Berpikir ala Foucault, Memusingkan dan Menyenangkan

Filsafat Jan 17, 2018

Menurut Foucault sendiri, pemikirannya cocok dengan Nietzsche karena bukan merupakan seorang filsuf dalam bentuk yang kaku dan terikat oleh sebuah lembaga.


Judul Buku: Remarks on Marx

Penulis: Michel Foucault

Penerbit: Semiotext(e)

Tebal Buku: 187 halaman

Tahun Terbit: 1991

Buku usang ini merupakan sederetan buku Foucault yang benar-benar membuka pikiran, namun mudah dipahami. Tidak begitu tebal dengan sampul buku yang tidak menarik, bahkan membosankan, akan tetapi yang penting adalah isinya. Mungkin para pembaca akan terkejut saat membacanya pertama kali, karena buku ini bukanlah karya Foucault, namun sederetan pembicaraannya dengan Druccio Trombadori. Buku ini adalah pembuka bagi kalian yang ingin menyelami lebih dalam pemikiran Michel Foucault dan menjadi seorang Foucauldian. Dan resensi ini adalah pembuka atas sebuah pembuka.

Di awal pembicaraan mereka berdua, Foucault mengejewantahkan mengenai gaya berpikirnya, dimana orisinalitas menjadi pilihan utamanya (ini kenapa kita jarang melihat Foucault mengutip pemikir lain). Gaya berpikir semacam ini dipengaruhi oleh Nietzsche, tetapi apa yang ia tuliskan merupakan sebuah karya atas pengalaman yang pernah ia hadapi dan berusaha menguak sesuatu yang lebih dalam dibalik pengalaman itu. Buku karya Foucault yang kita baca sekarang merupakan rekam jejak hidup Foucault, yang berusaha ia jelaskan se-ilmiah mungkin. Itu kenapa kita akan kerap menemukan kata Me, I dan Myself dalam hampir seluruh tulisannya.

Menurut Foucault sendiri, pemikirannya cocok dengan Nietzsche karena bukan merupakan seorang filsuf dalam bentuk yang kaku dan terikat oleh sebuah lembaga, seseorang yang dicontoh oleh Foucault sejak dini. Ia tidak suka seperti di kampusnya yang menyuruhnya untuk mengikuti para pemikir filsafat yang terkemuka semacam Hegel. Salah satu yang berusaha dia pahami ialah Fenomenologi.

Pertanyaan yang muncul dari Trombadori ialah apa yang membedakan Foucault dengan filsuf fenomenologis lainnya? Jawaban Foucault bahwa seorang fenomenologi pada umumnya memperlihatkan pengalaman sebagai sebuah persepsi nyata akan kehidupan sehari-hari, namun mereka merasakan pengalaman tersebut seperti hal biasa dan berusahan memaknainya, sedangkan Nietzsche, disisi lain, mengambil posisi paling ekstrim dari kehidupan dan melakukannya agar mendapatkan pengalaman tidak memungkinkan, lalu memaknainya. Hal ini lah yang menjadi alasan kenapa Foucault kerap berperilaku sadomasokis dalam seksualitasnya (dia menyukai BDSM).

Fenomenologi sendiri selalu menganggap pengalaman sebagai sesuatu yang ada didalam diri manusia, didalam subyek atau penulisnya. Tetapi, berkaca dari Nietzsche, Foucault menganggap bahwa pengalaman adalah sesuatu diluar dari personal manusia. Ia (pengalaman) merupakan hal yang tidak menyatu menjadi manusia, sehingga dalam karya-karyanya, Foucault selalu melihat pengalamannya sebagai obyek kajian yang akan ia angkat dalam buku maupun perkuliahannya.

Adapun dalam beberapa karyanya, Foucault merasa masih belum begitu orisinil, ia hanya menuliskan ulang sejarah dalam bentuk yang berbeda, bahkan pada titik tertentu, ia menganggap tulisannya hanyalah sebuah kisah sejarah yang dituliskan kembali. Yang menjadi pembeda adalah usahanya dalam merasakan ide-ide yang ada dalam sejarah. Dia menyatakan bahwa dengan penggambaran mengenai pengalaman yang dia lakukan demi mengetahui sejarah sebuah gagasan seperti kegilaan, pengalaman itu yang membuatnya berbeda dan mengajak pembacanya untuk merasakan apa yang ia rasakan. Sehingga pada akhirnya Foucault dapat menjelaskan kegilaan sebagai sesuatu yang baru di era modern.

Tromabdori lalu menanyakan dimanakah letak kebenaran atas karya-karya Foucault? Beliau menjawab bahwa masalah benar atau salah itu dikembalikan kepada pembaca, yang berusaha ia berikan adalah pengalamannya dalam merasakan sesuatu dan menjelaskannya sedetail dan seilmiah mungkin agar pembaca dapat merasakan apa yang ia rasakan dalam bentuk kata dan kalimat. Bagi Foucault, kebenaran berada didalam pengalaman yang dituliskannya, kalaulah itu dianggap fiksi, menurutnya dunia ini memang penuh dengan kisah fiksi. Fiksi disini baginya adalah sesuatu yang telah dibuat.  

Untuk itu, entah paham atau tidak para pembaca yang budiman terhadap tulisan saya, itu saya kembalikan kepada diri kalian sendiri, entah ini buatan atau memang sebuah pengalaman dalam membaca bukunya Foucault, itu hak kalian untuk menilai. Terima kasih atas perhatiannya. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.