Filosofi "Common Goods"

Filsafat Sep 14, 2017

Common goods sejatinya adalah Nilai Guna untuk pluralitas (masyarakat umum), sebuah barang yang dapat digunakan orang banyak, itulah common goods.


Massimo de Angelis - Omnia Sunt Communia

Judul Buku: Omnia Sunt Communia

Penulis: Massimo De Angelis

Penerbit: Zed Books

Tebal Buku: xvii+436 halaman

Tahun Terbit: 2017

Kali ini saya akan meresensi buku dari salah satu penerbit independen dan juga progresif, Zed Books. Sekilas penerbit ini memang tertarik dibidang sosial humaniora dan tidak menerbitkan buku-buku eksakta. Paling utama adalah masalah ekonomi, politik dan pembangunan yang terjadi di dunia. Sesuai dengan jargonnya “Platform for marginalised voices”, Zed Books memang selalu mengangkat isu-isu yang terpinggirkan semacam LGBT, hak-hak perempuan, kemiskinan, Land Grab dan masih banyak lagi. Buku yang akan saya tulis diresensi yang kali ini ialah karya dari Massimo de Angelis, seorang professor yang mengajar di University of East London dalam bidang ekonomi politik, ia menuliskan mengenai Common Goods di dalam perspektif non-kapitalis.

Common Goods sekarang sedang naik daun dalam pembahasan ekonomi politik. Banyak yang mempertanyakan apa makna dari Common Goods. Istilah ini dapat diartikan sebagai barang umum (secara sangat kasar, melalui google translate tanpa disaring terlebih dahulu), tapi adapun bisa dimaknai juga sebagai barang yang dimiliki khalayak umum (barang publik). Kata ini memiliki dua karakteristik: gabungan antara kata benda (goods) dengan tambahan kata sifat (common). Mereka adalah barang yang menjadi obyek sosial dari nilai, Nilai Guna. Sebuah objek untuk pemenuhan kebutuhan, keinginan dan aspirasi. Nah, common goods sejatinya adalah Nilai Guna untuk pluralitas (masyarakat umum), sebuah barang yang dapat digunakan orang banyak, itulah common goods.

Sebuah bandara adalah nilai guna untuk pluralitas seperti ruang publik lainnya, semisal kota, taman, jalan, dll. Komoditas yang diproduksi secara besar-besaran juga merupakan nilai guna untuk pluralitas dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tapi apa yang disebut dengan pluralitas disini sifatnya pasif, agar benar-benar suatu barang bisa disebut Common Goods, maka pluralitas itu tadi harus menjadi aktif sebagai pluralitas yang bermakna khalayak umum atau masyarakat/orang banyak dan mengklaim kepemilikan atas barang tersebut. Masyarakat yang mengklaim kepemilikan dari sebuah bentuk Nilai Guna (barang) tidak hanya bisa mengakses dan menggunakan Nilai Guna itu tadi, tapi juga harus bisa memproduksi dan mereproduksi Nilai Guna tersebut agar bisa dikonsumsi secara berkelanjutan. Masyarakat membentuk relasi dengan benda tersebut juga lingkungan dimana benda itu diproduksi. Akhirnya masyarakat tidak hanya memproduksi Nilai Guna tapi juga Nilai Relasi (antara manusia, benda dan lingkungannya). Dari nilai baru inilah, barang publik direproduksi dan didistribusikan ulang.

Karakter penting dalam Common Goods secara singkat adalah: barang yang memiliki nilai guna di masyarakat dan membutuhkan masyarakat untuk mengklaim kepemilikan atas barang tersebut. Menjaga kepemilikan ini hanya bisa dilakukan dengan keberadaan nilai relasi (relational values). Common Goods ini tidak bisa diproduksi kedalam sistem kapitalis karena berlawanan dengan adanya kontestasi yang ada didalam sistem kapitalis tersebut. Barang yang ada didalam sistem kapitalis adalah komoditas yang diperjualbelikan, sedangkan barang yang dimaksud dengan Common Goods ialah barang yang bisa dinikmati secara bebas oleh khalayak umum (tetapi khalayak umum tersebut wajib mereproduksinya jika ingin tetap mengkonsumsinya).

Jika dalam Common Goods berisi Nilai Guna dan Nilai Relasi, sedangkan dalam Komoditas ialah Nilai Guna dan Nilai Tukar. Nilai Tukar ini bukanlah hasil dari masyarakat yang mengklaim kepemilikan atas sebuah barang, Nilai Tukar hanya muncul dari pabrik dan masuk hanya dalam pasar bebas yang kompetitif. Komoditas inilah yang nantinya bisa masuk kedalam Kapital, bukan Common Goods. Jikalau pemahaman dalam sebuah masyarakat diubah dari produksi komoditas ke produksi dan reproduksi dari Common Goods, maka ada kemungkinan yang sangat besar bahwa Kapitalisme pasti hancur dalam lingkup masyarakat tersebut. Common Goods sangatlah bisa menjadi sebuah sistem sosial yang menggantikan Kapital dimasa depan. Tidak susah untuk menemukan Common Goods, secara sangat sederhana dan dangkal, Common Goods adalah barang yang dibagi, untuk tahu contohnya, tinggal cari saja disekitar anda, barang yang dibagi dua orang atau lebih.

Dibanding beberapa buku lain yang membahas mengenai Common Goods, Public Goods dan Common Ground, De Angelis disini menarik lebih kepada pengartian secara filosofis bukan kepada praksis, karena itu terlihat seperti mbulet, masalah ini sedang menjadi trending topic dalam pemikiran ekonomi politik di Eropa dan Amerika Serikat dan bisa jadi inilah yang akan menandingi kapitalisme dan komoditasnya. (rez)

Reza Maulana Hikam

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.