Menemukan Kembali Nama Islami dalam Kajian Sosiologi

Islam Apr 19, 2019

Syed Farid Alatas menjelaskan bahwa dalam pandangan Ibnu Khaldun, asabiyah menjadi sangat penting dalam mempertahankan kekuasaan.


Judul Buku: Applying Ibn Khaldun

Penulis: Syed Farid Alatas

Penerbit: Routledge

Tebal Buku: xvi+207 halaman

Tahun Terbit: 2014

ISBN: 978-0-415-67878-0

Beberapa hari terakhir, saya menemukan infografis yang mendalami tentang Ibnu Khaldun dari organisasi mahasiswa yang berbasis di Jogjakarta. Kajian-kajian yang mereka lakukan nampaknya memang mulai mengangkat Ibnu Khaldun sebagai salah satu sosiolog yang patut menjadi rujukan awal para mahasiswa sosiologi di universitas manapun. Pemikir muslim tersebut layaknya tertimbun oleh kemegahan perkembangan pemikiran Barat.

Setelah berabad-abad menghilang dalam dunia akademik (sosiologi), Ibnu Khaldun dihidupkan kembali oleh seorang Profesor Sosiologi di National University of Singapore (NUS) bernama Syed Farid Alatas. Nama Alatas memang tidak asing bagi mereka yang kerap membaca karya-karya Syed Hussein Alatas alias S.H. Alatas. Farid adalah anak dari almarhum S.H. Alatas. Keduanya memiliki kertertarikan yang sama mengenai perkembangan keilmuan di dunia Islam, dan buku ini memang dipersembahkan Prof. Farid untuk mendiang ayahnya. Tidak seperti Vedi R. Hadiz, Syed Farid Alatas bukanlah orang yang terkesima dengan ide-ide Barat, namun lebih memilih untuk menggali khazanah-khazanah sosiologi dari pemikir Islam.

Penulis menjelaskan di awal bukunya, bahwa Ibnu Khaldun adalah salah satu akademisi yang kerap tidak dihiraukan, pandangan-pandangannya terpinggirkan. Memang benar dalam kasus ini, apabila para pembaca mencari buku daras tentang sosiologi, maka nama-nama yang tertera dalam buku itu adalah: Auguste Comte, Emile Durkheim, Max Weber, Talcott Parsons, Niklas Luhmann, sampai dengan yang paling mutakhir: Anthony Giddens.

Padahal, konsep Ashabiyah yang dibawa oleh Ibnu Khaldun dapat menjelaskan perkembangan dan penurunan legitimasi maupun kekuatan dari sebuah negara. Karyanya yang paling monumental adalah Muqaddimah yang merupakan kitab klasik yang mengulas tentang permasalahan-permasalahan sosial di Jazirah Arab. Ibnu Khaldun sendiri membagi masyarakat menjadi dua: mereka yang hidup dengan cara nomaden (berpindah-pindah) disebut sebagai bedouin dan mereka yang menetap (sedentary).

Masyarakat Bedouin atau baduy lebih kuat dibanding dengan sedentary, karena baduy selalu menghadapi alam yang keras. Kebanyakan dari masyarakat baduy adalah seorang penggembala atau pemburu, sehingga ketahanan mereka jauh lebih kuat ketimbang masyarakat yang menetap. Menurut Farid, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa bentuk mata pencaharian yang membedakan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya dan juga berhubungan dengan jumlah kekayaan. Masyarakat yang awalnya hidup tidak menetap dan menjadi penggembala, apabila menjadi kaya, mereka akan menetap dan mengadopsi budaya sedentary.

Masyarakat yang menetap maupun nomaden tidak hanya hidup berdampingan dan saling berinteraksi, namun ada fakta bahwa masyarakat yang menetap dulunya adalah masyarakat baduy, maka ada pula hubungan historis diantara keduanya. Ibnu Khaldun menganggap bahwa orang yang menetap dulunya merupaka orang baduy yang sudah berkecukupan sehingga tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kelompok nomaden pun lebih baik secara moral ketimbang masyarakat yang menetap. Hal ini diungkapkan oleh Farid dalam bukunya, karena masyarakat nomaden akan menahan diri untuk menggunakan barang-barangnya sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan masyarakat yang menetap lahir dari kebudayaan berkecukupan dan suka akan kemewahan.

Adapun perbedaan lainnya dari kedua jenis masyarakat ini adalah keberanian. Masyarakat yang menetap disebuah wilayah sudah terbiasa dengan kemewahan sehingga, menurut Farid, memiliki kehidupan yang berkemudahan. Akan ada pihak berwenang yang menjaga keamanan mereka yang dibarengi dengan pembagian kerja untuk memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, kelompok baduy kekurangan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat yang menetap, mereka membutuhkan senjata untuk berburu dan perlindungan diri.

Masyarakat nomaden/baduy juga memiliki kelebihan dibidang asabiyah. Konsep asabiyah ini adalah konsep yang unik dari Ibnu Khaldun, biasanya diartikan sebagai kohesi sosial, kesamaan nasib, jiwa korsa yang pastinya lebih kuat dalam masyarakat baduy. Asabiyah ini yang memfasilitasi aktivitas sosial dan mekanisme perlindungan dalam masyarakat yang berpindah-pindah tempat tinggalnya. Dari konsep ini, maka muncul sebuah pemimpin superior dengan asabiyah terkuat, yang memiliki kewenangan maupun kesetiaan dari anggota lainnya dalam sebuah kelompok masyarakat.

