Categories
Serba-serbi

Berkenalan dengan Edward Lear, Pelukis cum Penulis Sajak Jenaka dari Inggris

Edward Lear bersanding dengan Lewis Caroll sebagai penulis yang dianggap mempopulerkan sastra jenaka (literary nonsense) era Victorian.

Bagi sebagian orang, nama Edward Lear mungkin terdengar asing. Tetapi, pembaca sastra klasik bahasa Inggris tentu familiar dengan nama Lewis Carroll, sang penulis buku Alice’s Adventures in Wonderland (1865). Baik Lear maupun Carroll, keduanya dianggap sebagai penulis yang mempopulerkan penggunaan nonsense verse. Keduanya sama-sama membantu kelahiran literary nonsense era Victorian. Dalam tulisan ini, istilah nonsense verse diterjemahkan sebagai ‘sajak jenaka.’ Sajak jenaka berbeda dengan istilah ‘cerita jenaka’ (fabliau atau farcical tales).

Dalam sastra Indonesia, terdapat istilah cerita jenaka yakni sebuah cerita yang menjadi bagian dari cerita rakyat, memuat unsur lucu, bersifat menghibur, edukatif, dan memiliki kritik sosial. Sedangkan nonsense verse atau sajak jenaka berbentuk sajak ringan, menggambarkan karakter imajinatif yang menghibur (fantasi). Bernada ganjil, namun memiliki daya tarik ritmis. Serta kerap memasukkan ungkapan khayali dan kata-kata bualan. Biasanya ditujukan bagi anak-anak.

Permainan kata dalam sajak jenaka—terutama yang populer dari Edward Lear—murni berisi karakter imajinatif, berada di dunia khayali. Terkadang memasukkan istilah buatan sendiri dan tanpa bertujuan satir. Meskipun demikian, sajak jenaka Lear tidak semuanya berisi bualan. Hasil dari bongkar-pasang hingga membikin-bikin istilah ajaib dalam sajak jenaka Lear juga timbul dari penyimpangan logika.

Pelukis Burung untuk Museum Inggris

Edward Lear lebih dikenal sebagai pelukis lanskap di negeri kelahirannya, Inggris. Ia lahir di Holloway tanggal 12 Mei 1812. Lahir dari keluarga kelas menengah Inggris, ia adalah anak ke-20 dari 21 bersaudara. Ibunya bernama Ann Clark Skerrett dan ayahnya Jeremiah Lear. Kehidupan Lear sejak kecil tidak terlalu beruntung. Meski ayahnya sempat sukses sebagai makelar saham di London, pasca peperangan era Napoleon, ia turut mencatatkan default ketika pasar saham ambruk. Ayahnya pun bangkrut. Lear berusia 13 tahun kala itu.

Sejak usia empat tahun, Lear tinggal bersama kakak tertuanya, Ann, hingga kakaknya wafat. Saat kondisi keuangan keluarganya memburuk dan ayahnya sempat dipenjara karena tak mampu membayar hutang-hutangnya setelah default, ia berada di bawah asuhan kakak perempuan tertuanya, Ann. Ketika kondisi keuangan keluarganya pun membaik, ibunya memutuskan untuk membiarkan Lear diasuh kakaknya.

Kakaknya lah yang bertindak sebagai ibu baginya, peran yang diambil Ann sepenuh hati. Meskipun Lear tidak mengenyam pendidikan yang cukup, namun kakaknya mendorongnya untuk membaca buku-buku sesuai usianya yang membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat belajarnya. Ann turut mendorong Lear untuk terus mengasah keterampilan menggambarnya. Keduanya sama-sama tak menikah hingga akhir hayat mereka.

