Menguak Warisan Neoliberal Milton Friedman

Politik Jan 18, 2018

Friedman memperkirakan bahwa hal yang cepat, tiba-tiba, dan ruang lingkup pergeseran ekonomi akan memancing reaksi psikis di wilayah publik yang ‘mendukung penyesuaian’.


Judul buku: The Shock Doctrine

Penulis: Naomi Klein

Penerbit: Penguin Books

Tebal buku: 558 hlm

Tahun terbit: 2007

Resensi kali ini barangkali bukanlah dari buku terbitan paling baru. Tetapi buku ini termasuk buku penting untuk memahami cara kerja kapitalisme Amerika Serikat. Semua bermula dari temuan Naomi Klein terhadap pola pikir Milton Friedman, pemikir neoliberal yang merancang bangunan kapitalisme Amerika Serikat. Ia juga yang menjadi penasihat kebijakan ekonomi diktator Chile, Pinochet, Perdana Menteri Inggris, penguasa Rusia, menteri keuangan Polandia, direktur Dana Moneter Internasional, beberapa presiden Amerika Serikat, dan tiga pimpinan Federal Reserve Amerika Serikat. Sebagai seorang jurnalis, dalam menulis buku ini Klein dituntun dengan intuisinya untuk mengungkap fakta dibalik naiknya kebijakan pro-kapitalis di masa krisis.

Istilah ‘the shock doctrine’ mengemuka bukan tanpa alasan. Tahun 2005, ketika badai Katrina mengguncang Amerika Serikat, beberapa politisi dan pengusaha memandang ini sebagai kesempatan untuk ‘bekerja sama’ membenahi New Orleans, salah satu area terdampak badai. Terutama pembenahan sistem perumahan rakyat dan pendidikan. Tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa pembenahan itu akan berujung pada peningkatan proyek perumahan dan kondominium. Dampak badai yang meluluhlantakkan perumahan dan fasilitas umum dipandang sebagai proses ‘pembersihan’ terhadap sistem sosial-ekonomi di wilayah New Orleans yang telah lama dicap gagal.

Berada di tengah-tengah pengungsi di Louisiana, Klein mendengar langsung berbagai ungkapan kemarahan dan kekecewaan terhadap pernyataan Richard Baker, anggota kongres Republikan, yang dengan tenang menyebut bencana itu sebagai pembersihan yang dilakukan Tuhan. Dampak dari badai Katrina membuka kesempatan baru untuk memulai semuanya dari awal dengan sistem yang lebih baik.

Salah seorang yang juga melihat adanya kesempatan dibalik tragedi ini adalah Milton Friedman. Ia menyebut ini sebagai kesempatan untuk mereformasi sistem pendidikan New Orleans secara radikal. Gagasan radikal Friedman ialah, daripada pemerintah Amerika Serikat menghabiskan uang untuk membangun dan menata kembali sistem sekolah negeri di sana, lebih baik masyarakat diberikan voucher pendidikan untuk bersekolah di sekolah swasta. Uang yang tadinya hendak digunakan untuk membangun sekolah negeri, dialirkan untuk mensubsidi sekolah swasta. Sehingga, setelah badai Katrina banyak charter school bermunculan. Yakni sekolah yang didanai pemerintah atau bersama dengan publik, tetapi dijalankan oleh swasta.

Bagi Friedman, adanya sekolah gratis merupakan campur tangan yang tidak adil dalam pasar. Di tengah kebingungan akibat badai, kebijakan akan diambil berdasarkan gagasan-gagasan yang mengemuka disekitar masa bencana. Solusi Friedman ini di kemudian hari akan menjadikan hal yang secara politik tidak mungkin menjadi hal yang tidak terelakkan lagi.

Kolaborasi pemerintah dan swasta dalam membangun kembali daerah terdampak bencana tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Sri Lanka, Klein menemui manuver serupa. Begitu ada tragedi bencana alam, para politisi, pengembang, dan pakar akan saling berhubungan. Membicarakan berbagai kesempatan yang menguntungkan ditengah hiruk-pikuk kebingungan negara. Inilah metode yang telah lama menjadi pilihan perusahaan untuk mempercepat tujuannya: menggunakan momen trauma kolektif untuk terlibat dalam gerak radikal perubahan sosial dan ekonomi. Sementara orang-orang yang terdampak bencana berpikir bagaimana membangun kembali apa yang dahulu mereka punya, para kapitalis tidak tertarik untuk membenahi apa yang sebelumnya ada. Ruang publik dan kekuatan komunitas melemah di masa bencana.

Setelah mengamati apa yang terjadi di Chile, Sri Lanka, New Orleans dan beberapa wilayah yang dilanda bencana, Klein melihat ada pola manuver sosial-ekonomi yang sama. Ia menemukan bahwa gagasan untuk mengeksploitasi krisis dan bencana sudah menjadi modus operandi Milton Friedman sejak lama. Bentuk kapitalisme fundamentalis Milton Friedman selalu membutuhkan bencana terlebih dahulu. Ia mempelajari ini dari krisis di Chile. Ketika ia menyarankan pemotongan pajak, perdagagan bebas, privatisasi pelayanan, memotong pengeluaran sosial dan deregulasi pada Pinochet.

Perubahan yang dibawa Friedman dan pengikutnya dikenal sebagai revolusi ‘Kampus Chicago’ (Chicago School). Friedman memperkirakan bahwa hal yang cepat, tiba-tiba, dan ruang lingkup pergeseran ekonomi akan memancing reaksi psikis di wilayah publik yang ‘mendukung penyesuaian’. Metode yang diakuinya sebagai taktik yang menyakitkan ini disebut “shock treatment”ekonomi. Pandangan Friedman ini selanjutnya diterapkan oleh pemerintah yang hendak menerapkan sistem pasar bebas, metode terapi kejut (shock therapy) ini menjadi pilihan. Artinya, bencana atau krisis bisa direkayasa untuk meluncurkan suatu sistem atau kebijakan baru. Inilah mengapa Klein menyebutnya sebagai ‘shock doctrine’.

Tahun 2017 lalu, ketika sebagian wilayah Amerika Serikat mengalami kerusakan akibat musim badai Atlantik, analisis Klein dalam buku ini kembali mengemuka. Buku ini adalah bacaan umum untuk memahami bencana yang dibawa oleh kapitalisme melalui gagasan eksploitasi bencana alam dan krisis (shock doctrine). Dengan kemampuan jurnalismenya, Klein mampu membawa kita untuk memahami setiap peristiwa dengan jeli. Sistem ekonomi yang dibawa oleh pasar bebas seolah menawarkan kebebasan yang selalu didambakan dunia kita saat ini. Klein ingin menekankan bahwa meskipun gagasan Friedman sebagian dapat diletakkan dalam proses yang demokratis, tetapi untuk penerapannya secara penuh butuh pemimpin bertangan besi. (ich)

A Faricha Mantika

Currently pursuing a bachelor degree in Political Science at Airlangga University. Reviewing book about Islam, political economy, political philosophy, technology, and IoT.