Kekaisaran Finansial Dunia

Ekonomi Jul 28, 2017

IMF dilawan karena kebijakan mereka yang bersifat ekonomi ternyata membuahkan kemiskinan dan kelaparan di berbagai belahan dunia.


Judul Buku: Unholy Trinity

Penulis: Richard Peet (ed)

Penerbit: Zed Books

Tebal Buku: viii+250 halaman

Tahun Terbit: 2003

Globalisasi telah dibahas dalam resensi buku sebelum buku ini. Banyak hal yang telah dibawa oleh Globalisasi, termasuk kekacauan ekonomi akibat lahirnya kekuatan finansial dunia yang menjelma dalam organisasi finansial dunia seperti IMF, World Bank dan WTO sebagai contoh besarnya. Mereka adalah sumber dari ketergantungan negara-negara berkembang yang ada diseluruh belahan dunia karena mereka lah yang memiliki senjata terkuat di dunia, loans. Adapun keberadaan mereka tidak mengancam negara maju seperti Amerika Serikat, karena negara maju tidak membutuhkan loans atau dalam Bahasa Indonesia kita menyebutnya sebagai Pinjaman. Buku ini akan menjelaskan kelahiran organisasi-organisasi tersebut dan kenapa mereka bisa berkembang pesat dan menjadi salah satu pressure group dalam penentuan kebijakan di suatu negara.

Saat dunia masih kacau karena Perang Dunia Kedua, sebanyak 44 negara berkumpul di Bretton Woods, New Hampshire pada tanggal 1 sampai dengan 20 Juli 1944 untuk mendiskusikan tentang perekonomian dunia pasca peperangan. Mengelola ekonomi dunia menjadi memungkinkan karena situasi dunia yang sedang kacau dimana negara-negara mendapati perekonomian mereka sedang jatuh. Maka dari itu negara-negara yang berkumpul ini (yang diketuai oleh AS dan Inggris) mencari jalan untuk memastikan perdamaian dunia dan kerjasama dibidang ekonomi dalam skala internasional.

Tentunya kerjasama tersebut didasarkan pada Pasar Dunia dimana komoditas dan kapital tersirkulasi secara bebas yang diatur oleh institusi global yang dijalankan oleh kepentingan umum untuk stabilitas dan prediktabilitas internasional yang lebih baik. Di sinilah tempat lahirnya International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang menjelma menjadi World Bank dan International Monetary Fund (IMF) World Trade Organizations (WTO) yang pada saat itu masih bernama General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) yang awalnya adalah International Trade Organization (ITO). IMF dan IBRD diresmikan pada konferensi di Bretton Woods, sedangkan WTO (saat itu ITO) menjadi bagian di Havana Charter pada tahun 1947.

IMF yang diidamkan di Bretton Woods memiliki dua tugas yakni: mengatur pertukaran uang antar negara dan membantu memastikan stabitiltas internasional dengan memberikan pinjaman pada negara-negara yang membutuhkan dana untuk pembangunan. Meskipun sampai sekarang terlihat masih sama misinya, sejatinya IMF telah mendapati banyak perubahan besar yang berujung pada meningkatnya kekuatan dan pengaruh IMF di mata dunia. Sekarang, kebijakan IMF telah secara langsung mempengaruhi perekonomian dari 184 negara yang kadangkala mempengaruhi kehidupan penduduk negara-negara tersebut secara drastis dan seperti memberi malapetaka kepada mereka.

IMF sekarang adalah institusi independen terkuat di dunia. Seringkali diagung-agungkan kepada publik oleh pemerintahan negara manapun karena kebijakannya, namun dibalik itu, mereka (pemerintah) seringkali komplain secara privat kepada IMF karena kebijakan tersebut dipaksakan. Ribuan pekerja dan pelajar acap kali melawan IMF, dalam banyak kasus bahkan kehilangan nyawa karena melakukan hal tersebut. IMF dilawan karena kebijakan mereka yang bersifat ekonomi ternyata membuahkan kemiskinan dan kelaparan di berbagai belahan dunia.

Sejatinya, pembahasan utama di Bretton Woods difokuskan pada IMF, sedangkan IBRD adalah proyek untuk membangun ulang negara-negara Eropa pasca perang dan isu mengenai kemiskinan tidak pernah muncul dalam konferensi tersebut. Bahkan pada saat itu masih belum ada kategorisasi negara miskin atau negara terbelakang, hanya saja negara selain Amerika Serikat dan Inggris Raya dianggap sebagai negara koloni. Namun IBRD yang sekarang menjadi Bank Dunia telah menjadi agen pembangunan yang memiliki motto “our dream is a world without poverty”, sebuah dunia tanpa kemiskinan yang bisa dibilang cukup kontradiktif terhadap pembahasan awal Bretton Woods.

Untuk alasan tersebut, Bank Dunia meminjamkan 17 milyar dollar kepada negara peminjam dengan tujuan pembangunan dengan adanya aturan-aturan dimana milyaran dollar lainnya mengalir ke negara-negara dunia ketiga dan bekas komunis. Hal diatas menggambarkan bahwa Bank Dunia memiliki dua intervensi, yakni direct loans (Pinjaman Langsung) dan mengatur arah kebijakan sebuah negara yang membuat Bank Dunia menjadi institusi terpenting dalam hal Pembangunan. Dari titik awal yang hanya bertujuan membangun negara Eropa, sekarang menjadi organisasi terkuat di dunia.

Didirikan pada 1 januari 1995, WTO adalah bentuk formal dari GATT yang ditandatangani 23 negara pada tahun 1947. WTO adalah organisasi yang mengatur mengenai perdagangan barang dan jasa dalam skala internasional menggunakan sistem “Tujuan dan Aturan” yang ada dalam artikel perjanjian negara-negara tersebut. Sebagai sebuah organisasi, WTO memiliki sekretariat yang berada di Genewa, Switzerland dimana banyak agensi dari UN berada disana juga.

Layaknya IMF dan Bank Dunia, IMF beranggotakan representasi negara-negara yang tergabung didalamnya yang membuat aturan perdagangan, dimana juga adala spesialis dan konsultan yang memiliki kekuatan yang cukup diperhitungkan. Di dalamnya berisi seluk beluk pembuatan aturan perdagangan dan juga mendukung liberalisasi dari perdagangan atau biasa disebut dengan kata perdagangan bebas. Hal tersebut akan membebaskan arus perdagangan barang dan jasa dari pemerintahan yang ada yang nantinya akan mempermudah Pasar Bebas di suatu negara dan meningkatkan persaingan usaha. Membebaskan dunia usaha dari tariff (pajak) yang dikenakan pemerintah kepada komoditas yang dijual. WTO pun tidak terlepas dari perlawanan yang terjadi di Seattle pada tahun 1999 yang akhirnya melambangkan perdebatan mengenai masa depan yang telah diambil alih oleh arus Globalisasi. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.