Foucault dan Septimus Severus, Sebuah Rezim Kebenaran

Filsafat Dec 24, 2017

Foucault dalam pidatonya yang dibukukan ini berusaha menjelaskan mengenai perubahan ketatanegaraan sejak zaman pagan hingga abad pertengahan.


Judul Buku: On The Government of The Living

Penulis: Michel Foucault

Penerbit: Picador

Tebal Buku: xvi+365 halaman

Tahun Terbit: 2012

Septimus Severus. Nama ini bukan lah salah satu tokoh dari Harry Potter, melainkan seorang kaisar Romawi yang masih jarang diulas. Ia merupakan salah satu kaisar yang memperkuat legitimasi kekuasaannya melalui bintang-bintang di langit (astronomi). Dalam Balairungnya, lukisan di dinding atasnya berupa rasi bintang waktu kelahirannya dan juga takdirnya sebagai seorang kaisar. Balairung ini ia gunakan untuk audiensi, menyampaikan pertimbangan dan menegakkan keadilan. Lukisan di dinding tempat tersebut digunakan untuk memperkuat legitimasi dia dan agar semua orang dapat melihat bahwa Severus memang ditakdirkan untuk menjadi kaisar. Ia ingin menyampaikan melalui lukisan tersebut bahwa kekuasaan yang ia miliki didapat dari bintang-bintang di langit. Ia sampai kepada posisi itu bukan dengan merebutnya, akan tetapi telah dikehendaki oleh dunia.

Cuplikan diatas adalah contoh yang diberikan Michel Foucault dalam kuliah umum yang ia sampaikan di College de France mengenai usaha seseorang untuk melegitimasi posisinya. Ia ingin agar seluruh orang melihat saat dia memberikan pertimbangannya, itu bukan dari hal yang manusiawi tapi itu dalah pertimbangan alam semesta. Pada zaman Severus lah banyak hakim terkenal seperti Ulpianus, penegakan hukum ini tidak terlepas dari permainan politik yang dilakukan oleh Severus sendiri. Lukisan tersebut adalah sebuah manifestasi kebenaran yang berusaha dibangun oleh Severus didepan publik. Dan sebetulnya tidak begitu berguna bagi ilmu pemerintahan. Sederhananya, dengan lukisan tersebut, dia ingin memperlihatkan kebenaran bahwa ia memang ditakdirkan sebagai seorang kaisar romawi. Hal tersebut bukan lah sebuah ilmu pengetahuan yang penting dipelajari untuk menjalankan sebuah pemerintahan, melainkan sebuah ritus dalam pelaksanaan kekuasaan, supaya tidak ada yang menentangnya.

Penggunaan kekuasaan seperti dalam kasus Septimus Severus ini tidak hanya berbentuk tabel, informasi, pengetahuan, dan catatan semata, tetapi juga melalui pengkultusan, ritual, upacara, unsur kepercayaan, bahkan berkonsultasi dengan peramal dan Dewa. Jadi kekuasaan Severus tidak terlepas dari kesadaran pribadinya dan kepercayaannya terhadap para konsultannya. Bagi Foucault, penggunaan kekuasaan tidak sepenuhnya terlepas dari ilmu pengetahuan, namun lebih erat kepada manifestasi kebenaran yang dapat dimaknai dengan sangat luas dan diterjemahkan secara bebas oleh para penggunanya (dalam rezim yang bergulir di Indonesia, masih terkenal penggunaan panggilan seperti “Herucokro”, “Ratu Adil” dan “Satria Piningit”). Ritual semacam ini masih digunakan namun dalam bentuk yang lebih modern seperti pelantikan.

Seiring berkembangnya zaman, ritus seperti lukisan yang digunakan oleh Severus tidak lagi menjadi trend dalam pemerintahan, melainkan dengan keilmuan. Tidak lagi memakai ilustrasi di dinding, akan tetapi dengan ilmu pemerintahan. Karena itu, penggunaan kekuasaan telah melalui proses rasionalisasi menjadi sebuah keilmuan sendiri. Ilmu ini telah bergantung pada pemahaman terhadap ilmu lain, seperti Ekonomi Politik, Kemasyarakatan, Demografi dan lain sebagainya dalam pelaksanaan pemerintahan.

Hilangnya penggunaan kekuasaan melalui cara-cara yang bersifat mistis dan metafisik telah dimulai sejak kemunculan rasionalitas barat di abad kelimabelas sampai keenambelas. Pada era renaissance muncullah para pangeran yang mengutamakan kompetensi dalam melawan kelompok tua yang feodal. Terlepas kekuasaan para pangeran yang semakin menguat diabad kelimabelas, enam belas dan tujuh belas, merupakan pembentukan ranah keilmuan yang sangat berguna untuk ketatanegaraan. Ternyata, dalam lingkaran para pangeran ini pun masih ada kelompok sejenis cenayang, penyihir dan peramal yang berperan penting sebagai penasehat spiritual.

Pada akhir abad keenambelas, mulai dilakukan reorganisasi ketatanegaraan dengan mengganti para peramal kerajaan dengan penasehat yang menyampaikan kebenaran melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi, perburuan penyihir pada akhir abad keenambelas tidak murni masalah kesesatan beragama, tapi sebuah gerakan untuk mempercepat kristenisasi dan mendorong terlaksananya Reformasi. Terlaksananya perburuan penyihir ini juga menghilangkan kelompok mistis dari area kerajaan, digantikan oleh para pendeta dan pada akhirnya, di abad pencerahan akan muncul kelompok baru, yakni para kanselir. Abad pertengahan ini sejatinya masa transisi yang diperlukan dalam pelaksanaan pemerintahan.

Foucault dalam pidatonya yang dibukukan ini berusaha menjelaskan mengenai perubahan ketatanegaraan sejak zaman pagan hingga abad pertengahan. Perubahan ini juga sebuah momentum dalam melakukan reorganisasi kerajaan. Memang penjelasan Foucault sedikit rumit dalam membahas permasalahan ini, dikarenakan terlalu filosofis dan sangat mendalam, namun itulah kelebihan pemikir perancis yang satu ini. Dari semua ulasan dia diatas, ada satu hal yang terpenting: sejatinya kekuasaan tidak terlepas dari bagaimana para penguasa menerjemahkan kebenaran yang ada disekitarnya atau bahwa me-manifestasi-kan nya dalam sebuah karya guna memperkuat posisinya, dan kita tidak bisa menafikkan peran penasehat dalam bentuk apapun akan mempengaruhi kekuasaan seseorang. Legitimasi dapat dibangun melalui hal mistis maupun ilmu pengetahuan. Inilah yang dikatakan Foucault sebagai rezim kebenaran, namun kebenaran menurut siapa, itulah yang menjadi tanda tanya besar. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.