Lahirnya Libertarianisme, Suksesnya Liberalisme, Menguatnya Ekonomi

Ekonomi Mar 25, 2018

Kita bicara tentang intervensi pemerintah, tapi kita lupa, bahwa uang yang kita bawa dalam dompet kita merupakan intervensi pemerintah mengenai pertukaran.


Judul Buku: Apa Yang Pemerintah Lakukan Terhadap Uang Kita

Penulis: Murray N. Rothbard

Penerbit: Penerbit Granit

Tebal Buku: 106 halaman

Tahun Terbit: 2007

Kali ini, saya akan meresensi buku yang agak ke-kanan. Mungkin para pembaca akan bertanya-tanya, kenapa? Karena sudah waktunya kita belajar adil sejak dalam pikiran, kata Pram. Ketertarikan kita (terutama mahasiswa, karena saya sedang menjadi mahasiswa) biasanya pada pergerakan yang condong kepada kelompok kiri. Namun bukan berarti kita harus menutup ruang berpikir kita terhadap perkembangan kelompok kanan. Lalu seperti apa pemikiran kelompok kanan? Siapa saja yang sebenarnya digolongkan pada kelompok ini? Para pemikir kanan biasanya mengutamakan kebebasan individu dalam berekspresi, namun konteks yang digunakan adalah ekonomi. Para ekonom dari kelompok kanan salah satunya adalah Murray Newton Rothbard, seorang pengikut mahzab Austria. Ia sangatlah lihai dalam menjelaskan ekonomi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari, Seperti apa pemikiran professor Rothbard? Silakan simak resensinya berikut:

Buku tipis ini perlu dibaca golongan akademisi, karena pandangan Rothbard sangatlah filosofis dan juga praktis. Ia mengejawantahkan mengenai ekonomi sebagai bagian utama dari kehidupan sehari-hari. Secara etimologis memang benar, bahwa ekonomi adalah ilmu yang membahas mengenai pemenuhan kebutuhan. Dalam memenuhi kebutuhan, penting rasanya kita melakukan pertukaran barang (barter). Dasar argumentasi kuat dari Rothbard disini merusak pandangan kita mengenai barter. Kita acapkali menganggap bahwa pertukaran haruslah seimbang, namun pada dasarnya kita menukarkan sesuatu karena secara psikis kita menganggap barang yang akan kita dapat dari pertukaran tersebut akan menguntungkan kita. Mari kita berpikir secara rasional dan obyektif, manusia mana yang ingin merugi? Hampir seluruh pertukaran yang ada di dunia ini didasarkan pada untung rugi, bukan kesamaan nilai dari suatu barang.

Maka dari itu, guna melaksanakan “keadilan”, negara memunculkan uang yang nantinya akan diedarkan. Kita bicara tentang intervensi pemerintah, tapi kita lupa, bahwa uang yang kita bawa dalam dompet kita merupakan intervensi pemerintah mengenai pertukaran. Adanya sumber daya yang tersebar hampir di berbagai wilayah di suatu negara membuat pemerintah melakukan intervensi yang cukup kuat dalam permasalaha kepemilikan pribadi. Fungsi redistribusi pemerintah ini yang berusaha ditekan oleh kelompok liberal-klasik dan melimitasi ruang geraknya dalam bidang ekonomi. Bagi Rothbard, tidak perlu pemerintah, masyarakat hanya perlu untuk berinovasi agar barang-barang ini dapat terdistribusi di seluruh wilayah dan ada pertukaran yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Jika tidak, maka seseorang akan berswasembada sendiri dan jika masih tidak mampu berswasembada, maka dia akan mati tentunya, ujar Rothbard.

Rothbard berargumen dalam bukunya bahwa pertukaran sendiri ada dua: langsung dan tidak langsung. Dalam pertukaran langsung, pastinya tidak beda jauh daripada swasembada, karena usaha untuk memproduksi barang akan juga direduksi oleh usaha mencari barang yang cocok dengan kebutuhan atau keinginan produsen. Levelnya akan primitif dan relatif hanya akan ada sedikit inovasi. Perkembangan peradaban akan ditentukan melalui pertukaran tidak langsung yang relatif bertele-tele namun merupakan sebuah usaha kita untuk memperluas cakupan barter agar mudah mendapatkan barang yang kita inginkan. Pertukaran tidak langsung ini dilakukan dengan cara menukarkan barang yang kita miliki kepada seseorang untuk sebuah barang yang nantinya akan dapat digunakan untuk menukarkan barang yang kita inginkan. Ia memberikan contoh yang cukup rumit namun mudah dipahami setelah dibaca dua atau tiga kali.

