Categories
Politik

Mengenal Penguasa Media Massa di Indonesia

Buku ini mengulas lebih dalam mengenai konglomerasi televisi yang mendapatkan keuntungan dari perkembangan teknologi.

Judul Buku: Kuasa Media di Indonesia

Penulis: Ross Tapsell

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal Buku: viii+298 halaman

Tahun Terbit: Oktober 2018

ISBN: 978-979-1260-81-7

Media massa maupun media sosial, cetak maupun digital, arus-utama maupun non-arus-utama, media adalah sumber informasi bagi penduduk Indonesia. Tiap rumah di penjuru negeri khatulistiwa ini pasti memiliki sumber informasi berupa koran, majalah, televisi, radio, smart-phone berinternet, laptop atau komputer. Bayangkan, seberapa berkuasa mereka yang memegang sumber saluran informasi tersebut.

Bicara mengenai kekayaan, pemilik media pasti digolongkan orang kaya di Indonesia, akan tetapi apakah mereka berkuasa dalam panggung politik? Atau sekedar berfokus pada bagian ekonomi dalam media massa? Hal ini menjadi pertanyaan besar yang masih jarang diulas secara mendalam oleh para pakar dari luar negeri yang biasanya lebih tertarik kepada kebudayaan dan permasalahan politik di Indonesia.

Buku ini menjadi salah satu buku kajian media terbaru yang muncul di tahun 2018 dan segera menjadi bestseller di toko buku. Bahkan termasuk laris manis di salah satu toko buku dan perpustakaan independen di Surabaya, C2O. Di tambah dengan penulis yang rela berkeliling untuk mengisi bedah bukunya. Marketing marjin kiri yang kerap melakukan bedah buku kolaboratif dengan berbagai komunitas menjadi salah satu alasan buku-bukunya menjadi favorit para aktivis.

Lalu apa sebenarnya yang diulas oleh Ross Tapsell hingga bukunya habis di berbagai toko buku? Simak resensinya sebagai berikut.

Pada bagian awal, penulis menjelaskan tentang oligarki media massa yang dicontohkan sebagai Rupert Murdoch, pemilik berbagai media di berbagai belahan dunia. Media milik Murdoch memiliki keunikan yakni berfokus kepada dinamika lokal di suatu negara. Tanpa memegang jabatan, jejaring media yang dimiliki Murdoch berpihak kepada salah satu kandidat apabila suatu negara sedang dilanda tahun politik.

Berbeda dengan di Indonesia, yang menurut Tapsell, para pemilik media memiliki afiliasi politik secara langsung dan tidak jarang yang menduduki jabatan-jabatan tertentu di pemerintahan. Meskipun berbeda dengan gaya pemilik media Barat semacam Murdoch, mereka disertakan dalam buku ini sebagai pembanding bagaimana pemilik media mengalokasikan sumberdayanya berupa kekuasaan dan pengaruh medianya.

Penulis juga berargumen bahwa pemilik media kerap masuk panggung politik untuk memperluas modal politik mereka, terutama di negara yang bersistem multi-partai. Caranya dengan membangun partai politik sendiri. Kita dapat melihat bahwa di Indonesia, beberapa pemilik media memang membangun sendiri partainya, sudah jarang yang ikut dengan partai lain.

Kalimat yang menarik dalam bagian pendahuluan pada halaman 13 yang menjelaskan bahwa kapitalis media di Indonesia turut mengembangkan bisnisnya melalui perkembangan teknologi dan pada waktu yang bersamaan juga membeli kompetitornya. Media kecil yang kekurangan modal pada akhirnya akan dilahap oleh konglomerat media, sehingga industri media hanya dipegang oleh segelintir orang saja.

Segelintir orang ini yang menjadi pemaknaan oligark. Di Indonesia, Oligarki telah menjadi fokus pembahasan yang dibawa oleh Richard Robison, Vedi Hadiz dan Jeffrey Winters. Dengan media dikuasai oleh para oligark, maka semua berita yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dapat dikendalikan sesuai keinginan si pemilik media.

