Marhaenisme, Ideologi asal Indonesia

Politik Sep 14, 2019

Sayuti Melik ternyata seorang yang lebih dari sekedar pengetik naskah proklamasi, ia juga wartawan dan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI).


Judul Buku: Antara Marhaenisme dan Marxisme

Penulis: Sayuti Melik

Penerbit: Kendi

Tebal Buku: 103 halaman

Tahun Terbit: 2018

ISBN: 97860225130328

Beli buku ini dari harga asli IDR 50,000; diskon, tinggal IDR 40,000 di KB. MURBA (click)

Marhaenisme. Banyak organisasi di Indonesia menyatakan azas atau ideologi yang dianutnya ialah Marhaenisme, banyak pula orang yang mengaku Marhaenis. Kata tersebut sepertinya menjadi kebanggaan orang Indonesia kepada dunia, sebuah sumbangsih dalam perkembangan pemikiran dan ideologi dunia.

Presiden Soekarno sebagai pencetus Marhaenisme tidak melakukan monopoli terhadap ideologi tersebut, melainkan hanya memberi nama terhadap sebuah pemikiran yang memperlihatkan realitas masyarakat Indonesia, sebuah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).

Beberapa bahkan membuat tulisan dan buku untuk menjelaskan apa itu Marhaenisme seperti Asmara Hadi, Aslama Nanda Rizal, Retor A.W. Kaligis, bahkan pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik. Nampaknya Marhaenisme memang pemikiran yang menarik untuk dituliskan dan dikaji secara akademis.

Sayuti Melik ternyata seorang yang lebih dari sekedar pengetik naskah proklamasi, ia juga wartawan dan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Melalui buku ini, bisa dibilang bahwa Sayuti Melik adalah ideolog PNI yang suaranya didengarkan oleh para petinggi partai. Kerap memberikan saran dan arahan tentang bagaimana pemahaman Marhaenisme yang searah dengan kepentingan Bangsa Indonesia dan pemikiran Sukarno.

Artikel pertama dalam buku ini membandingkan pemahaman Marhaenisme dari Partindo dan PNI. Partindo yang digawangi oleh Asmara Hadi beranggapan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan di Indonesia, sedangkan PNI lebih menekankan kepada nasionalismenya. Ada dialektika yang cukup berat dalam artikel pertama ini, sampai pada titik Marhaenisme manakah yang mewakili pikiran Sukarno.

Terlepas ada penerimaan Marxisme sebagai metode ilmiah, PNI tidak menerima falsafah Marxisme sepenuhnya. Marhaenisme sendiri lebih memiliki kecenderungan dengan nasionalisme, bukan Marxisme. Marhaenisme adalah nasionalisme yang memiliki bumbu Marxisme, Islam dan pemikiran-pemikiran lainnya. Tampak sedikit penolakan Sayuti apabila Marhaenisme dikatakan penerapan Marxisme di Indonesia.

Tulisan-tulisan dalam buku ini berusaha meyakinkan bahwa Marhaenisme bukanlah ideologi yang hanya mengekor kepada pemikiran Karl Marx atau Lenin, melainkan sebuah ideologi yang berdiri sendiri. Marhaenisme memiliki universalitasnya sendiri, hal ini bertentangan dengan pandangan bahwa ideologi ini adalah toepassing (pelaksanaan) dari Marxisme di Indonesia, karena jika hanya pelaksanaan maka universalitasnya terletak pada Marxisme bukan Marhaenisme nya.

Adapun Marhaenisme bukan toepassing Marxisme di Indonesia melainkan teori perjuangan Bangsa Indonesia. Pada titik ini, Sayuti Melik memberikan penekanan yang kuat. Ia berusaha memperlihatkan bahwa Indonesia mampu memiliki ideologi bertaraf internasional.

Tidak hanya terpaku kepada Marhaenisme, Sayuti juga menjelaskan terkait Marxisme. Salah satu pemaknaan menurut arti kata yang ia berikan sangatlah sederhana: Marxisme adalah ilmu yang dikemukakan dan disampaikan oleh Karl Marx yang berisi filsafat dan ilmu perjuangan untuk merombak dunia yang sudah ada guna menciptakan dunia yang baru. Beliau juga memberikan pemaknaan menurut pengertian dan perbandingan.

Meskipun corak kirinya masih terlihat dengan gaya penuturan bahasanya sekaligus keberpihakannya kepada Rakyat Indonesia, Sayuti terlihat sangat tidak ingin menyamakan Marxisme dan Marhaenisme. Ia beranggapan bahwa kedudukan Sukarno dan Marx ialah sama, sama-sama mencetuskan teori perjuangan, yang satu bernilai universal namun bersifat nasional, yang satu bersifat internasional.

Buku tipis ini bukan sekedar pamflet atau isi pidato dari tokoh nasional pada umumnya kala itu. Buku ini memang didesain untuk menjadi semacam pegangan untuk mereka yang ingin mendalami Marhaenisme. Buku ini merupakan perumusan Marhaenisme ala Sukarno melalui Sayuti Melik. Menariknya, sebegitu menghayati Marhaenisme, Sayuti menolak pengangkatan Sukarno sebagai presiden seumur hidup.

Bagi para pembaca yang tertarik kepada Marhaenisme, saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai pengantar untuk masuk ke dalam ideologi tersebut beserta alam fikir Sukarno. (rez)

Beli buku ini dari harga asli IDR 50,000; diskon, tinggal IDR 40,000 di KB. MURBA. (click)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.