Categories
Islam

Mengenal Transoxiana dan Sumbangannya terhadap Peradaban Islam

Bisa dibilang bahwa Asia Tengah atau Transoxiana adalah wilayah yang dinamis secara politis dalam perebutan kekuasaan yang cukup berdarah.

Judul buku: Islam di Asia Tengah

Penulis: Muhammad Abdul Azhim Abu An-Nashr

Penerbit: Al-Kautsar

Tebal buku: xv+356 Halaman

Tahun terbit: 2009

ISBN: 9789795927655

Pesan buku ini di KB. MURBA seharga Rp68,000 (sudah diskon dari harga asli Rp78,000).

Peradaban Islam sangatlah merentang dari tempat kelahirannya di jazirah Arab, meluas ke Timur Tengah, masuk ke wilayah-wilayah bekas kekuasaan Bizantium dan Persia lalu menyebar ke Asia Selatan, Afrika Utara, hingga Asia Tengah. Wilayah terakhir ini adalah apa yang akan dibahas oleh penulis buku ini. 

Nampaknya, wilayah yang dulunya bernama Transoxiana ini terpecah menjadi beberapa negara seperti Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Wilayah ini, menurut penulis, adalah wilayah yang subur di mana lahannya dapat digunakan untuk apa saja, mulai dari beternak, bertani hingga berdagang (karena masuk ke dalam jalur sutera). Telah bangkit dan runtuh banyak kerajaan di wilayah ini, tidak terlepas juga baik nomaden dan masyarakat menetap juga berkumpul di wilayah ini. 

Transoxiana pula adalah tanah air dari jenderal muslim terkenal, Timur Lenk (Tamerlane). Menghilangkan Transoxiana dalam pengenalan sejarah Islam sama dengan menghilangkan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan peradaban Islam, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kekuatan ekspansinya.

Biar saya mulai dari Timur Lenk terlebih dahulu. Timur Lenk memiliki masa kecil yang diperdebatkan, yang pasti nama “Timur” berarti “Besi”, tapi kebanyakan menyepakati bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengan orang Mongol. Ada yang mengatakan bahwa ia mempunyai hubungan kekerabatan dengan Jenghis Khan sendiri. Banyak pula yang mengutarakan bahwa ia bukanlah orang yang suka bersenda gurau, perangainya selalu serius. 

Timur Lenk tidak pernah menggunakan gelar sultan selama hidupnya, lebih memilih menggunakan gelar amir setelah berhasil melakukan penaklukan dan menguasai seluruh Transoxiana dibantu oleh Tokhtamysh Khan, keturunan Jenghis Khan yang berkuasa atas Kabilah Emas (Golden Horde). Tokhtamys sendiri pada akhirnya berkhianat dan peperangan di antara Tokhtamysh dan Timur Lenk sampai kepada wilayah Lithuania, di mana Adipati Agung Vytautas membantu Tokhtamysh melawan Timur. Dalam pengejarannya terhadap Tokhtamysh, Timur dan pasukannya menghancurkan beberapa kota terkenal seperti Astrakhan, Sarai dan Azov.

Selain pertarungannya dengan Tokhtamysh, Timur juga menaklukan pasukan India di bawah Shah Tughlugh. Meskipun menggunakan pasukan gajah yang ditakuti seantero Asia Tengah-Selatan, Timur berhasil memenangkan peperangan dan menghancurkan Delhi, sehingga kekuasaannya tidak hanya Transoxiana, tapi juga meliputi wilayah India. Selain itu, ialah keturunan dari Timur Lenk lah yang bernama Babur yang membangun imperium Muslim terkuat di India, Kekaisaran Mughal. 

Namun, kemenangan besarnya adalah di Ankara, di mana ia mengalahkan salah satu pasukan yang paling ditakuti bahkan oleh Eropa, Kekaisaran Utsmani, di mana ia menawan Sultannya, Bayezid sang Halilintar. Perseteruan di antara kedua amir dan sultan ini sudah ada semenjak lama, di mana mereka masih bertukar surat yang saling mengolok-olok. Timur menganggap bahwa Dinasti Saljuk lah yang berhak menguasai Anatolia, karena mereka telah diberi mandat sebagai vasal bangsa Mongol di Anatolia. Terlepas agamanya Islam, Timur masih mempercayai akan kejayaan Mongol, seringkali ekspansinya dibandingkan dengan ekspansi Jenghis Khan dan keturunannya.