Kesulitan keuangan di keluarganya menjadi salah satu alasan ia memulai karir menjadi seniman di usia 15 tahun. Ia kemudian bekerja untuk British Museum, membuat lukisan burung untuk John Gould, ahli ilmu burung. Publikasi pertama dari lukisannya adalah Family of Psittacidae, or Parrots (1830), kala itu Lear berusia 19 tahun. Kesempatan melukis itu ‘diperolehnya’ setelah mengajukan izin ke Zoological Society of London pada Juni 1830 untuk melukis koleksi burung beo mereka.

Dari kegiatan melukisnya itu, ia bertemu dan berbincang dengan Lord Stanley, kelak menjadi Earl of Derby ke-13. Lord Stanley kemudian memintanya untuk melukis burung dan mamalia dari kandang burung dan kebun binatang miliknya di Knowsley. Di tahun 1832, Earl of Derby mengundang Lear untuk tinggal di kediamannya. Di kediaman Derby itulah Lear menulis sajak untuk menghibur cucu-cucu Earl of Derby. Lear sendiri memiliki ketertarikan dan mudah dekat pada anak-anak. Ia mulai menulis pantun pendek. Sajak-sajak menghibur nan jenaka bagi cucu-cucu keluarga Derby. Jadilah A Book of Nonsense (1846, lantas diperbesar di 1861) sebagai buku sajak pertamanya. Ia tinggal di kediaman keluarga Derby hingga 1837.

Di tahun 1835, Lear memantapkan hatinya untuk fokus sebagai pelukis lanskap. Lear banyak bepergian selama hidupnya. Sejak 1837 ia berangkat ke Roma, meninggalkan Knowsley. Keputusannya didukung oleh Earl of Derby. Meskipun berjauhan, hubungan Lear dan keluarga Earl of Derby masih bertahan baik. Bahkan, pasca wafatnya Earl of Derby ke-13, saat Lear bepergian ke Eropa selatan hingga ke wilayah yang lebih jauh lagi, Earl of Derby ke-14 dan ke-15 terus membeli karya-karyanya.

The Mountains of Thermopylae_Edward Lear
The Mountains of Thermopylae, 1852

Di antara negara-negara yang dikunjungi Lear ialah Italia, dimana ia berkunjung selama tiga tahun pada 1837. Mengunjungi Yunani dan Mesir di tahun 1848-1849. Berkeliling India dan Ceylon di tahun 1873-1875. Termasuk pula Albania, Palestina, dan Suriah. Ia juga sempat memberi kursus melukis singkat bagi Ratu Victoria. Sajak-sajaknya juga ditulis selama kunjungannya ke negara-negara itu. Terinspirasi oleh lanskap yang dikunjunginya di tiap negara.

The Pelican Chorus
We live on the Nile. The Nile we love.
By night we sleep on the cliffs above;
By day we fish, and at eve we stand
On long bare islands of yellow sand.
And when the sun sinks slowly down
And the great rock walls grow dark and brown,
Where the purple river rolls fast and dim
And the Ivory Ibis starlike skim,
Wing to wing we dance around,—
Stamping our feet with a flumpy sound,—
Opening our mouths as Pelicans ought,
And this is the song we nightly snort;—
   Ploffskin, Pluffskin, Pelican jee,—
   We think no Birds so happy as we!
   Plumpskin, Ploshkin, Pelican jill,—
   We think to then, and we thought so still.

Sepanjang kunjungannya ke negara-negara itu, Lear juga menghasilkan beberapa karya lukis dan tulis. Di antaranya: Illustrated Excursions in Italy (volume I dan volume 2, 1846), Journals of a Landscape Painter in Albania, &c. (1851, buku perjalanan bergambar), A Book of Nonsense (1846 & 1861), Nonsense Songs, Stories, Botany, and Alphabets (1871), More Nonsense, Pictures, Rhymes, Botany, etc. (1872), dan Laughable Lyrics (1877).