Tapsell mengutarakan bahwa analisis media di Indonesia tidaklah baru, Imagined Communities karya Benedict Anderson juga melihat nasionalisme yang berkembang melalui media-media pada era pergerakan, yakni surat kabar atau koran. Selain suratkabar, adapun radio yang turut membantu kemerdekaan Indonesia dan membuat Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi radio nasional pertama yang dimiliki Indonesia.

Platform media lainnya adalah televisi yang berkembang pada era Orde Lama. Pada saat itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI) dikontrol oleh pemerintah guna menyiarkan Asian Games dan menjadi alat pemersatu Bangsa Indonesia. Setelah Orla runtuh dan digantikan oleh Soeharto, TVRI tetap dipegang oleh Pemerintah Indonesia, namun dengan standar yang lebih ketat, hanya menyiarkan pesan-pesan pemerintah saja.

Penguasaan privat saluran televisi dimulai pada tahun 1987 dengan berdirinya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) yang dikendalikan Bambang Trihatmojo, lalu Surya Citra Televisi (SCTV) yang dimiliki oleh Sudwikatmono, lalu Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) mendirikan PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan PT. Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) didirikan oleh Agung Laksono, Nirwan Bakrie dan Abu Rizal Bakrie. Pengusaha Cina seperti Anthony Salim mendirikan Indosiar. Pada bagian para pembaca akan mulai diajak masuk ke dalam gurita kekuasaan media di Indonesia.

Dengan berkembangnya satelit televisi swasta, maka kekuasaan atas media tidak lagi terpusat pada negara, melainkan para elit yang dekat dengan Pak Harto, meskipun kuasa atas berita masih dipegang oleh pemerintah. Karena tidak adanya desentralisasi perihal pemberitaan, orang semacam Peter Gontha mengakali dengan caranya sendiri untuk membuat berita terselubung. Munculnya konglomerasi televisi disebut sebagai fasilitator dari terbentuknya struktur baru dari pemilik televisi swasta.

Internet menjadi gebrakan baru yang menjadi pesaing media seperti surat kabar, radio dan televisi. Meskipun awalnya hanya bisa diakses oleh segelintir orang, internet sekarang sudah menjamur dimana-mana. Hampir seluruh orang memiliki ponsel yang dapat mengakses internet, media digital telah menjadi ruang kontestasi antara elit dengan warganet. Digitalisasi membawa juga demokrasi dalam masyarakat kontemporer Indonesia.

Buku ini mengulas lebih dalam mengenai konglomerasi televisi yang mendapatkan keuntungan dari perkembangan teknologi, dimana radio justru jatuh pamornya. Kita pasti kenal Chairul Tanjung yang Trans Corp nya mewarnai hidup televisi Indonesia, dengan membeli detik.com dan bekerjasama dengan CNN untuk membangun CNN Indonesia, Chairul Tanjung turut mempekuat konglomerasi dagangnya, televisi dengan saluran yang sangat banyak kerap bersanding dengan koneksi internet dalam perdagangan.

Selain Chairul Tanjung, nama yang juga disebut dalam buku ini adalah Hary Tanoesoedibjo dengan Global Mediacom nya dan Aburizal Bakrie dengan ANTV & TvONE nya. Mereka pun membuat perluasan platform media yang sangat menggurita dan tanpa kita sadari, hampir semua saluran media yang kita nikmati memiliki keterkaitan dengan partai politik tertentu. Afiliasi politik media massa memang tidak bisa dipungkiri.

Buku ini menyuguhkan analisis media pula yang pertama kali dalam kajian media peneliti luar negeri. Pandangan Ross Tapsell akan membuat terkejut bahwa tidak ada yang netral di dunia panggung media. Relasi antara kekuasaan kepartaian dalam bingkai politik dicampur dengan analisis ekonomi media menghasilkan karya klasik Indonesianis baru. Buku ini menjadi sumbangsih baru dalam kajian ekonomi-politik media massa Indonesia kontemporer. Dengan harga yang murah dan bahasa yang mudah, menjadikan buku ini pantas di baca siapapun, tidak hanya pengamat media. (rez)

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.