Dinasti Timuriyah yang dibangun oleh Timur Lenk runtuh setelah ia meninggal, di sisi lain, Utsmani masih bertahan selama berabad-abad kemudian, dan mereka masih melakukan penaklukan hingga wilayah Bulgaria, Serbia, Bosnia, Wallachia dan Hungaria. Bahkan kekuatan Utsmani di Anatolia pun tidak melemah, mereka juga mampu mengalahkan pasukan Dinasti Mamalik yang berhasil menghantam laju pasukan Mongol di Ain Jalut. Pada akhirnya Utsmani diberi gelar sebagai “Kekhalifahan” Utsmaniyah, satu-satunya yang bukan berdarah Arab, berbeda dengan Kekhalifahan Abbasiyah dan Umayyah sebelumnya.

Kembali kepada Transoxiana. Selain Timur Lenk, wilayah ini sempat dikuasai oleh banyak kekaisaran, termasuk Iskandar al-Maqduni (Alexander dari Macedonia), bangsa Tartar dan Mongol, beserta daulah-daulah lainnya yang jatuh bangun di wilayah tersebut. Bisa dibilang bahwa Asia Tengah atau Transoxiana adalah wilayah yang dinamis secara politis dalam perebutan kekuasaan yang cukup berdarah. Abdul Azhim menjelaskan semua ini dengan menekankan kepada peristiwa dan nama sehingga mudah dipahami. Sejarah yang ia bahas pun berkaitan dengan awal kebangkitan wilayah Transoxiana ini, baik sebelum masehi maupun sesudah masehi. Nampaknya, wilayah ini didominasi oleh penduduk badui/nomaden yang terbiasa menggembala karena wilayah yang subur dan berdekatan dengan sungai yang dikenal oleh barat sebagai Oxus (Transoxiana: setelah sungai Oxus).

Setelah membahas mengenai Transoxiana di masa sebelum Islam, penulis pastinya mengulas bagaimana Islam masuk ke wilayah tersebut. Ia menyebutkan beberapa nama orang Muslim yang menaklukan Asia Tengah seperti Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari, Ubaidillah bin Ziyad, dan Umayyah bin Abi Abdillah. 

Setelah penaklukan dijelaskan, penulis menguraikan bagaimana munculnya dinasti-dinasti politik Muslim yang otonom di wilayah Transoxiana/Asia Tengah, salah satunya adalah daulah yang terkenal di wilayah anatolia sebelum Utsmani: Daulah Seljuk (Salajiqah). Daulah ini pun pada kehancuran Abbasiyah akibat invasi pasukan Mongol memilih untuk menjadi negara abdi dari Mongol sehingga tidak turut dihancurkan, meskipun pada akhirnya penolakan banyak terjadi kepadanya sehingga memunculkan banyak “ghazi” (pejuang suci) yang bergabung di bawah Osman the Bone-Breaker, pendiri Kekhalifahan Utsmaniyah.

Pembahasan mengenai Asia Tengah ini cukup didominasi oleh bangsa Turk, mulai dari halaman awal hingga pembahasan mengenai pusat-pusat perdagangan di Asia Tengah. Nampaknya Turk (Turki) mengacu tidak hanya kepada satu negara tapi sebuah bangsa yang tersebar di beberapa wilayah seperti Asia Tengah, Asia Selatan (di bawah Muhammad Ghor), Timur Tengah hingga Eropa nantinya. Timur Lenk sendiri merupakan orang Turko-Mongol (berdarah Turki dan Mongol), hingga konfederasi Cuman-Kipchak bernama Cumania atau Desht-i-Qipchaq di bagian Timurnya dikuasai oleh rombongan orang Kipchak yang memiliki asal-muasal dari bangsa Turk.

Buku ini sangat menarik karena menyingkap kisah peradaban yang ada di wilayah yang jarang dibahas mengenai ke-Islaman (mayoritas didominasi Timur Tengah, Afrika Utara, dan Andalusia) yakni Asia Tengah. Di wilayah itu Islam berbaur dengan kebiasaan orang-orang badui dan menjadi kekuatan dominan hingga sekarang. (rez)

Pesan buku ini di KB. MURBA seharga Rp68,000 (sudah diskon dari harga asli Rp78,000).

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.