Kebebasan dalam Perspektif Zygmunt Bauman

Filsafat Jan 18, 2017

Kebebasan adalah sebuah kondisi dimana seorang individu melakukan sesuatu tidak tergantung dengan keputusan individu lainnya.


Judul Freedom

Penulis Zygmunt Bauman

Penerbit Open University Press

Tebal Buku 106 halaman

Tahun Terbit 1988 (cetakan pertama)

Kebebasan adalah sebuah kondisi dimana seorang individu melakukan sesuatu tidak tergantung dengan keputusan individu lainnya. Perpindahan kondisi sosial dari level bawah ke atas juga dapat dimaknai kebebasan. Untuk seseorang dapat dikatakan bebas maka ada harus lebih dari satu orang, karena kebebasan tidak pernah terlepas dari hubungan sosial. Seseorang bisa dikatakan bebas jika dia sebelumnya dalam kondisi sebuah keterikatan yang dia usahakan untuk melepaskan keterikatan tersebut. Maka sebelum bebas, harus ada keterikatan akan sesuatu. Maka juga harus dipahami bahwa segala sesuatu yang membuat kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, berarti sesuatu tersebut adalah keterikatan.

Jika kebebasan bermaksud untuk membebaskan seseorang dari sebuah kewajiban, maka harus ada kewajiban yang bersifat mengikat. Jika kebebasan berarti bebas melakukan apapun, maka sebelumnya harus ada pengekangan melalui aturan atau regulasi yang mengekang seseorang dalam melakukan sesuatu. Terkadang pada beberapa titik kebebasan bisa berarti negatif karena kebebasan absolut itu bersifat semu, karena terkadang kebebasan seseorang yang tanpa batas itu dapat mengganggu kebebasan orang lainnya.

Diskursus mengenai kebebasan sekarang masuk dalam tahapan mengenai siapa yang berhak mendapat kebebasan pada kondisi manusia yang tidak serta merta bebas. Lawan dari kebebasan adalah Kontrol Sosial. Bukan berarti Kontrol Sosial itu buruk, tapi terkadang manusia jika tidak diberi batasan dalam kebebasannya maka seperti yang dijelaskan diatas, dia mungkin (dengan kebebasannya) dapat mengganggu kebebasan orang lain. Kontrol Sosial pun dilaksanakan untuk menjaga masyarakat dari sesuatu yang abnormal yang mengganggu ketertiban (contoh: kriminal dan orang gila). Yang menjadi buruk adalah Kontrol Sosial yang berlebihan sampai pada titik digunakan dengan alasan menjaga kestabilan politik, bahkan untuk mengekang kebebasan berpendapat ( kebebasan berpendapat pun memiliki batasan) dan jika itu dilaksanakan oleh pemerintah berarti itu adalah Kediktatoran.

Yang diperjuangkan oleh pemberontak dan Freedom Fighters adalah Kediktatoran dan Kontrol Sosialnya yang berlebihan, bukan bermaksud menghilangkan kontrol sosial secara total. Adapun gambaran mengenai Panoptikon, yakni mesin untuk melakukan Kontrol Sosial. Mereka lah yang menjadi perpanjangan tangan dari kekuasaan dalam melegitimasi kuasanya. Panoptikon lah yang akan diserang dan diamuk massa pertama kali saat terjadi sebuah pemberontakan. (contoh panoptikon: Polisi). Juga harus diingat, jika panoptikon bergerak masih sesuai koridor yang wajar, maka tidak diperlukan adanya penyerangan terhadap mereka, karena mereka hanya menegakkan kontrol sosial yang dibebankan pada mereka.

Untuk mencapai suasana yang bebas tanpa tumpang tindih bahkan kekacauan karena tidak adanya kuasa yang memaksa satu manusia untuk tunduk pada manusia lainnya, maka manusia harus memiliki pemahaman bahwa mereka wajib mempunyai “mutual understanding” terhadap perilaku manusia lainnya. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.