Categories
Politik

George Monbiot Berkisah tentang Politik Baru

Monbiot menamai politik baru yang digagasnya ini sebagai Politics of Belonging. Dimana diri kita tertekan antara negara dan pasar, kita akan mengembangkan ekonomi baru yang menghargai sesama manusia beserta bumi kita.

Judul buku: Out of the Wreckage

Penulis: George Monbiot

Penerbit: Verso

Tebal buku: 214

Tahun terbit: 2017

Dunia kita terbentuk dari serangkaian cerita. Cerita adalah sarana yang kita gunakan untuk menjalankan dunia ke arah yang kita kehendaki—atau yang dikehendaki orang lain, tergantung siapa yang punya cerita paling berpengaruh. Cerita memungkinkan kita untuk menafsirkan isyarat-isyarat yang rumit dan bertentangan. Cerita memainkan fungsi kognitif yang mendasar bagi manusia, yakni sebagai sarana bagi Otak Emosional kita menerima informasi yang dikumpulkan oleh Otak Rasional kita. Ketika kita menghadapi suatu isu yang sangat kompleks dan mencoba untuk memahaminya, yang kita cari bukanlah fakta-fakta yang konsisten dan dapat dipercaya, tetapi cerita yang konsisten dan dapat dipahami.

Bagi George Monbiot, suatu cerita membentuk pandangan kita tentang mana yang sebenarnya masuk akal. Kita mengumpulkan fakta untuk membuat cerita yang runtut dan bagi kita masuk akal, pun sama halnya bagi orang lain. Bagaimana kita tahu bahwa cerita tersebut masuk akal? Semua tergantung pada kebenaran yang telah lama kita yakini. Dalam memandang berbagai kondisi di dunia ini, bayangkanlah bahwa dunia ini tersusun atas serangkaian cerita. Cerita-cerita tersebut sebagian besar telah tersusun dan bertahan sejak lama. Kalau ingin mengubah suatu kondisi yang kita anggap tak lagi masuk akal, maka buatlah cerita baru. Cerita yang lebih kuat, memiliki alur yang runtut dan masuk akal. Meskipun jika cerita tersebut sekadar rekaan, tapi apabila disampaikan secara runtut dan menyangkut kebenaran yang diyakini orang banyak, cerita itu punya kesempatan untuk memenangkan sebuah zaman.

Dalam buku ini, Monbiot hendak menunjukkan bahwa layaknya cerita dalam film Lord of the Rings atau Narnia, cerita yang tersaji dalam dunia nyata juga menyajikan pahlawan dan penjahat. Beberapa di antaranya memiliki pola cerita yang sama, dikisahkan sejak lama dengan tokoh yang berbeda-beda. Dalam politik, ada cerita yang berulang dan selalu menarik perhatian kita. Kira-kira begini ceritanya: Kekacauan menimpa suatu wilayah, disebabkan oleh keku yang kuat dan jahat yang melawan kepentingan kemanusiaan. Sang pahlawan—bisa seorang individu atau sekelompok orang—memberontak terhadap kondisi ini, melawan kekuatan jahat, mengatasi kekacauan tersebut meskipun ada kemungkinan munculnya perselisihan, hingga akhirnya dapat mengembalikan ketertiban.

Dalam versi cerita Neoliberal, dunia jatuh ke dalam kekacauan karena adanya kecenderungan kolektif dari negara yang sangat kuat, umumnya ditunjukkan oleh keburukan Nazisme dan Stalisnisme, namun juga terbukti dalam segala bentuk perencanaan negara dan semua usaha untuk membentuk kondisi sosial. Kolektivisme menghancurkan kebebasan, individualisme, dan kesempatan. Pahlawannya, tentu saja para pengusaha, mengerahkan pemulihan kekuasaan melalui pasar, membebaskan masyarakat dari perbudakan negara. Sehingga, ketertiban dalam versi cerita ini berwujud Pasar Bebas. Serta banyak lagi versi cerita politis lainnya.

Tapi tunggu dulu, karya Monbiot ini bukanlah sebuah buku panduan untuk menulis karya fiksi atau merancang propaganda. Menilik dari subjudul buku ini, A new politics for an age of crisis, Monbiot ingin menawarkan sebuah pandangan politik baru yang diyakininya akan membantu kita keluar dari masa-masa krisis ini. Buku ini sebagai ‘petunjuk’ mencari jalan keluar atas buku yang ia tulis sebelumnya ‘How Did We Get into This Mess?

Monbiot menghubungkan temuannya dari studi-studi neurosains, psikologi, dan biologi evolusioner dengan kemungkinan merumuskan jalan keluar bagi situasi krisis. Ia meyakini bahwa manusia berkesempatan menciptakan perubahan yang signifikan terhadap situasi krisis jika mereka sadar tentang kondisi alamiah dirinya yang unik dan mau bekerja sama. Dari temuannya pada ketiga studi tersebut, manusia memiliki level altruisme tinggi—yakni lebih mementingkan kesejahteraan orang lain dibanding dirinya sendiri. Dengan bekerja sama untuk memperbaiki kondisi sosial kita, kita akan menjadi pahlawan dalam cerita kita sendiri dan mematahkan lingkaran setan. Melalui perpaduan kekuatan kebersamaan dan rasa memiliki, kita akan menemukan kembali fakta sentral yang membentuk kemanusiaan, yakni altruisme dan sikap saling membantu.

Monbiot menamai politik baru yang digagasnya ini sebagai Politics of Belonging. Melalui aksi bersama untuk menghidupkan kembali masyarakat yang merespon dan melawan pengerdilan kehidupan sosial dalam bentuk apapun, bersama-sama kita dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tentram. Dimana ada alienasi, kita tekankan suatu perasaan keterikatan antarsesama individu dan lingkungan. Dimana diri kita tertekan antara negara dan pasar, kita akan mengembangkan ekonomi baru yang menghargai sesama manusia beserta bumi kita. Dimana kita diabaikan dan dieksploitasi, kita akan menghidupkan dan mengambil kembali demokrasi beserta politik dari siapapun yang telah merenggutnya. Dengan demikian, kita  bisa mengklaim kembali kebahagiaan kita, kemandirian, harga diri, dan lingkungan kita. Kita akan sekali lagi menjadi bagian dari masyarakat dan diri kita sendiri. Inilah esensi dari Politics of Belonging.

Karya Georgeo Monbiot ini adalah begitu ramah dan bersahabat dalam menjelaskan masa krisis yang saya baca sejauh ini—jika tidak disebut idealis. Tapi boleh jadi, seperti saya, calon pembaca atau pembeli buku ini akan beranggapan bahwa buku ini terkesan sangat serius jika hanya menilik dari sampul buku saja. Namun di dalamnya, George Monbiot menjelaskan temuan-temuan dan gagasannya dengan begitu mengalir. Seperti ketika membaca karya Naomi Klein, kiranya karena keduanya (Monbiot maupun Klein) pernah berkecimpung dalam dunia jurnalisme.

Ada sekilas kesamaan antara Nicole Aschoff dan George Monbiot dalam membuka bab pertama dalam buku mereka: mereka menggunakan istilah ‘kisah/cerita’ (story). Bagi Aschoff, adalah rangkaian kisah yang bisa menghasilkan puja-puji bagi kapitalisme. Kisah tersebut melindungi citra kapitalisme yang aslinya buruk. Dan sekarang, kapitalisme sedang sangat butuh kisah, mereka—para kapitalis—membentuk kisahnya melalui aksi-aksi filantropis, prakarsa sosial melalui organisasi, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi George Monbiot, suatu kisah membentuk persepsi kita tentang mana yang sebenarnya masuk akal. Kisah lah yang mengisi dunia kita. Bisa berperan untuk mempertahankan atau bahkan menghancurkan tatanan sosial yang telah lama ada. (ich)

By A Faricha Mantika

Political Science student at Airlangga University. Reviewing book about Islam, political economy, political philosophy, art, and technology.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *