Esai Seorang Marxis Perancis

Filsafat Jul 06, 2017

Althusser menyebutkan bahwa ideologi tidak memiliki sejarah, seperti etika.


Louis Althusser - Lenin and Philosophy

Judul Buku Lenin and Philosophy and other essays

Penulis Louis Althusser

Penerbit Monthly Review Press

Tebal Buku 253 halaman

Tahun Terbit 1971

Louis Althusser, seorang tokoh Marxian berkebangsaan Perancis. Ia adalah anggota Partai Komunis Perancis dan guru dari Etienne Balibar yang bersamanya menulis buku pengantar Marxisme, Reading Capital. Buku tersebut menjadi fenomenal dizamannya karena meringkas dengan komprehensif dan mudah dimengerti bahasanya. Namun kali ini peresensi akan membahas bukunya Althusser yang lainnya.

Buku ini berisi delapan esai Louis Althusser mengenai Marxisme dan bukan mengarah kepada ekonomi, tapi lebih kepada filsafat dan politiknya. Saya mengambil salah satu bagian yang menarik dari Marxisme adalah Infrastruktur dan Suprastruktur. Banyak yang masih bingung akan makna dua kata ini, ada yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang rumit dan susah dipahami, ada yang mudah menjelaskan tapi sejatinya tidak relevan sama sekali. Lalu bagaimana menurut si Louis?

Terlebih dahulu kita harus memahami bahwa pemaknaan tentang ‘Social Whole’ berbeda dengan ‘Totalitas’ Hegel. Marx telah menaruhkan susunan dari seluruh masyarakat seperti yang dibentuk dalam level atau contoh yang diartikulasikan oleh determinan khusus, yakni Infrastruktur atau basis ekonomi (kesatuan dari kekuatan produktif dan hubungannya dengan produksi) dan Suprastruktur yang berisi dua level juga, yakni Politico-Legal (Hukum dan Negara) dan Ideologi (berbagai macam ideologi, agama, etika, hukum, dsb). Dua hal ini yang membedakan Marx dari Hegel dan menjadikan Marx lebih unggul dibanding Hegel. Kemudahan dalam melihat struktur dari seluruh masyarakat membuat pemikiran Marx lebih banyak diikuti dengan bangunan dasar yang kuat ialah infrastruktur yang diatasnya dibangun dua lantai lagi yaitu suprastrukturnya.

Althusser menggunakan metafora yang mudah dipahami dengan maksud yang sangat jelas, bahwa dua lantai yang diatas tidak akan bertahan jika tidak ditopang olah dasar yang kuat. Metafora menggunakan gedung ini adalah contoh akan pentingnya basis ekonomi yang kuat yang akan menentukan apa yang terjadi di “atas”. Hal ini menandakan pentingnya infrastruktur yang akan menentukan arah gerak suprastruktur. Masalahnya hal diatas masih menjadi metafor dan bersifat deskriptif saja.

Suprastruktur pun ditentukan oleh efektivitas dari basis ekonominya. Indeks dari efektivitas ini didasarkan pada dua hal oleh tradisi pemikiran Marxisme, yang pertama, adanya otonomi yang relatif dalam suprastruktur dengan tetap menghormati infrastruktur dan yang selanjutnya ialah adanya timbal-balik dari suprastruktur kepada infrastruktur yang bersifat positif.

Adanya penjelasan lebih lanjut mengenai negara yang merupakan kumpulan aparat yang represif (digambarkan dalam Communist Manifesto dan Eighteenth Brumaire of Louis Boenaparte). Negara adalah mesin represi yang digunakan kelas penguasa untuk mendominasi kelas pekerja dalam melakukan pengihisapan/pemerasan nilai lebih (surplus value) atau ekploitasi kapitalis. Tiap negara memiliki ideologi masing-masing yang dianut, dan karena itu negara dan ideologi masuk kedalam suprastruktur yang berkaitan.

Ideologi pertama kali dikemukakan oleh Cabanis, Destutt de Tracy, dkk yang menempatkannya sebagai obyek dari teori mengenai Ide. Marx, lima puluh tahun kemudian, memiliki pengartian yang berbeda mengenai Ideologi. Menurutnya (Marx) ideologi adalah sebuah sistem dari ide dan representasi akan sesuatu yang mendominasi pemikiran sekelompok orang (pembahasan ini ditulis dalam artikelnya dalam Rheinische Zeitung). Sejak saat ini, Marx menemukan teori mengenai ideologi, yang lebih jauh lagi dibahas dalam bukunya, Ideologi Jerman. Teori dari ideologi selalu akan membahas mengenai posisis kelas sosial.

Althusser menyebutkan bahwa ideologi tidak memiliki sejarah, seperti etika. Bisa disinyalir kalimat ini keluar karena pandangannya yang sangat Marxis sehingga segala macam yang berbentuk imaterial akan ditolak keberadaannya, dan jika ditolak keberadaannya maka hilang pula sejarahnya karena tidak sesuai pemikirannya yang materialis, mengikuti bapak teorinya, Karl Heinrich Marx. Louis Althusser akan selalu dipandang sebagai pemikir Marxis garda depan dan turut andil dalam pengembangan teori-teori yang dikemukakan Marx. (rez)

Reza Maulana Hikam

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.