Categories
Administrasi Publik Politik

Memahami Birokrasi, Sebuah Pengantar Singkat

Guna meningkatkan efisiensi, maka harus dihilangkan hubungan intim yang bersifat interpersonal dan jika sudah masuk ranah administrasi, maka profesionalitas yang dijunjung.

Judul Buku: Birokrasi dalam Masyarakat Modern

Penulis: Peter M. Blau dan Marshall W. Meyer

Penerbit: Penerbit Universitas Indonesia

Tebal Buku: xiii+237 halaman

Tahun Terbit: 1987

Ada pepatah bahasa inggris yang berbunyi Old but Gold. Benar juga ternyata pepatah itu. Terkadang dalam memahami sesuatu kita membutuhkan penjelasan yang instan, dan buku-buku era 80an menyuguhkan penjelasan semacam itu. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya mengulas buku yang terkategori usang ini. Yang membuat orang akan tertarik pada buku ini adalah kata Birokrasi dan Modern yang ada di sampul bukunya. Belum lagi diterbitkan oleh Universitas Indonesia, yang tak lain biasanya menerbitkan buku daras. Memang benar, setelah dibaca cukup lama, kita akan tahu bahwa buku ini merupakan textbook mengenai birokrasi diabad keduapuluh. Sudah terlalu panjang basa-basinya, lalu apa isinya? Akan saya jelaskan mulai paragraf dibawah ini.

Dimulai dengan pernyataan negatif, yakni pandangan buruk orang terhadap birokrasi yang terkesan selalu berbelit-belit. Kekolotan dari birokrasi menjadi trauma psikis bagi masyarakat umum. Bahkan di Indonesia, tidak jarang uang administrasi dalam birokrasi merupakan kata lain dari uang suap kepada para aparat negara. Penghalang terhadap kebahagiaan dalam hidup ialah birokrasi yang berbelit dan menyusahkan. Namun menurut kedua orang ini, bukan itu birokrasi. Pemaknaan negatif diatas hanyalah interpretasi terhadap birokrasi itu sendiri. Lalu apa sejatinya birokrasi itu? Bagi mereka berdua, birokrasi merupakan organisasi yang dirancang untuk banyak orang yang sedang melakukan tugas administratif secara sistematik dan bertujuan untuk mengefisienkan administrasi, meskipun birokratisasi terkadang menciptakan hal yang sebaliknya, namun itu bukanlah tujuan utama birokrasi.

Lalu organisasi apa saja yang disebut birokrasi? Semua organisasi yang memuat unsur administrasi dan ditata sedemikian rupa dengan peraturan yang ada. Pada suatu titik, birokrasi dapat menjadi alat yang kuat bagi kelompok yang berkuasa untuk melakukan dominasi terhadap kelompok-kelompok lain yang lebih inferior (terutama jika negara yang disebut sebagai birokrasi itu). Birokrasi yang merupakan sarana administrasi yang besar juga rasional memiliki kemampuan berbuat baik maupun buruk. Organisasi ini memegang kunci dalam pencatatan dan penjagaan berkas-berkas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Di era modern ini, birokrasi diharapkan menjadi sarana untuk mewujudkan distribusi pendapatan dan pengaruh warga negara. Prasayarat untuk mengembangkan taraf hidup adalah perbaikan administrasi yang paling utama. Kita lihat saja, sekarang, orang membutuhkan BPJS demi meringankan beban pembayaran saat berobat, dan didalam BPJS sendiri sarat dengan syarat administratif yang harus dipenuhi.

Dalam pelaksanaan birokrasi sendiri, individu harus memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu sehingga ada pembagian tugas yang cukup jelas (ini adalah paradigma lama yang dituliskan dalam buku ini). Adapun dalam sebuah organisasi besar, yang memiliki banyak pegawai, ketidakefisienan terjadi akibat lemahnya komunikasi dari manajemen tingkat atas yang berupa perintah, turun sampai kepada level pekerja teknis. Di antara penyaluran perintah ini, pasti ada perubahan penyampaian perintah yang dapat berimplikasi pada perbedaan interpretasi dan membuat jalannya organisasi tersebut tidak efisien.

Agar tidak terjadi tumpang tindih (overlapping), maka penting dibuat sebuah peraturan mengenai tugas pokok dan fungsi (dalam pemerintah kita menggunakan perundang-undangan). Aturan ini wajib dipatuhi guna mencegah adanya overlapping tersebut. Selain itu, peraturan ini dibuat bertujuan untuk menyelaraskan gerak antar tiap individu dalam sebuah organisasi, agar mereka tidak bertabrakan saat mengerjakan sesuatu. Bahkan Blau dan Meyer sendiri mencontohkan ada penemuan baut dan mur yang berusaha mengefisienkan pembuatan mobil, namun gagal akibat ketidaktaatan terhadap peraturan dan juga tidak adanya komunikasi antar penemu tersebut, meskipun dalam satu perusahaan.

Menurut dua penulis buku ini, administrasi dalam sebuah birokrasi tidak boleh dipengaruhi oleh emosional orang yang ada didalam birokrasi tersebut. Guna meningkatkan efisiensi, maka harus dihilangkan hubungan intim yang bersifat interpersonal (antar manusia, hubungan intim disini tidak bicara mengenai seks, namun hubungan adik-kakak, anak-bapak yang mempengaruhi promosi maupun seleksi dan rekrutmen) dan jika sudah masuk ranah administrasi, maka profesionalitas yang dijunjung. Kita akan mengambil seseorang dalam sebuah spesialisasi terhadap jabatan yang dibutuhkan demi efisiensi berjalannya organisasi. Kedekatan boleh digunakan landasan apabila orang yang akan diangkat atau dimasukkan kedalam sebuah jabatan juga memiliki kompetensi di jabatan tersebut. Namun pandangan semacam ini yang membuat birokrasi selalu dicap tidak memiliki hati. Memang tidak, karena birokrasi mengutamakan rasionalitas sebagai landasan geraknya.

Kemunculan sistem birokrasi sendiri ditandai dengan perkembangan teknologi juga praktek administrasi dalam sebuah organisasi. Namun untuk perubahan struktur dalam birokrasi akan sangat lambat karena sebuah organisasi cenderung berpegang atas azas-azas awal didirikannya organisasi tersebut. Lemahnya kepekaan terhadap perkembangan teknologi yang mampu membantu perkembangan birokrasi menjadi bumerang terhadap teori birokrasi itu sendiri dan menjadi alasan munculnya stigma buruk terhadap birokratisasi. Karena itu, untuk mengubah birokrasi suatu organisasi, acapkali dilakukan pendekatan sosiologis guna memahami masyarakat didalam organisasi tersebut.

Dari buku ini kita tidak bisa menafikkan bahwasanya birokrasi dan organisasi lahir dari rahim pemikiran sosiologi kontemporer yang berkembang diabad kesembilanbelas (1800an). Penting rasanya buku ini dibaca oleh para calon administrator dalam pemerintahan agar mampu memahami mengenai seluk-beluk birokrasi yang terkadang dipahami sangat minim oleh masyarakat luas. Buku ini merupakan pengantar menjalankan birokrasi dengan efisien yang hampir seluruh bab didalamnya menjelaskan secara substansial mengenai birokrasi. (rez)

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.