Kata Chomsky tentang Timur Tengah

Politik Jan 23, 2017

Teoritisi Liberal menganggap bahwa kebebasan berekspresi menjadi corak khusus A.S.


Noam Chomsky - Pirates and Emperors

Judul Buku: Pirates and Emperors

Penulis: Noam Chomsky

Penerbit: Pluto Press

Tebal Buku: xx+291 halaman

Tahun Terbit: 2016

Chomsky, Anarkis abad ke 21 begitupula teoritisi garda depan. Kritiknya selalu dilemparkan untuk Amerika Serikat selaku negara adikuasa tak kunjung padam. Kali ini dia menuliskan hal baru, mengenai terorisme di Timur Tengah melalui perspektif negara sebagai pelakunya (Amerika dan Israel). Buku ini adalah buku terbarunya, silakan dibaca ulasan singkatnya dari saya.

Dimulai dengan nuansa khas Chomsky, kritik terhadap Amerika. Kritikan ini diawali dengan penjelasan mengenai  2 perspektif tentang keadaan Amerika yang saling berkontradiksi. Teoritisi Liberal menganggap bahwa kebebasan berekspresi menjadi corak khusus A.S. Suara dari masyarakat harus didengarkan oleh kelompok elit yang akan memastikan suara tersebut adalah suara yang benar (maknai elit sebagai tokoh masyarakat, bukan pemerintah). Namun, jika kecil usaha dari pemerintah untuk menekan suara tersebut, maka yang dibahas dalam suara itu masih dalam koridor toleransi pemerintah dan bisa direalisasikan oleh pemerintah melalui kebijakannya. Disisi lain, Harold Laswell berpendapat berbeda, bahwa semua keputusan harus dibuat oleh pemimpin yang berpandangan jauh. Inilah kontradiksi dimana pandangan pertama adalah penentuan kebijakan dipegang oleh suara rakyat bercorak desentralistis-partisipatoris (meskipun melalui mekanisme yang cukup rumit), yang kedua lebih condong bersifat sentralistis otoritarian.

Selanjutnya masuk kepada studi kasus dari dua pandangan tersebut. Diawali dengan pertemuan antara Ronald Reagan, Presiden Amerika dengan Shimon Peres, Perdana Menteri Israel sebagai perlambang hubungan diplomatis yang romantis dari dua negara ini. Dua negara inilah yang sejatinya Negara Teror terbesar dengan pandangan yang sama mengenai “perdamaian”. Bukan malah memfokuskan perdamaian dengan cara bernegosiasi, tetapi malah memilih perang terbuka dengan Palestina. Shimon Peres mengutarakan bahwa Palestina tidak akan pernah bisa menjadi partner Israel dalam urusan apapun. Dan Ronald Reagan disisi lain setuju dengan itu tanpa mendengar pendapat rakyatnya terlebih dahulu. Terlihat sekali pada beberapa keputusan, Amerika bercorak sangat sentralistis, terutama hubungan diplomasi antar negara. Karena keputusan tadi, tercetus lah sebuah peperangan abadi di Timur Tengah.

Dimasa-masa awal perang Timur Tengah tidak begitu dihiraukan, namun lambat laun memakan korban yang cukup banyak, baik dari pihak Amerika-Israel dan juga Timur Tengah, mulailah muncul suara-suara rakyat yang menentang kebijakan perang di Timur Tengah. Banyak negara disana mulai roboh seperti: Libya, Suriah, Iraq dan Mesir pun mulai goyah. Banyak pembunuhan politik untuk penolakan perdamaian dengan Israel dari kubu timur tengah, seperti pembunuhan Anwar Al-Saddat. Di pihak lain, Amerika-Israel mengkriminalisasi Moamma Khadafi agar masyarakatnya melakukan revolusi, bergulir pun revolusi yang diinginkan, yang pada akhirnya menghancurkan Libya. Muncul organisasi-organisasi yang katanya penuh dengan teroris macam Al-Qaeda demi menutupi jejak Amerika dan Israel di Timur Tengah. Umat Islam pun yang menjadi kambing hitam.

Pada tahun 1976, United Nations Security Council pernah memanggil kedua belah pihak (Palestina dan Israel) untuk negosiasi perdamaian. Pihak Israel lah yang menolak bernegosiasi, meskipun UNSC inginnya adalah mengakui Israel sebagai negara dan menghentikan pembantaian di Palestina. Amerika turut andil dengan menyetujui penentuan nasib Irael sebagai sebuah negara, tapi menolak untuk mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Disini mulai lah ada pembelokkan berita. Negara disekitar Palestina ikut melakukan pembelaan terhadap status Palestina, baik di medan tempur maupun di meja diplomasi. Tunisia adalah salah satu yang melewati jalur tempur dalam mempertahankan wilayah Palestina, namun saat Israel melakukan pemboman di daerah Tunisia, Majalah Times menganggapnya sebagai “retaliation” bukan tindak terorisme.

Howard Zinn pernah berkata dalam pidatonya “How can you have a war on terror, when war itself is a terror?”. Yang maksudnya adalah bagaimana berperang dengan teror sedangkan perang itu sendiri adalah teror. Kalimat ini adalah counter terhadap kebijakan War on Terror atau biasa disebut dengan Global War on Terror (GwoT). Kebijakan seperti inilah yang membuat intelektual seperti Howard Zinn atau Noam Chomsky geram. Maka dari itu mereka menerbitkan karya mereka dalam sebuah proyek yang disebut “The American Empire”. Berisi buku-buku yang penuh dengan kritik terhadap kebijakan Amerika yang berlagak sok sebagai polisi dunia. Buku ini adalah salah satu kelanjutannya, Chomsky sebagai Profesor dibidang linguistik pastinya menggunakan bahasa inggris yang renyah dan mudah dipahami. Analisa yang dilakukannya pun tidak menggunakan metode lawas seperti Marxisme, tapi lebih condong kepada Anarkisme. Itu lah yang membuat Chomsky berbeda dari yang lain dan selalu menjadi garda depan. Sangat direkomendasikan oleh penulis resensi untuk membaca karyanya yang satu ini. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.