Hidup Seorang Petualang yang Malang

Vivien Noakes, seorang penulis biografi asal Inggris (1937-2011), menulis biografi Edward Lear dengan subjudul: Hidup seorang Petualang (The Life of a Wanderer). Mengingat frekuensi bepergian Lear dan negara-negara yang dikunjunginya, subjudul ini boleh dikata tepat. Tetapi, juga menyiratkan kegamangan, ketidakpastian tujuan, dan kesepian yang menghiasi hidup Lear. Emosi ini dapat ditangkap pada sajak-sajak jenaka Lear yang menggambarkan karakternya dalam kondisi yang tidak beruntung, murung, atau dalam kondisi aneh.

Barangkali perasaan itu juga didapat Lear dari kondisi kesehatannya yang kurang baik. Sejak usia lima tahun, ia menderita epilepsi. Di masa itu, kejang karena epilepsi dianggap kerasukan iblis. Bagi Lear, ‘iblis’ ini lah yang menjadi sumber rasa malu dan tidak percaya dirinya. Bahkan, hampir-hampir tidak ada orang di luar keluarganya yang mengetahui bahwa ia menderita epilepsi. Sebuah ‘aib’ yang harus ia ‘simpan’. Selain itu, ia juga memiliki sakit bronkitis dan asma. Di kemudian hari, ia juga mengalami kebutaan parsial.

Hubungan romansanya pun kurang beruntung. Ia dua kali ditolak oleh gadis yang sama, 46 tahun lebih muda darinya yang dipanggilnya ‘poor little Gussie’. Sekitar November 1867, setelah menerima surat dari Gussie di bulan Oktober, ia memutuskan untuk berangkat menemuinya. Ia akan melamar Gussie. Tetapi, ia memutuskan untuk berbicara dulu dengan kakak Gussie, Emma. Seolah ia tidak sanggup (kalau-kalau) menerima penolakan secara langsung. Entah apa saja yang dibicarakan, tetapi lamaran itu tidak berhasil. Ia menulis di buku hariannya, ‘Terimalah takdir yang sepi ini—ditahbiskan mungkin—atau akibat yang jelas dari sebab—dan manfaatkan sebaik-baiknya.’

Setelah penolakan itu, sebelum berangkat ke Prancis selatan pada 26 November 1867, ia menulis cerita untuk anak dari kakak laki-laki Gussie. ‘Once upon a time, a long while ago, there were four little people whose names were Violet, Slingsby, Guy and Lionel; and they all thought they should like to see the world…’ 

courtship-of-the-yonghy-bonghy-bo

The Courtship of the Yonghy-Bonghy-Bò
‘Lady Jingly! Lady Jingly!
Sitting where the pumpkins blow,
Will you come and be my wife?’—
Said the Yonghy-Bonghy-Bò.
‘I am tired of living singly,—
On this coast so wild and shingly,—
I’m a-weary of my life:
If you’ll come and be my wife,
Quite serene would be my life!’—
Said the Yonghy-Bonghy-Bò,
Said the Yonghy-Bonghy-Bò.

“Tidak ada orang bernama Edward Lear”

‘Aneh rasanya (dan kamu pun akan berkata demikian kalau melihatku) bahwa aku adalah orang yang membuat tiga atau empat ribu orang sekaligus tertawa di Inggris,’ tulis Lear setelah publikasi More Nonsense di 1871. Namun, buku pertamanya lah yang lebih populer, A Book of Nonsense. Hingga Routledge mencetak ulang terus-menerus. Awal bulan Desember 1866 saja, buku itu sudah masuk cetakan ketujuh belas.

Sayangnya, ternyata ada juga yang mempercayai bahwa A Book of Nonsense adalah buku karya Earl of Derby. Orang-orang berpikir Edward Lear adalah anagram atau nama pena dari Earl of Derby, karena ia tidak ingin dikenal dengan julukan bangsawannya. Serta bahwa buku itu didedikasikan untuk cucu-cucu keluarga Derby (Lear memang menulis buku itu untuk mereka). Ini menarik sekaligus miris bagi Lear karena orang-orang berasumsi ‘Lear’ adalah anagram dari ‘Earl’.