Kelemahan dari masyarakat yang menetap disebuah wilayah adalah ketergantungan berlebih mereka terhadap hukum yang berlaku. Sifat alamiah dari masyarakat semacam ini adalah mayoritas dari penduduk akan dikuasai oleh minoritas elit. Hukuman yang bertujuan untuk menegakkan hukum/peraturan-perundangan akan menghancurkan keteguhan masyarakatnya karena penghinaan yang mengikuti penegakan hukum tersebut, dampaknya adalah rasa malu.

Kelemahan di atas tidak dimiliki oleh kaum baduy karena mereka mengandalkan kemampuan mereka daripada hukum. Namun, Farid juga mengutip dari Ibnu Khaldun, bahwa pengikut Nabi Muhammad S.A.W adalah orang-orang yang tunduk kepada peraturan namun memiliki keteguhan yang kuat. Hal ini dikarenakan kemampuan mereka untuk menahan diri dari internal diri mereka sendiri sebagai hasil dari kepercayaan dan agama mereka (Islam).

Ulasan selanjutnya yang diberikan Farid Alatas dalam buku ini berkenaan dengan asabiyah yang dibagi menjadi tiga bentuk: hubungan darah/kekeluargaan (silat al-rahim), hubungan patron-klien (wala’), dan aliansi (hilf). Asabiyah terkuat terdapat pada jenis pertama, hubungan darah yang membentuk rasa solidaritas begitu kuat, namun apabila hubungan kekerabatan menurun dan dianggap tidak penting, maka hubungan patron-klien dan aliansi akan mengambil alih kekuasaan. Kekuasaan yang didasarkan pada hubungan kekerabatan akan membentuk sebuah dinasti, dimana asabiyah nya akan sangat kuat, karena pemimpinnya benar-benar dalam satu kelompok yang sama.

Ketika sebuah dinasti berada pada puncak kekuasaannya, mereka akan meminggirkan asabiyah yang telah memfasilitasinya untuk menuju pada kekuasaan tersebut. Hal ini terjadi karena ketika seseorang mencapai puncak kekuasaan, ia akan menaruh kelompoknya (keluarganya) pada posisi-posisi penting dalam pemerintahan, namun dengan pemberian tersebut, maka kelompoknya menjadi musuh potensial untuk menggulingkannya, sehingga sang pemimpin merasa perlu untuk menjadi independen dari asabiyah ini, pada akhirnya menggantikan orang-orang tersebut dengan klien (merubah bentuk asabiyah silat al-rahim menjadi asabiyah wala’).

Ibnu Khaldun melihat kemewahan sebagai halangan dalam memimpin karena kehilangan kebiasaan dari hidup keras di padang pasir secara nomaden, sehingga asabiyah ataupun keteguhan dan keberaniannya perlahan memudar. Pada akhirnya, para baduy yang berubah menjadi penduduk tetap di suatu wilayah akan merasakan kemewahan dan kehilangan identitas mereka. Orang-orang tersebut akan menjadi tamak akan kekuasaan dan berusaha menyingkirkan siapapun yang dianggap berpotensi untuk merebut tahtanya. Kekuasaan inilah yang mengikis asabiyah (jiwa korsa, rasa persamaan nasib).

Kombinasi paling kuat adalah gabungan antara asabiyah dan agama yang menghasilkan semangat yang bahkan bisa membuat pasukan menjadi berani mati dan mengalahkan musuh yang berlipat-lipat lebih banyak jumlahnya. Dalam teorinya, Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa agama dapat menjadi pendukung untuk mempekuat kekuasaan dan kewenangan yang di dapat sebuah dinasti dari asabiyah nya.

Syed Farid Alatas menjelaskan bahwa dalam pandangan Ibnu Khaldun, asabiyah (jiwa korsa, rasa akan kesamaan nasib, dan kohesi sosial) menjadi sangat penting dalam mempertahankan kekuasaan, karena membentuk kemampuan manusia dalam bekerjasama untuk mencapai kepentingan ummat. Teori tentang asabiyah ini dipinggirkan oleh pandangan-pandangan akademisi modern yang kebarat-baratan dan hanya menganggapnya sebagai pelengkap wacana sosiologi apabila melihat studi kasus di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Buku ini sejenis dengan karya Muhammad Haniff Hassan dari Nanyang Technological University (NTU) yang mengulas pemikiran Abdullah Azzam dalam bukunya The Father of Jihad: Abd Allah Jihad Ideasand Implications to National Security, namun lebih menekankan kepada pandangan-pandangan Jihad yang dibawa oleh Abdullah Azzam, sedangkan Syed Farid Alatas menekankan kepada pemikiran sosiologi dari Ibnu Khaldun. Keduanya memberikan biografi intelektual mengenai pemikir dunia Islam, namun dari kiblat yang bisa dibilang berseberangan.

Saya sangat menyarankan buku Applying Ibn Khaldun: The recovery of a lost tradition in sociology ini untuk menjadi buku pegangan di Departemen Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga. Membawa sebuah pandangan baru (yang sebetulnya lama) untuk diulas. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.