Islam di Mata Fernand Braudel

Sosial-Budaya Jul 19, 2017

Bisa kita pahami bahwa perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad adalah melawan Kapitalisme primitif yang dipraktekkan oleh para saudagar Arab.


Fernand Braudel - A History of Civilizations

Judul Buku: A History of Civilizations

Penulis: Fernand Braudel

Penerbit: Penguin Books

Tebal Buku: xl+600 halaman

Tahun Terbit: 1995

Fernand Braudel adalah sejarawan terkemuka, pendiri Mahzab Annales di Perancis dan juga peletak dasar teori sistem dunia. Ia sering membahas mengenai sejarah , tetapi bukan sejarah yang eropasentris (seperti kebiasaan pemikir sistem dunia). Beliau seringkali menuliskan sejarah yang memiliki hubungan dengan permasalahan politik dan ekonomi, dan dalam bukunya yang saya bedah, ia menjelaskan mengenai seluk beluk lahirnya peradaban, baik secara harfiah maupun metafora. Dari semua bab yang ada, saya mencoba mengambil salah satu bab yang menjadi sumber kepercayaan saya, yakni Peradaban Islam.

Braudel mengatakan bahwa Islam mulai bangkit sejak abad ketujuh, sehingga tidak ada peradaban Islam sebelum abad ketujuh dimana ibadah adalah bagian dari peradaban Islam. Ia menceritakan mengenai cara beribadah umat Islam melalui salah satu hikayat terkenal yakni 1001 malam mengenai penghormatan kepada Yang Maha Kuasa dengan cara mencium tanah dengan kepala diantara dua tangan atau biasanya umat Islam menyebutnya bersujud yang diadaptasi dari praktik ibadah Raja Chosroes Kesatu dari Persia. Adapula beberapa contoh lain seperti pakaian yang kita sebut sebagai baju gamis ternyata adalah sebuah model pakaian yang telah dipakai sejak zaman Babylonia, bangunan-bangunan di negara muslim pun seperti di daerah Mesir yang memiliki kubah  ternyata adalah model bangunan yang sudah ada sejak puluhan abad sebelum adanya peradaban muslim. Maka dari itu, bagi Braudel, peradaban Muslim adalah peradaban sekunder dimana mereka tidak lahir dari konsep Tabula Rasa.

Kisah tentang lahirnya peradaban Islam juga tidak terlepas dari sesosok nabi dan kitab sucinya (Muhammad dan Al-Qur’an). Arab adalah sebuah daerah yang terpecah-belah karena suku yang saling bermusuhan,usaha-usaha kolonialisasi dari Persia dan Assyria, tanpa adanya Muhammad, Arab tidak akan pernah tersatukan dan menjadi salah satu bangsa terkuat dan bertahan hingga sekarang. Muhammad, seorang penduduk dari Arab yang lahir pada kisaran tahun 570 dan hidup penuh cobaan sampai pada pengangkatannya menjadi Utusan Allah pada kisaran abad 610 atau 612 Masehi adalah figur sentral dalam semua sejarah Bangsa Muslim, sebuah sosok yang wajib diceritakan turun temurun. Ia mendapatkan wahyunya di Gua Hira’ yang letaknya tidak jauh dari Mekkah, inilah titik balik kebangkitan Bangsa Arab yang akan menguasai jazirah Timur Tengah selama berabad-abad silam.

Usaha Muhammad dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat Arab tidak berjalan dengan mudah, konglomerasi Arab melawannya, bahkan sanak-saudaranya pun banyak yang menolak ajarannya. Pada akhirnya ancaman datang dari berbagai lini, maka mulailah para pengikut Muhammad melakukan Hijrah ke berbagai tempat, namun pada akhirnya memilih Yatrib sebagai domisili tetap dan merubah namanya menjadi Madinah pada tahun 16 Juli 622 Masehi. Setelah banyak rintangan dihadapi oleh Umat Islam dibawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad, berhasil mereka kembali ke Mekkah dalam keadaan menang dan aman, dan mulai lah kepercayaan yang kita sebut sebagai Islam menyebar luas keseluruh daerah Timur Tengah tanpa terkecuali.

Bisa kita pahami bahwa perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad adalah melawan Kapitalisme primitif yang dipraktekkan oleh para saudagar Arab. Kekayaan Mekkah lahir karena jaringan karavan yang sangat luas dan menjadi tujuan untuk berdagang dari seluruh jazirah Arabia dengan perdagangan dalam skala besar, bisa dibilang pada zaman itu, Mekkah adalah sebuah kota, bukan lagi pedesaan. Perintah Allah yang Ia sampaikan kepada umat-Nya juga memisalkan latar belakang perkotaan seperti Shalat berjamaah di Hari Jumat (Jumatan), penggunaan hijab bagi perempuan, adanya adzan, semua hal ini lahir dari tekanan-tekanan dari ramainya perkotaan, maka dari itu, pusat keyakinan dan ibadah dalam Islam biasanya tersentral di perkotaan pada zaman itu. Hal tersebut juga terpicu karena tidak adanya kota besar yang bisa menampung jamaah dalam jumlah besar selain di kota dan juga wilayah sekitar yang berupa padang pasir.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, mulailah Islam melakukan ekspansi keseluruh daerah sekitar Arab, termasuk Persia dan Mesir. Peradaban Islam lahir dari persatuan wilayah, daerah, kota, negara dan kerajaan yang ditaklukkan oleh Umat Islam. Dalam penaklukan mereka, Bangsa Arab tidak melakukan pemaksaan dalam berpindah agama, hanya melakukan eksploitasi terhadap negara-negara yang mereka taklukkan. Silih berganti pemegang tampik kekuasaan dalam Islam, muncul lah dinasti-dinasti politik yang merajai wilayah-wilayah tertenti, seperti dinasti Ummayyah yang menguasai Damaskus dan sekitarnya. Adanya konsep Perang Suci (Jihad) dalam Islam membuat ekspansinya keluar Arab sangat cepat dan bisa bertahan hingga abad keenambelas dan mulai menurun kekuatannya sampai pada abad keduapuluhsatu ini.(rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.