Categories
Politik

Israel dan Anti-Semitisme Baru dalam Pusaran Konspirasi

Jikalau anti-semitisme awalnya adalah gerakan anti agama yahudi, anti-semitisme baru adalah gerakan anti yahudi yang ditujukan kepada penganutnya, sebuah ekspresi kebencian terhadap Israel.

Judul Buku: Beyond Chutzpah

Penulis: Norman G. Finkelstein

Penerbit: University of California Press

Tebal Buku: xi+332 halaman

Tahun Terbit: 2005

Kata konspirasi selalu disandingkan dengan kelompok yahudi. Mulai dari kepresidenan Amerika Serikat hingga peperangan di timur tengah. Belum lagi dengan “bumbu” piramid bermata satu yang diyakini sebagai lambang Dajjal. Adapun konspirasi dimaknai sebagai sesuatu yang belum terbukti dan hanya angan dan persepsi buruk saja. Sekiranya para pembaca yang budiman menelusuri sejarah anti-semitisme, pandangan kita akan berubah total. Banyak kisah sejarah yang diselewengkan oleh kelompok Zionis. Jika para pembaca menganggap buku ini hanyalah omong kosong, lalu kenapa University of California mau menerbitkannya? Apakah UCPress adalah bagian dari konspirasi? Entahlah, yang pasti, Finkelstein bukanlah seorang penggemar Israel.

Semenjak kemunculan anti-semitisme baru pasca terbentuknya Israel. Negara berlambang bintang Daud itu dijuluki sebagai yahudi berbagai bangsa. Mereka muncul sebagai akumulasi kolektif dari yahudi-yahudi yang tersebar di berbagai negara dan bangsa lalu membentuk negara sendiri. Jikalau anti-semitisme awalnya adalah gerakan anti agama yahudi, anti-semitisme baru adalah gerakan anti yahudi yang ditujukan kepada penganutnya, sebuah ekspresi kebencian terhadap Israel. Para pendukung Israel memberikan penjelasan bahwa kemunculan Israel adalah akibat dari gerakan anti-semitisme. Hanya di Amerika Serikat dan Jerman, Israel tidak mendapat kritik secara terus-menerus, sedangkan di negara seperti Inggris, banyak kritik yang ditujukan kepada kelompok yahudi dan mendukung negara-negara Arab, namun analisis media Inggris masih menunjukkan adanya bias pemberitaan yang malah mendukung keberadaan Israel.

Anti-semitisme baru ini digunakan sebagai justifikasi dari Israel dalam mempertahankan wilayah mereka. Studi yang dilakukan oleh Phyllis Chesler menunjukkan bahwa tindakan-tindakan anti-semitisme baru diikuti oleh pemberitaan dari media massa pendukung Israel yang menunjukkan bahwa posisi yahudi sedang diserang seperti era Hitler. Banyak pemberitaan yang memperlihatkan bagaimana Israel mempertahankan diri mereka dari serangan negara-negara Arab, namun tidak satupun operasi militer Israel terhadap negara-negara tersebut diulas, ujar Chesler. Dua contoh konkrit penyerangan Israel yang tidak pernah dipublikasi secara masif adalah invasi ke Sinai pada tahun 1956 (dimana justru negara Arab yang dituding anti-semit) dan invasi ke Lebanon pada tahun 1987.

Di negara seperti Jerman yang pernah menjadi lumbung anti-semitisme terbesar dibawah Hitler, sekarang menjadi pecinta-semit, Israel bagaikan memegang kepala dari Jerman menurut Finkelstein. Para pendukung Israel akan mengeksploitasi tragedi-tragedi yang dilakukan oleh Partai Nazi dan melalui cara itu, mereka akan berusaha meredam kritik yang ditujukan kepada pimpinan Israel. Pada tahun 2003, salah satu komisi Uni Eropa untuk rasisme dan xenophobia dituduh menutupi berkas-berkas anti-semitisme. Mereka berkilah bahwa ada berkas yang berjudul Manifestations of Anti-Semitism in the European Union yang dibuat tapi tidak didistribusikan karena masih kurang data empirik. Salah satu yang menuduh komisi tersebut adalah Zentrum fur Antisemitismusforschung (ZfA) dari Universitas Teknik Berlin. Dalam tuduhannya, mereka menyebutkan bahwasanya usaha menutupi dokumen itu adalah perilaku buruk yang tersisa dari Jerman semaca Hitler.