Lalu muncul lah uang sebagai nilai tukar yang baku. Kemunculan uang ini guna mempermudah kita dalam mencari barang yang kita butuhkan dalam nominal tertentu sesuai standar baku yang sudah ditentukan. Uang membuat pertukaran menjadi lebih kuantitatif karena memiliki standar baku tersebut. Lalu siapa yang punya hak membuat uang? Awalnya manusia bebas membuat uang ini dengan bentuk seragam (logam mulia). Banyak standar uang moneter yang sejarah awalnya merupakan uang logam. Rothbard mencontohkan kisah bangsawan Bohemia yang mencetuskan dolar dan juga poundsterling yang awalnya merupakan ukuran baru terhadap satu pon perak. Diawal kemunculan uang, hanya ada perak dan emas sebagai alat tukar yang legal. Kemunculan uang-uang di berbagai negara memang menganggu pasar bebas yang sebenarnya akan menentukan sendiri mengenai nilai tukar yang paling cocok digunakan di dalam pasar.

Dalam percetakan koin/uang, Rothbard sempat mengutarakan mengenai percetakan yang dilakukan oleh sektor swasta agar lebih efisien. Akan tetapi ide ini akan ditolak oleh banyak golongan menurutnya, karena ada ketidakpercayaan public terhadap sektor swasta yang dianggap akan selalu mengambil keuntungan dari percetakan koin/uang tersebut. Maka dari itu banyak yang mempercayakan percetakan uang/koin terhadap pemerintah. Baginya, kegunaan pemerintah bukan pada percetakannya, namun pada pencegahan adanya kecurangan dalam percetakan uang/koin, dan serahkan percetakan uang/koin kepada swasta. Ketika percetakan uang/koin ini diberikan kepada pemerintah, maka persaingan akan mati dan pemerintah akan menggunakan kekuasaannya untuk memonopoli percetakan uang/koin. Bagaimana kita akan tahu mengenai kecurangan dalam percetakan uang koin apabila hanya pemerintah yang bisa mencetaknya dan menyimpan informasi mengenai percetakan uang dengan dalih keamanan negara. Kita tidak pernah tahu proses percetakan selain apa yang ada didalam dompet kita menurut professor Rothbard.

Seringkali kita di-plokotho oleh pemerintah kita sendiri. Lihat saja, banyak pajak yang harus kita bayar dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan untuk bekerja pun kita dimintai pajak, untuk makan di restoran kita juga dipungut pajak, semua tidak terlepas dari pajak. Uang yang tadinya sudah ditentukan oleh pemerintah ternyata akan direnggut oleh pemerintah kembali. Peredaran uang sendiri dilakukan utamanya oleh Bank Sentral milik pemerintah. Secara fundamental, manusia hanya memiliki kebebasan dalam mencari uang, tapi tidak tahu-menahu mengenai uang tersebut. Adapun hal-hal semacam inflasi muncul sebagai sebuah kebohongan pemerintah agar peredaran uang di wilayahnya kembali kepada kantong pemerintah sendiri. Sekarang, ekonomi tidaklah dikuasai oleh seorang konglomerat, melainkan diakusisi oleh pemerintah.

Saya sedih untuk memotong penjelasan dengan tiba-tiba, namun memang tulisan ini sudah cukup panjang bagi resensi. Banyak penjelasan lain yang akan membuat kita semakin membenci pemerintah kita berkenaan dengan permasalahan ekonomi. Kita akan salah besar jika mengira Rothbard ini seorang kapitalis tulen, ia merupakan pencetus Libertarianisme dan Anarko-Kapitalisme. Hampir seluruh karyanya menolak keberadaan pemerintah sebagai kekuatan tunggal dominan dalam sebuah negara. Ia menganggap bahwa masyarakatnya yang seharusnya berjaya. Masyarakat yang mana yang dimaksud? Masalah pembelaan masyarakat mana itu adalah hak tiap intelektual untuk menentukan. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.