Mesir Bangkit Bangun Demokrasi

Politik Aug 05, 2017

Mesir ialah negara periferi pertama yang berusaha bangkit dihadapan kapitalisme dunia.


Samir Amin - The Reawakening of the Arab world

Judul Buku: The Reawakening of The Arab World

Penulis: Samir Amin

Penerbit: Monthly Review Press

Tebal Buku: 240 halaman

Tahun Terbit: 2016

Arab Spring adalah sebuah momentum sejarah besar di Timur Tengah yang dimulai pada tahun 2011. Ternyata permasalahan itu ada sangkut pautnya pada Gerakan Non Blok dan KTT Asia-Afrika di Bandung. Sejak dekade tersebut, orang-orang arab selalu ada digarda depan perlawanan sipil, untuk bangsa dan negara di Selatan untuk masa depan yang lebih baik dan mengurangi ketidakadilan di dunia. Bahkan dalam kemerdekaan Indonesia pun salah satu  arab pula yang memberi dukungan (Mesir).

Gerakan yang berada di Jazirah Arabia adalah bagian penting dari gerakan-gerakan yang melawan kapitalisme imperialis dalam skala dunia. Namun kegagalan dalam pergerakan membuat negara-negara Arabia berada distatusnya sekarang sebagai negara periferi yang patuh terhadap negara pusat, melarang mereka untuk naik tingkat menjadi partisipan aktif dalam membentuk dunia ini. Pastinya ada perbedaan di negara-negara Arabia dalam bicara pergerakan, ada yang sangat dinamis dan adapula yang statis, dan salah satu contoh yang dinamis adalah Mesir.

Mesir ialah negara periferi pertama yang berusaha bangkit dihadapan kapitalisme dunia. Bahkan diawal-awal abad kesembilan belas, jauh sebelum Jepang dan Cina, Wakil Raja Mohammed Ali sudah mengeluarkan program untuk memperbaiki Mesir dan daerah sekitarnya. Eksperimen berat tersebut menghabiskan 2/3 dari abad kesembilanbelas dan berakhir pada Rezim Khedive Ismail pada kisaran tahun 70an. Tidak bisa dipungkiri bahwa kegagalan program tersebut juga dikarenakan serangan dari Inggris Raya, kekuatan kapitalisme industrial pada zaman itu. Tiga kali Mesir berusaha ditundukkan pada tahun 1840 dengan penyebuan laut, 1870 dengan mengganggu keuangan dari Rezim Khedive Ismail dan pada 1882 diduduki secara militer dengan satu tujuan: untuk menundukkan Mesir. Dikalahkan, Mesir terpaksa menjadi negara pinggiran yang diperbudak oleh Inggris hampir 40 tahun (1880-1920) yang dimana kelembagaannya diubah sedemikian rupa menjadi seperti bentuk kapitalis imperialis di masa itu.

Bangsa Mesir, rakyatnya, tidak pernah sekalipun menerima posisi mereka sebagai budak. Penolakan yang keras ini menjadi sebuah gerakan lanjutan yang muncul setengah abad kemudian. Gerakan ini memiliki tiga tujuan utama: demokrasi, kemerdekaan Bangsa Mesir dan kemajuan sosial. Momen pertama saat pergulatan emansipasi selama setengah abad di Mesir, menekankan bahwa dengan pembentukan Wafdis pada tahun 1919, adanya modernisasi politik dengan mengadopsi demokrasi konstitusional ala borjuis dan merebut kembali kemerdekaan. Bentuk demokrasi yang dipilih memperbolehkan adanya sekularisasi terjadi dalam bentuk simbol (Bendera Mesir), adanya pemilihan umum dimana kelompok minoritas seperti Kristen Koptik bisa dipilih oleh kaum muslimin bahkan menempati posisi-posisi strategis dalam pemerintahan.

Sebagai reaksi dari munculnya Kaum Wafdis dengan pembaharuan mereka, Inggris mendukung keberadaan monarki di Mesir beserta para tuan tanah dan orang-orang kaya dimana mereka akan melawan kemajuan-kemajuan sosial yang dibawa oleh Para Wafdis. Pada tahun 1930a, Mesir dibawah kedikatatoran Sedki Pasha melakukan tekanan dengan menghilangkan demokrasi konstitusional yang langsung dihadang oleh gerakan pelajar sebagai garda depan dalam menjunjung perhelatan demokrasi yang anti-imperialis. Untuk melawan gerakan ini, Inggris melalui kedutaannya di Mesir mendukung pembentukan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1927 yang diinspirasi oleh pemikiran Salafi (bentuk pemikiran paling terbelakang dari Wahabisme) yang diformulasikan oleh Rashid Reda. Gerakan ini adalah versi paling reaksioner, anti-demokrasi dan juga anti kemajuan sosial dari Politik Islam.

Memang pergulatan untuk menjadi negara demokratis di Arab sangat banyak dan Mesir telah menjadi contoh nyata akan perjalanan tersebut. Tidak sedikit pula peperangan terjadi di Timur Tengah dan Arab Spring yang menelan banyak korban hanya untuk satu tujuan: DEMOKRASI. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.