Memahami Arena Pertarungan Budaya dari Revolusi Aljazair

Sosial-Budaya Apr 03, 2018

Revolusi kemerdekaan di Aljazair telah mengubah struktur dan tatanan masyarakatnya menjadi benar-benar anti-kolonialis.


Judul Buku: Algerian Sketches

Penulis: Pierre Bourdieu

Penerbit: Polity

Tebal Buku: 390 halaman

Tahun Terbit: 2013

Sebagai seorang antropolog maupun sosiolog sejati, seseorang pastinya akan menuliskan sebuah karya ilmiah mengenai keadaan suatu bangsa, negara, wilayah atau suku di suatu daerah. Levi-Strauss selaku bapak antropologi modern, sudah sering melakukan hal tersebut. Bagaimana dengan Pierre Bourdieu tersohor? Alumni Ecole Normale Superiure ini pernah menetap pada tahun 1950an di Aljazair dan meneliti tentang masyarakatnya. Dalam penelitiannya, ia terjebak dalam peperangan di sana. Aljazair dan Kabylia merupakan pusat penelitiannya, disanalah pemikiran-pemikiran etno-sosiologi muncul. Dari tempat itulah, antropologi mulai menemukan jiwanya. Di tempat itulah ia melihat peperangan yang tidak lagi politis, namun memang benar-benar perang untuk mempertahankan diri. Buku inilah yang menjadi hasil pengamatan dan penelitiannya selama menetap di Aljazair, saya akan mencoba untuk meresensinya sedikit.

Pasca perang kemerdekaan Aljazair, menurut Bourdieu, membuat masyarakatnya saling bertarung satu sama lain. Revolusi kemerdekaan di Aljazair telah mengubah struktur dan tatanan masyarakatnya menjadi benar-benar anti-kolonialis namun membawa dampak baik berupa peningkatan minat membaca dari masyarakatnya. Mutasi budaya yang terjadi berupa perlawanan terhadap budaya-budaya yang dianggap sebagai hasil dari kolonialisme. Mereka menjadi negara yang kolonialphobik. Revolusi yang terjadi menimbulkan jarak antara penjajah dan yang dijajah semakin jauh dan membuat dua kubu ini semakin bermusuhan (lebih tepatnya masyarakat Aljazair yang memusuhi). Namun Bourdieu tidak menyalahkan masyarakat Aljazair yang masih mau menerimanya, karena dia datang hanya untuk belajar, bagi beliau, kolonialisme selalu datang diikuti oleh peperangan.

Namun, keberadaan kolonialisme yang ia jelaskan dari kasus Aljazair adalah munculnya kasta penjajah dan kasta terjajah. Pastinya untuk memperkenalkan inferioritas kepada kasta terjajah, maka kasta penjajah perlu melakukannya dengan paksaan. Paksaan yang dimaksud oleh Bourdieu disini ialah dengan kekerasan fisik maupun psikis. Untuk itu, perdamaian merupakan sebuah ancaman terhadap keberadaan kolonialisme itu sendiri. Kolonialisme harus selalu menggunakan kekerasan dan peperangan sebagai alat penekannya. Tanpa kekerasan dan paksaan, maka kasta terjajah akan melakukan perlawanan dalam bentuk revolusi guna menghilangkan status inferior mereka. Sistem kolonial harus dilawan secara radikal dengan cara melakukan revolusi prinsip-prinsip yang dibawanya dan dihilangkan dari tempat dimana revolusi itu terjadi, dalam kasus ini, Aljazair.

“Perang di Aljazair bukanlah peperangan suci, akan tetapi usaha dalam merebut kebebasan, perang ini tidak didasari pada kebencian akan tetapi pergulatan terhadap sistem yang menekan, peperangan ini bukan mengenai Arab melawan Prancis, ataupun Islam melawan Kristen”. Kalimat tersebut merupakan propaganda yang keluar ketika perang revolusi Aljazair bergulir. Kata-kata disana adalah propaganda yang sebenarnya menunjukkan karakteristik asli dari revolusi itu sendiri. Propaganda itu merupakan kebenaran yang dibalik, karena dalam peperangan itu, kubu muslim dari Aljazair dan kelompok kristen dari Prancis lah yang memang sedang berperang.

Jika bicara mengenai revolusi untuk kemerdekaan, permasalahannya tidak sedangkal mengenai pergulatan ekonomi borjuis dan proletar. Perang kemerdekaan adalah perang gagasan dalam skala masif dimana satu gagasan berusaha membentuk sistem dan yang lainnya pun melakukan hal yang sama untuk melawan gagasan satunya. Dalam kemerdekaan pun kita bicara mengenai pembentukan identitas suatu bangsa. Peperangan tersebut akan menentukan identitas bangsa pemenang sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, sebuah status yang rela direbut dengan darah.

Pada awal-awal masa setelah kemerdekaan, resistensi terhadap budaya-budaya kolonial masih terasa dan mereka berusaha mengilustrasikan identitas sendiri. Mereka (Penduduk Aljazair) berusaha menentukan identitasnya dalam bentuk bahasa yang mereka gunakan, pakaian adat mereka, kebiasaan yang dilakukan mereka. Mereka sudah pasti menolak mentah-mentah segala hal yang berbau kolonial. Bahkan penolakan mereka ialah terhadap seluruh peradaban Barat (Eropa). Akan tetapi, lambat-laun, mereka akan menerima nilai-nilai dan budaya dari Barat sebagai sesuatu yang baru, karena generasi sudah berganti. Bourdieu bahkan menjelaskan bahwa pemuda Aljazair yang hidup lama setelah perang revolusi, akan menyukai budaya Eropa dan berusaha menggabungkan identitasnya dengan identitas orang barat. Penduduk Aljazair sendiri sekarang sudah menyebar ke berbagai negara dan banyak budaya yang masuk ke Aljazair dan berusaha untuk berintegrasi dengan budaya Aljazair.

Bourdieu memformulasikan pandangannya mengenai revolusi Aljazair ini sebagai sesuatu yang layak untuk diperbincangkan. Ia berusaha untuk menguak pertarungan budaya antara penduduk Aljazair dengan para penjajah dari Prancis. Pertarungan budaya ini menghasilkan phobia sementara yang akan surut dengan berjalannya waktu. Namun pastinya sisa-sisa dari kebudayaan kolonial itu masih ada, terutama mental jajahan pastinya tersisa, tetapi Bourdieu adalah antropolog dan sosiolog, bukan seorang psikolog atau psikoanalis. Ia akan lebih membahas mengenai arena pertarungan budaya yang terjadi ketimbang mentalitas penjajah dan jajahan.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Bourdieu juga wawancaranya dengan Mouloud Mammeri, seorang penulis Kabyle mengenai relasi kekuasaan dan bahasa, juga perbincangannya Franz Schulteis berkenaan dengan fotografi. Dalam buku ini pula ada penjelasan refleksif mengenai definisi dari antropologi yang dilengkapi dengan suratnya kepada Andre Nouschi. Buku ini sebenarnya menarik, penggunaan bahasanya bisa dibilang tergolong advance dan tebal bukunya membuat kita sedikit malas untuk mengangkat atau membawa buku ini. Adapun penjilidan yang terlalu ketat akan membuat kita kesusahan dalam membuka bukunya. Belum lagi spasi yang berdempetan membuat mata agak sedikit mengantuk, tapi semua itu adalah perjuangan yang pas untuk sebuah ilmu pengetahuan dari Boudieu. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.