Feminisme, Buruh Versus Teknologi

Ekonomi Jul 02, 2017

Di tangan Kapitalisme, pengenalan akan teknologi baru hanya berfungsi sebagai alat produksi massal.


Ursula Huws - The Making of A Cybertariat

Judul Buku: The Making of a Cybertariat

Penulis: Ursula Huws

Penerbit: Monthly Review Press

Tebal Buku: xiv+208 halaman

Tahun Terbit: 2003

Tidak terasa sudah memasuki abad keduapuluhsatu, hanya beberapa abad sebelumnya Marx membicarakan mengenai pertarungan kelas, ekploitasi buruh, akumulasi kapital, dan lain-lain. Apa yang diceritakan Marx dalam kitabnya: Das Kapital volume satu sampai tiga (ada yang bilang empat) masih relevan dibahas sampai detik ini, di era digital. Namun agar komprehensif, maka sebuah teori harus bisa mengikuti perkembangan zaman, dan teknologi. Ursula Huws membahas tentang hubungan teori Marx dengan majunya teknologi di abad dua puluh satu.

Mungkin dulu pembuatan komoditas jual-beli dilakukan di rumah dan hanya berkembang sebagai perusahaan rumah. Sekarang industri rumah sudah digantikan dengan pabrik besar yang memiliki banyak teknologi yang modern pasca revolusi industri. Produksi secara massa di pabrik telah menciptakan rasionalisasi atas pengembangan metode kerja dan teknologi yang berdampak pada harga barang yang diproduksi menjadi lebih murah daripada diproduksi oleh industri rumah. Dengan adanya pabrik besar, maka rumah tidak pernah menjadi sebuah tempat produksi lagi dan membuat pekerjaan rumah menjadi sesuatu yang tidak ekonomis dan tidak produktif. Orang yang tinggal dirumah akhirnya menjadi konsumtif. Akan tetapi berbagai pekerjaan yang ada di masa kini adalah hasil pengembangan dari barang-barang yang dijual yang digunakan oleh ibu rumah tangga dan anak-anak kecil yang tidak bekerja, yang hanya tinggal dirumah saja.

Pergeseran paradigma industri rumah dan pabrik pun berdampak pada permasalahan gender. Dulu, tukang jual jamu dan dukun beranak yang praktek hanya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya (yang notabebe berjenis kelamin perempuan) sudah digantikan oleh dokter umum atau dokter bedah laki-laki, perempuan yang biasanya menjadi arbitrator dalam sebuah sengketa sudah digantikan oleh pengacara lelaki, akhirnya perempuan di era modern hanya mendapatkan pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaannya. Tradisi oral sebagai jalan edukasi digantikan menjadi tradisi membacayang sekali lagi dikontrol oleh kaum maskulin. Semua permasalahan diatas disebut sebagai proses dari sosialisasi tenaga kerja domestik, pembagian tenaga kerja menurut gender laki atau perempuan juga termasuk didalamnya.

Di tangan Kapitalisme, pengenalan akan teknologi baru hanya berfungsi sebagai alat produksi massal yang lebih cepat dan lebih banyak dengan tenaga kerja yang lebih sedikit. Tiap pengenalan ini selalu menggantikan pekerja handal dengan mesin. Tiap kali ada investasi berskala besar masuk dalam bentuk teknologi baru berarti akan ada PHK secara besar-besaran pula. Akibat kapitalisme pula, munculah kata “publik” dan “privat” dalam bekerja. Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan untuk menyediakan kesenangan dan ketenangan setelah melakukan pekerjaan dikantor yang memakan waktu banyak dan membuat stress seseorang, singkat kata, dirumah adalah untuk melepas penat.

Dalam tradisi pemikir marxis, bahkan para sosialis feminis, selalu menganggap teknologi baru sebagai “Hal Yang Baik”. Sebelum adanya kapitalisme, perempuan adalah properti yang dimiliki para lelaki untuk melakukan pekerjaan rumah yang tidak digaji dan terisolasi dari dunia luas. Lalu munculah dua bersaudara yang membawa kemajuan, yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang berkewajiban untuk mengubah pekerjaan domestik yang tidak berupah menjadi berupah diluar rumah. Dari sini lah muncul kelas pekerja yang menjual tenaga kerjanya untuk upah. Namun dalam beberapa dekade akhir, para sosialis feminis mengkritik perkembangan teknologi yang semakin menekan kelas pekerja, bahwa Ilmu Pengetahuan tidak lah netral dan adanya teknologi baru bukan meningkatkan kualitas pekerjaan tapi malah membuat para pekerja kehilangan pekerjaan dan kemampuan mereka, membuat mekanisme baru dalam bekerja, membawa kehancuran kondisi pekerjaan yang ada. Teknologi pun membuat manusia semakin malas dan lemah, semakin banyak alat yang berguna, maka semakin banyak manusia yang tidak berguna. Mereka membuat kita tergantung dalam melakukan segala macam pekerjaan. Apakah semua pembaharuan di bidang teknologi (mesin) ikut menunjang perkembangan dan perluasan pekerjaan, atau justru menjadi musuh bagi para manusia yang bekerja? Semua akan dijawab dalam buku ini.

Monthly Review selalu mengambil penulis dengan background marxis atau sosialis, jadi bagi kalian yang tertarik dengan pemikiran marxis atau sosialis di abad keduapuluhsatu, sangat direkomendasikan membaca buku-buku terbitan Monthly Review Press atau berkunjung ke website-nya, karena banyak artikel dari marxis modern.(rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.