Categories
Sastra

Novel Filosofis ala Kang Mahfud

Jangan terkecoh dengan sampul dan judulnya, kisah dalam buku ini sangat lah berharga untuk dibaca, apalagi diresapi tiap baitnya.

Judul Buku: Belajar Mencintai Kambing

Penulis: Mahfud Ikhwan

Penerbit: Mojok

Tebal Buku: x+179 halaman

Tahun Terbit: 2016

Kali ini saya ingin meresensi buku yang ringan sebagai usaha untuk rehat dari buku-buku pemikiran yang terlalu berat untuk dihadapi tiap waktu. Dari berbagai buku yang bisa digunakan untuk beristirahat dan mengisi kembali tenaga berfikir, novel merupakan pilihan terbaik. Novel pun punya berbagai macam kategori, entah horor, perjuangan, kisah cinta ataupun komedi, bahkan yang filosofis pun ada. Akhir-akhir ini Indonesia sedang marak dilanda novel bergenre cinta, sehingga corak perjuangan ala Pram pun tersingkirkan dari daftar novel yang harus dibaca pemuda. Namun, beberapa genre berusaha mengimbangi kebangkitan kisah cinta ini, salah satunya adalah komedi. Mojok adalah salah satu diantara beberapa penerbit yang bisa dibilang asik dalam memilih penulis yang akan diterbitkan oleh mereka, susah juga nulis kreatif, tapi buat mereka yang tembus Mojok, tidak ada keraguan padanya.

Konon, buku yang akan saya resensi ini adalah karya penulis yang mulai naik daun di Indonesia. Beliau mendapatkan juara 1 Sayembara Menulis Novel dari Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2014. Beberapa karyanya juga diterbitkan oleh penerbit lain, seperti Dawuk yang diterbitkan oleh Marjin Kiri dan blognya yang dibukukan oleh EAbooks dengan judul Aku dan Film India Melawan Dunia. Jujur saja, saya pribadi sangat mengagumi karya-karyanya yang berbahasa renyah. Paling tidak apa yang dia angkat bukanlah sekedar romansa anak sekolahan yang sensasional dan penuh quotes akan tetapi sesuatu yang bernilai filosofis namun ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Si penulis buku bahkan dikisahkan dalam salah satu artikel Mojok yang penulisnya adalah Tarli Nugroho.

Jika sebelumya saya menjelaskan bahwa novelis Indonesia sekarang kerap mendayu-dayu, maka beda sekali dengan Bang Mahfud. Dalam novelnya yang berjudul “Belajar Mencintai Kambing” ini berisi tujuhbelas cerita dalam tiga bagian, yakni: Belajar, Mencintai dan Kambing. Cerita-cerita yang dia kisahkan pun kerap membuat kita berpikir sejenak dan menghayati bahwa memang ada hal-hal kecil dalam hidup ini yang tidak tersentuh oleh pikiran kita yang melangit. Salah satunya dalam kisah Kubukan Wungkal. Kisah tersebut merupakan tulisan yang ia sadur dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Bertempat di suatu daerah yang memiliki kubangan air besar yang disebut kobokan wungkul, kubangan tersebut merupakan tempat penduduk sekitar mencuci alat kerjanya (pekerjaan warga sekitar kebanyakan petani). Mitos yang menyebar mengenai tempat itu ialah barangsiapa mengeluh di kobokan wungkul maka dia akan menjadi gila.

Entah benar atau tidak, karena mitos itu yang menyebar, maka banyak orang yang tidak berani mencoba kebenaran mitos tersebut. Lalu dikisahkan ada seorang mahasiswa yang sedang KKN atau apa (tidak jelas apa yang ia lakukan di tempat itu), melihat ada seseorang yang duduk di pinggir kobokan wungkul dan melakukan kegiatan yang berbeda dengan penduduk lainnya. Bilamana orang lain mencuci perkakas kerjanya, orang tersebut menulis! Perbedaan ini sungguh dikagumi oleh mahasiswa tersebut, karena di lingkungan ia belajar (Perguruan Tinggi), menulis merupakan hal yang mulia. Akan tetapi, orang lain mengingatkan dia untuk tidak mendekatinya, mereka mengatakan bahwa dulu, orang itu merupakan tukang potong rumput buta huruf yang pernah marah kepada anaknya di pinggir kobokan wungkul karena bukannya membawa perkakas untuk memotong rumput, malah membawa bolpoin, dari situlah ia mulai hilang akalnya. Namun kisah semacam ini tidak dipercaya dengan mudah oleh seorang mahasiswa terpelajar, ia menganggap bahwa lelaki tersebut dianggap gila karena melakukan hal yang berbeda dengan penduduk lainnya. Masuklah penjelasan filosofis oleh penulis cerita mengenai makna kegilaan.

Si mahasiswa tidak menghiraukan sedikitpun peringatan warga sekitar, ia tetap bersikukuh untuk mendekati dan jika beruntung, mengajak bicara si penulis di pinggir kobokan wungkul itu. Ia memandang lelaki tersebut layaknya patung Rodin, benar-benar ia agungkan orang itu. Ternyata orang yang dianggap gila menoleh dan berkata padanya. Ia tidak sepakat bila mahasiswa membawa sabit, menurutnya mahasiswa itu membawa bolpoin. Beberapa kalimat yang diutarakan orang gila itu seketika menjadi seperti kritikan terhadap para mahasiswa. Tidak hanya sampai disana, bahkan si gila itu mengejar si mahasiswa dan seketika tulisan dalam kisah ini layaknya memang sedang ditulis oleh si mahasiswa itu sendiri.

Kisah tesebut saya ambil dari halaman 37 yang merupakan salah satu dari kisah paling menarik dalam buku ini. Saya pribadi tidak mampu menuliskan sejelas dalam cerita, karena tulisan ini adalah resensi, bukan usaha untuk plagiat. Dari kisah kobokan wungkul itu, yang paling saya garis bawahi adalah bagaimana masyarakat itu menganggap orang lain gila hanya karena berbeda. Masalah seperti ini kerap kita lakukan, terutama dengan cara menggunjing orang yang dianggap gila atau aneh. Kisah tersebut hanyalah sepenggal dari banyak kisah lain yang lebih menakjubkan. Sosok antagonis dan protagonis sendiri tidak terlalu diperlihatkan, karena ini novel komedi filosofis, bukan novel perang. Saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini, terutama bagi kalian yang merasa sepi dan sunyi hidupnya. Jangan terkecoh dengan sampul dan judulnya, kisah dalam buku ini sangat lah berharga untuk dibaca, apalagi diresapi tiap baitnya. (rez)

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *