Categories
Jurnal Sosial Budaya

Gagasan Keagamaan dan Kesenjangan Sosial

Gagasan keagamaan sangatlah dinamis yang dapat digunakan untuk mendukung atau melawan kemapanan.

Judul Artikel: The Role of Religious Ideas: Christian Interpretations of Social Inequalities

Penulis: Ferdinand Sütterluty (Goethe Universität, Jerman)

Nama Jurnal: Critical Sociology

Volume: 42

Nomer/Isu: 1

Tahun: 2016

Apa yang membuat agama menarik bagi banyak orang sekarang adalah potensinya untuk melawan budaya arus utama (mainstream culture). Gagasan keagamaan yang dimaksudkan Ferdinand Sütterluty adalah konten semantik (konten/isi yang berhubungan dengan bahasa dan logika) dari tradisi keagamaan yang menemukan jalannya kepada pemaknaan kognitif (kognitif: usaha menemukan atau mendapatkan ilmu pengetahuan dan pemahaman melalui pikiran, pengalaman dan pengindraan) terhadap kenyataan, dalam kasus ini adalah kenyataan mengenai kesenjangan sosial. Gagasan keagamaan biasanya tertanam dalam bentuk yang metafora (pengandaian, bukan sesuatu yang nyata dan butuh untuk dimaknai ulang sesuai dengan kenyataan).

Agama yang dijadikan contoh oleh Ferdinand adalah Kristen (Katolik maupun Protestan, penggunaan Kristen merujuk kepada keduanya). Menurutnya, Kristen memiliki tradisi perlawanan terhadap kondisi sosial dan politik yang dialami sebagai tidak adil dan tidak bermoral. Hal ini terungkap dalam konsep Exodus, dimana banyak bangsa Israel yang berpindah dari Mesir ke Tanah yang Dijanjikan. Mereka melakukan Exodus dengan dipimpin oleh Nabi Musa a.s. Seperti yang disampaikan Ferdinand, kejadian ini bisa dimaknai sebagai usaha untuk mengantarkan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan perlawanan mereka terhadap tekanan dan ketidakadilan dari kelas penguasa.

Sebenarnya konsep migrasi politis semacam itu tidak hanya ada di Kristen atau Yahudi saja dengan contoh Exodus yang dilakukan Nabi Musa dan bangsa Israel. Islam juga memiliki konsep yang sama bernama Hijrah. Kesamaan dari dua istilah ini adalah sama-sama merupakan konsep migrasi politik dan sama-sama digunakan untuk menjelaskan perlawanan terhadap ketidakadilan, kesenjangan, dan kesewenang-wenangan (Nabi Musa a.s. bersama bangsa Israel melawan Firaun dan rakyat Mesir, sedangkan Nabi Muhammad Saw. dan kaum muhajirin melawan kaum kafir Quraisy di Mekkah). Perbedaannya cukup banyak, namun lebih kepada detail dari kisahnya. Exodus merupakan tujuan itu sendiri, di mana mereka pergi dari Mesir untuk kembali kepada Tanah yang Dijanjikan, sedangkan Hijrah merupakan salah satu proses di mana Nabi Muhammad beserta umat-Nya berpindah ke Madinah untuk mempersiapkan diri guna merebut kembali Mekkah dari orang Quraisy.

