam kisaran Rp. 60.000,00 sudah bisa mendapatkan satu eksemplar (untuk wilayah Surabaya sudah ada di C2O). Memang Marjin Kiri tidak pernah salah dalam menerbitkan buku-buku kritis. (rez)

Reza Maulana Hikam

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.