Categories
Politik

Kunci Permainan Politik ala Fukuyama

Buku ini melukiskan bagaimana kemampuan berkompetisi dan ketahanan sebuah bangsa didasarkan oleh kepercayaan yang ada antar manusia.

Judul Buku: Trust

Penulis: Francis Fukuyama

Penerbit: Free Press

Tebal Buku: 457 halaman

Tahun Terbit: 1995

Mungkin beberapa dari pembaca pernah mendengar nama Francis Fukuyama. Seorang pemikir tersohor dari Amerika Serikat. Ia merupakan salah seorang konsultan kebijakan publik yang sering kali memberikat pandangan-pandangannya kepada pemerintah AS. Terlepas dari namanya yang terkenal, ia merupakan pengikut pandangan Neo-Conservatives yang marak di era George W. Bush sebagai presiden dengan jargon terkenal mereka: If You are not with us, then you are against us (Jika kalian tidak bersama kita, berarti kalian melawan kita). Pandangan ini bisa dibilang sangat mengikat dan menjadikan AS hampir sama berbahayanya dengan Jerman semasa Hitler atau Italia semasa Mussolini. Akan tetapi, preferensi politik semacam itu adalah pilihan pribadi, saya disini tidak akan mengulas kehidupan personal dari Fukuyama, melainkan menguraikan sedikit dari isi bukunya yang tebal ini. Selamat menikmati bacaan singkat ini.

Patut kita luruskan terlebih dahulu, bahwasanya TRUST diartikan sebagai kepercayaan, dan bukan kepercayaan yang sifatnya takhayul dan berhubungan dengan religi, namun kepercayaan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Kepercayaan antar manusia. Meskipun kita akan membicarakan mengenai hasil akademis dari Fukuyama, tapi nuansa ideologis yang biasanya hanya terasa pada tulisan-tulisan golongan kiri, terasa benar dalam buku yang mendukung kapitalisme ini. Sering dalam hampir tiap paragrafnya akan kita temui kata kapitalisme. Ia menganggap bahwa hampir seluruh lembaga negara di berbagai belahan dunia sedang berusaha mengadopsi sistem demokrasi liberal untuk mengembangkan kemampuan dalam negerinya secara maksimal.

Cara beliau menulis pun bentuknya sangat deduktif. Pada bab awal, Fukuyama menuliskan hal-hal umum dan luas semacam demokrasi dan lembaga negara, namun seiring kita membuka lembar-lembar baru, ia akan menjelaskan sampai kepada unit terkecil, keluarga. Bagi dia, semua negara akan memiliki unit terkecil ini, yang nantinya akan membangun sebuah masyarakat dan juga bangsa. Ia mengutip dari Samuel Huntington, bahwa benturan antar peradaban tidak lagi terjadi akibat permasalahan ideologis, namun lebih kepada ranah kultural yang terasa keberadaannya dalam unit terkecil negara (keluarga). Masyarakat sendiri berkembang atas dasar kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalamnya, yang nantinya bisa menjadi sebuah budaya yang dilakukan turun-temurun atas dasar penghormatan terhadap budaya. Konflik di dunia pasca perang dingin tidak lagi berbicara mengenai ideologi yang dianut, namun budaya yang berkembang. Lihat saja Indonesia, pertarungan antara budaya pop dengan budaya tradisional masih kentara di daerah-daerah.

Namun, dalam kehidupan modern, budaya juga mempengaruhi permasalahan paling krusial dalam kehidupan, ekonomi. Ekonomi sendiri adalah bagian integral dari kehidupan sosial dan politis yang dilakukan oleh manusia. Fukuyama mengartikan ekonomi sebagai usaha manusia berkumpul untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka masing-masing, sebelum kembali kepada kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan ekonomis manusia ini, ada unsur sosial dimana saat memenuhi kebutuhan tersebut, mereka berkumpul. Hampir dalam seluruh kegiatan ekonomi, manusia akan saling berhadapan satu sama yang lain, apalagi dalam bekerja. Tempat kerja adalah sebuah ruang yang menghubungkan satu manusia dengan yang lain, hubungan ini menarik mereka keluar dari kehidupan privatnya dan memberikan mereka waktu untuk berkumpul dengan manusia lain. Pertemuan di tempat kerja tidak hanya mengenai usaha untuk mencari penghidupan (upah/gaji) akan tetapi juga tujuan penting dari hakikat manusia itu sendiri (berkumpul).