Kembali kepada gagasan keagamaan dalam Kristiani. Selanjutnya interpretasi/pemaknaan terhadap Exodus akan digunakan dalam beberapa contoh yang diberikan oleh penulis. Seperti pada tahun 1830-an, para pendeta reformis Protestan memobilisasi perlawanan terhadap perbudakan dan menikmati kesuksesan ketika mampu menghubungkan pertaubatan individu dengan reformasi sosial. Selanjutnya ada contoh gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin yang bertujuan untuk membantu orang miskin. Mereka yang tergabung dalam gerakan ini bahkan menuding gereja Katolik dan pendetanya terlibat dengan kediktatoran kelas penguasa. Sehingga penganut teologi pembebasan bekerja sama dengan gerakan reforma agraria dan memengaruhi masyarakat lalu mendukung partai-partai reformasi sosial. Tujuannya adalah untuk membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung dan terpinggirkan untuk melepaskan ikatan deprivasi ekonomi dan tekanan politik. Contoh Amerika Latin, dikutip dari Gustavo Guiterrez oleh Ferdinand, menggunakan narasi Exodus sebagai metafora sejarah dalam teologi pembebasan yang dimaknai sebagai panggilan untuk ikut dalam perhelatan politik mengentaskan kemiskinan, eksploitasi, dan alienasi.

Narasi Exodus dianggap oleh komunitas gerejawi sebagai pondasi dari perlawanan pembebasan melawan perbudakan, rasisme, dan tekanan. Memperlihatkan bahwa isi dari narasi keagamaan dapat memotivasi seseorang untuk bertindak.

Adapun dua bapak sosiologi juga menemukan bahwa agama berperan mendukung kesenjangan sosial. Dengan mengutip Emile Durkheim, Ferdinand menyampaikan bahwa agama, dalam konteks Kristiani, sebagai kekuatan yang membantu mencegah kondisi anomik dalam masyarakat karena mampu membatasi keinginan manusia. Lalu Max Weber menunjukkan bahwa gagasan keagamaan memberikan kepercayaan bahwa orang-orang terpilih adalah efektif dalam menawarkan strata sosial khusus untuk memastikan superioritas (kelebihan). Dapat ditarik kesimpulan bahwa gagasan keagamaan hanya menyediakan justifikasi (pembenaran) tambahan untuk tujuan budaya yang sudah mapan dari kesuksesan dan cetak biru (blueprint) untuk praktik kolektif yang didesain untuk mendorong yang beriman agar melakukan panjat sosial (menjadi terpandang atau kaya).

Semua relasi kekuasaan bergantung kepada pembenaran (justifikasi). Menurut Weber (dalam Ferdinand) bahwa kewenangan tidak dapat terlaksana tanpa dasar dari legitimasi (dukungan terhadap kewenangan atau kekuasaannya). Selanjutnya Rainer Forst dan Klaus Günther mengartikan tatanan pembenaran (order of justification) sebagai tatanan norma yang menyediakan dukungan untuk tatanan dasar dalam masyarakat termasuk pelaksanaan kekuasaan dan pembagian (distribusi) dari barang dan peluang-peluang dalam kehidupan. Namun, bersamaan dengan seni, sastra, hukum, dan ilmu sosial, agama adalah ruang untuk refleksi diri yang bisa menjadi dasar untuk melegitimasi seseorang, akan tetapi di sisi lain dapat menjadi narasi perlawanan.

Kisah mengenai exodus merupakan contoh penggunaan wacana keagamaan dalam perlawanan. Sedangkan selanjutnya turut dijelaskan bahwa agama juga dapat dijadikan pembenaran atas status seseorang yang lebih di atas manusia lainnya (membenarkan adanya kesenjangan sosial). Namun, inilah yang ingin ditunjukkan Ferdinand Sütterluty bahwa gagasan keagamaan sangatlah dinamis yang dapat digunakan untuk mendukung atau melawan kemapanan. Dapat memaknai kesenjangan sosial secara negatif maupun positif. Jadi, tak melulu gagasan keagamaan bersifat perlawanan, namun juga bisa digunakan untuk melegitimasi posisi seseorang yang sudah mapan. Bisa digunakan untuk memperkuat atau melemahkan kesenjangan sosial yang sudah ada. (rez)

Jurnal dapat diunduh dengan membayar di: https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0896920513509823.

Foto: Ferdinand Sütterluty | Tyler Callahan/Unsplash

By Reza Maulana Hikam

Public Administration student at Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.