Pahlawan Eks-Digulis yang Hilang dalam Arus Sejarah

Politik Oct 01, 2019

Sejarah kita selalu melupakan orang-orang yang bernafaskan PKI, meskipun orang tersebut memiliki andil dalam merintis kemerdekaan.


Judul Buku: Thomas Najoan

Penulis: Petrik Matanasi

Penerbit: Ultimus

Tebal Buku: xii+84 halaman

Tahun Terbit: 2013

ISBN: 9786028331494

Beli buku ini dari harga asli IDR 35,000; diskon, tinggal IDR 28,000 di KB. MURBA (click)

Sejarah kita selalu melupakan orang-orang yang bernafaskan PKI, meskipun orang tersebut memiliki andil dalam merintis kemerdekaan. Para pejuang yang dibuang ke Boven-Digul rata-rata berpandangan komunis kalau tidak sosialis, sehingga mayoritas dari mereka tidak disebutkan namanya dalam buku pelajaran kita. Nama-nama itu harus kita telusuri sendiri dari berbagai sumber sejarah non-arusutama.

Apakah para pembaca yang budiman pernah mendengar kisah dari Aliarcham atau Thomas Najoan? Pastinya belum, kecuali saudara-saudari sekalian adalah sejarawan atau pecinta sejarah yang selalu ingin mencari figur-figur perjuang kemerdekaan selain elit politik kala itu. Nama-nama ini biasanya hanya dapat ditemukan dalam buku sejarah yang diterbitkan oleh penerbit independen, atau buku terbitan penerbit luar negeri.

Seperti buku ini, karya Petrik Matanasi, sejarawan muda yang progresif yang acapkali menuliskan kisah-kisah kecil seputar perjuangan kemerdekaan Indonesia atau cerita-cerita berkenaan dengan individu yang terlibas oleh pesatnya zaman. Seperti Thomas Najoan ini, kita tidak akan menemukannya di buku diktat sejarah untuk SD/SMP/SMA, kita hanya akan mengenalnya apabila mendalami sejarah lain dari Indonesia.

Najoan adalah pria kelahiran Langowan pada tahun 1893, kedua orang tuanya bukanlah orang miskin, bisa dibilang ia adalah kelas menengah kala itu karena mampu bersekolah. Meskipun dikemudian hari ia berhalauan komunis, kehidupan awalnya diwarnai oleh Kristen, dimana daerah kelahirannya memiliki penduduk yang mayoritas Kristen. Begitupula dengan keluarganya. Seperti banyak pahlawan perintis kemerdekaan lainnya, Najoan bisa berbahasa Inggris maupun Belanda.

Ia juga diceritakan pernah bergabung dalam Indische Partij. Kemungkinan besar, pemikiran sosialisme nya berkembang ketika dia bergabung dalam IP, sebelum datangnya Henk Sneevliet. Thomas Najoan sendiri merantau hingga Semarang di mana ia bekerja di Dinas Kesehatan Pemerintah Kolonial di kota pelabuhan itu. Menurut pengakuan Chalid Salim, saudara Agus Salim yang diasingkan ke Boven-Digoel, Thomas Najoan pernah bergabung dan menjadi pengurus dari Vereniging van Spoor-en Tramwegpersonnel (VSTP) atau Serikat Pekerja Kereta Api dan Tram.

Selain di VSTP, ia dikabarkan juga bergabung dengan Indische Sociaal-Demokratsche Vereniging (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). Bergabungnya Najoan dengan ISDV menandakan bahwa ia adalah komunis generasi awal. Dia sendiri juga merupakan kawan diskusi dari Henk Sneevliet, pendiri ISDV. Hal ini menandakan bahwa Thomas Najoan adalah seorang intelektual organisatoris.