Meski tuduhan apapun dilayangkan oleh para pendukung Israel dan Zionis kepada Uni Eropa, menurut Finkelstein, Uni Eropa tidak akan mudah tunduk dan mendukung Israel. Mereka (UE) memang mendukung keberadaan umat Yahudi di wilayahnya dan mengakui kejahatan kemanusiaan dalam Holocaust namun Yahudi pun memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku kejahatan dan menolak untuk selalu mendukung kebijakan yang dikeluarkan Israel. Pandangan UE ini dianggap sebagai tindakan anti-semitisme bagi para pendukung Israel dan Yahudi. Data-data yang dikumpulkan dalam Manifestasi diatas berdasarkan pada kejadian-kejadian buruk yang terjadi pasca operasi militer Israel (Operation Defense Shield) dilaksanakan. Gerakan anti-semitisme yang disebutkan disana adalah gerakan simpati terhadap Palestina di Spanyol yang para pemudanya mendukung PLO dan membranding organisasi tersebut sebagai gerakan kiri yang progresif, Italia dimana banyak barang-barang Paletina menjadi ikon di kongres partai komunisnya, Irlandia (kedutaan Israel mendapat telepon yang berisi celaan), pembakaran bendera Israel dan demo pro-paletina di Belgia, dan beberapa negara lainnya.

Pada paragraf kedua sudah dijelaskan perbedaan antara anti-semitisme dan anti-semitisme baru. Gerakan anti-semitisme baru ini tidak muncul dari wilayah-wilayah yang diserang oleh Israel, namun justru dari organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan kelompok-kelompok kiri dan liberal juga memberikan dukungan terhadap Palestina dan mencemooh kebijakan Israel. Yang mencengangkan adalah motor dari gerakan anti-semitisme baru ini justru kelompok yahudi kiri layaknya Noam Chomsky yang selalu konsisten dan bersemangat dalam mengkritik kebijakan Israel. Dalam keadaan genting ini, kata neoconservatives di AS menjadi sinonim yahudi, karena mayoritas pendiri pemikiran itu adalah kaum yahudi konservatif.

Finkelstein menganalisis pandangan Ron Rosenbaum yang dengan mudah menuduh kelompok-kelompok pro-Palestina sebagai kelompok yang menyuburkan keberadaan anti-semitisme baru. Dengan lugunya ia menuliskan dalam bagian Introduction di bukunya Those Who Forget The Past bahwasanya penduduk Israel ingin hidup damai, namun penduduk Palestina yang selalu melakukan kekerasan, sehingga Israel memilih untuk mempertahankan hidup mereka dengan berperang (defensive war). Dengan bangga Rosenbaum menyebut peristiwa anti-semitisme sebagai Holocaust kedua. Rosenbaum sendiri menuding bahwa Eropa ingin mengeluarkan seluruh Yahudi dari wilayahnya. Tesis ini dipandang sebagai konsekuensi kelahiran Israel yang merupakan tanah yang dijanjikan layaknya juga keinginan Eropa membuang orang yahudi dari tanah air mereka (penduduk Eropa). Karya Rosenbaum ini dikritik oleh Finkelstein sebagai kisah fantasi yang tidak akan terjadi dan hanya konspirasi belaka yang tidak memiliki bukti empirik sama sekali.

Pandangan yang diberikan Finkelstein ini menggunakan metode analisis diskursus. Ia menganalisis semua pemberitaan dan penulisan yang berkaitan dengan Yahudi, Israel, Anti-Semitisme dan perang di timur tengah. Selain Noam Chomsky, bisa dibilang bahwa Finkelstein adalah akademisi yang sama tajamnya dalam mengkritisi kebijakan Israel juga mengkritik karya-karya pendukung Israel secara akademik dan berdasarkan kepada data-data yang jelas. Buku ini merupakan pengejawantahan bagaimana Israel dan kelompok Zionis menggunakan anti-semitisme baru sebagai senjata untuk menggalang simpati dunia internasional. Yahudi sendiri terpecah menjadi dua kubu, Zionis dan Refusenik, dimana Finkelstein merupakan contoh dari Yahudi Refusenik. (rez)

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.