Yang menarik adalah pandangan Fukuyama bahwasanya manusia selalu berusaha agar martabatnya diakui oleh manusia lainnya. Hal tersebut adalah inti dari proses sosial yang dialami oleh tiap individu di muka bumi. Jika dulu martabat ditandai oleh kemampuan berperang, sekarang, status ekonomi akan lebih penting daripada angkat senjata. Ya, aktivitas ekonomi merupakan bagian penting dari kehidupan sosial yang terikat dengan norma, etika, kewajiban moral dan kebiasaan yang ada dalam tiap masyarakat. Buku ini melukiskan bagaimana kemampuan berkompetisi dan ketahanan sebuah bangsa didasarkan oleh kepercayaan yang ada antar manusia. Penjelasan mengenai hal ini ia contohkan salah satunya saat pabrik Mercedes-Benz akan bangkrut, Bank Sentral Jerman meminjamkan sejumlah uang kepada pemilik pabrik agar produksi mobil bisa tetap berjalan. Peminjaman uang ini tidak didasarkan atas sebuah kalkulasi keuntungan yang akan didapatkan oleh pabrik tersebut, namun kepercayaan Bank Sentral Jerman bahwasanya di masa depan, Mercedes-Benz akan mengembalikan uang tersebut dan juga kepercayaan mereka terhadap pemilik merk tersebut ketimbang kelompok arab yang akan membeli pabrik Mercedes-Benz saat akan bangkrut.

Dalam sektor privat sendiri, memecat pekerja akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemilik perusahaan yang mungkin berdampak pada demonstrasi atau mogok kerja yang nantinya akan mengganggu proses produksi. Hal semacam ini juga tidak terelakkan untuk negara, saat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah rendah, maka ketidakstabilan akan terjadi di berbagai ranah, negara akan menjadi kacau karena kerusuhan pasti terjadi dimana-mana. Kunci untuk perkembangan manusia adalah kepercayaan terhadap orang lain. Solidaritas, terutama dalam ranah ekonomi merupakan tujuan utama dari perkembangan manusia dan kisah akhir dari sejarah (The End of History).  Manusia, jika akan mencapai The End of History ini harus memiliki motivasi yang melebihi kepentingan individu dan juga mempercayai satu sama lain. Hal ini juga berlaku dalam permainan politik, adanya kerjasama antar partai politik ialah didasarkan kepada kepercayaan terlebih dahulu, bukan adanya pembagian kursi didepan.

Di abad keduapuluhsatu ini, kapital yang paling digandrungi adalah social-capital. Apa itu? Sebuah kemampuan manusia berjejaring antara satu sama yang lain sehingga mampu mengembangkan diri dengan sendirinya, juga kemampuan manusia dalam bekerjasama untuk tujuan yang sama dalam sebuah organisasi. Dalam permasalahan social-capital ini, Fukuyama mengutip John Coleman, bahwasanya social-capital muncul dari kemampuan manusia berhubungan satu sama lain. Hubungan ini muncul tidak hanya melalui norma dan nilai namun juga munculnya kepercayaan antar individu yang akan memperkuat sekelompok manusia tadi. Jika tidak ada kepercayaan antar manusia dalam sebuah kelompok, maka tiap individu akan berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain. Kegagalan sebuah rezim biasanya ditandai dengan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, begitupula memperkuatnya sebuah rezim akan muncul akibat meningkatnya level kepercayaan masyarakatnya. Kepercayaan adalah kunci utama dalam kehidupan manusia. (rez)

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.