Selain di ISDV dan VSTP, Najoan juga aktif di Persatoean Perserikatan Kaoem Boeroeh (PPKB) yang dibentuk SI dan ISDV, Ia menjadi sekertaris di sana hingga digantikan oleh Agus Salim. Orang ini juga pernah melanglang buana ke Shanghai dan Bombay sebagai pimpinan Serikat Buruh Galangan Kapal. Ia menjadi salah satu orang, selain Semaun, yang sangat aktif dalam gerakan pemogokan buruh.

Adapun ketika PKI terbentuk, Najoan juga tergabung di dalamnya. Hal ini dibuktikan ketika Najoan menjadi wakil dari PKI dalam Radical Concentratie pada 12 November 1922. Selama aktif dalam dunia pergerakan, terutama setelah dipecat dari Dinas Kesehatan Masyarakat, Najoan sering melakukan kritik terhadap pemerintah kolonial, yakni pemerintah tidak memiliki uang jika berkaitan dengan pendidikan tapi selalu memiliki dana apabila membeli peluru.

Najoan juga berkiprah di media massa yakni Oestoesan Minahassa sebagai pemimpin redaksi (pimred), dia juga menjadi pimpinan Nationale Minahasa Congres / NMC (Kongres Nasional Minahasa). Dengan track record sebagai aktivis semacam itu, Najoan gagal masuk ke dalam Minahasa Raad (Dewan Minahasa). Menjadi aktivis belum tentu menjamin kita akan menang dalam politik praktis.

Selama tahun 1920-an, kehidupan Thomas Najoan sangat dinamis, ia bergabung dengan berbagai macam organisasi, berjuang bersama buruh, merantau ke berbagai wilayah hingga membentuk sebuah kantor urusan hukum (Kantoor Najoan). Dengan posisi Najoan yang tidak memiliki pendidikan hukum yang resmi maka ia adalah pokrol bambu. Hal ini ia rintis ketika gagal masuk ke dalam Minahasa Raad.

Diperkirakan ia diasingkan ke Boven-Digoel pada tahun 1927, bersama “generasi” pertama Digoelis. Penjelasan tentang kehidupan Najoan di tanah pengasingan tersebut bisa dibilang melankolis karena siksaan berasal dari alam sekitar, kehidupan yang begitu sunyi, membuat orang yang konon kabarnya periang seperti Najoan merasa kesepian. Keadaan seperti ini yang membuatnya ingin melarikan diri. Dari sinilah julukan Si Raja Pelarian muncul.

Salah satu kegiatan yang dilakukannya selama di Boven-Digoel adalah mengajar anak-anak yang lahir dan besar di sana. Di sinilah Najoan berkenalan dengan Sutan Syahrir, di mana kisah-kisah tentang Najoan mengalir. Syahrir nampaknya masih mengingat tindak tanduk dan peringai dari Najoan melalui buku Petrik Matanasi ini.

Organisatoris satu ini berusaha melarikan diri tiga kali dari Boven Digoel, pertama menuju Thursday Island di Australia lalu dikembalikan oleh Pemerintah Australia ke Belanda, yang kedua, Najoan ditipu oleh Suku Bian yang tergiur oleh Tembakau pemberian Pemerintah Kolonial. Suku Bian memperlakukan Najoan dkk dengan baik, ketika melewati pemukiman mereka. Lalu diberikan ke pemerintah Belanda.

Yang terakhir membawanya kepada nasib naas, ia hilang tanpa jejak di belantara Papua. Konon kabarnya ia tertangkap oleh suku Kaya-Kaya Mappi yang masih kanibal saat itu. Sebagai salah seorang perintis kemerdekaan, Najoan menghilang namanya karena afiliasinya terhadap komunisme. Tapi kita harus ingat, PKI generasi 1920an berbeda jauh dengan PKI generasi pasca 1945. Generasi 1920-an lebih idealis dan totalitas karena mereka berjuang melawan pemerintah kolonial yang masih kuat, sedangkan PKI generasi 1945 sampai 1965 adalah PKI yang akan menjadi avonturis di gelanggang pemilu. (rez)

Beli buku ini dari harga asli IDR 35,000; diskon, tinggal IDR 28,000 di KB. MURBA (click)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.