Suatu ketika saat bepergian via kereta, Lear duduk di kompartemen yang sama dengan seorang pria gemuk, dua wanita, dan anak-anak yang membaca A Book of Nonsense. Si pria gemuk bercerita bahwa sepatutnya kita berterima kasih pada Earl of Derby karena menulis dan menerbitkan buku sajak ini.

EdwardLearSelfPortrait
Lear menunjukkan namanya di topinya ke orang asing yang meragukannya untuk membuktikan bahwa Edward Lear ada dan bukan sekadar nama. (Wikimedia Commons)

Lear secara spontan menjawab, “Itu tidak benar: Saya punya alasan bahwa Edward Lear si pelukis dan penulis menulis dan mengilustrasikan seluruh isi buku.” Si pria gemuk menjawab, “Dan saya pun punya alasan bahwa Anda benar-benar keliru. Tidak ada orang bernama Edward Lear.” Lear berkata, “Ada! Saya lah orangnya dan saya yang menulis buku itu!” 

Semua orang di kompartemen itu tergelak. Lantas Lear melepas topinya dan menunjukkan kepada mereka, tertulis nama Edward Lear dan alamatnya dalam huruf yang cukup besar. Ia juga menunjukkan kartu nama dan sapu tangannya yang bertanda nama Edward Lear. Mereka terkesima sekaligus marah, sedangkan Lear pergi dari kompartemen itu.

The Greatest Nonsense

Meski Lear mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melukis dan memang lebih terkenal sebagai pelukis lanskap di Inggris dan di tempat-tempat yang dikunjunginya, sajak-sajak jenakanya kelak justru lebih dikenal. Ia termasuk jajaran penyair yang bersanding dengan Lewis Carroll dalam membawa genre literary nonsense untuk era Victorian. Lear termasyhur karena mempopulerkan bentuk limerick (pantun jenaka).

There was an old man in a boat

There was an Old Man in a boat,
Who said, “I’m afloat! I’m afloat!”
⁠When they said, “No, you ain’t”
⁠He was ready to faint,
That unhappy Old Man in a boat.

Pantun jenaka yang diusung dan dipopulerkan Lear bergaya khas. Diawali dengan individu, ‘seseorang’, ‘seorang pria’, atau ‘seorang wanita’ yang penampilan atau perilakunya unik. Disusul dengan tindakan nyentrik apa yang mereka lakukan. Tergantung bagaimana masing-masing orang memaknai pantun jenaka Lear, keganjilan yang terjadi pada setiap tokoh atau individu dalam pantunnya kerap kali berakhir pada ketidakjelasan, kemalangan—dan betapa konyol hal itu—yang menimpa mereka.

Tak bisa dipungkiri pula bahwa sajak-sajak jenaka Lear, berikut ilustrasinya, ditulis bagi anak-anak yang ia temui sepanjang hidupnya. Cucu-cucu Earl of Derby ke-13, keponakan Gussie, Janet—anak dari John Addington Symonds, mereka bertemu di Cannes. The Owl and the Pussy-cat, lagu jenaka pertamanya (kelak turut termasyhur) ‘dihadiahkan’ Lear untuk Janet.

Saat Lear menulis karyanya, belum ada yang namanya genre literatur jenaka (literary nonsense). Bagi Lear, kata-kata bermakna sesuatu yang menyenangkan dan bisa ngawur, seperti pantun-pantun jenakanya. Namun, sulit untuk mendefinisikan dengan ringkas apa saja unsur dari sajak jenaka itu.

Lewis Carroll dan Edward Lear sendiri bisa memiliki unsur berbeda dalam tulisan sajak jenaka mereka. Carroll adalah matematikawan, sedangkan Lear tidak secara profesional terlatih untuk masalah logika. Tetapi, penulisan literatur jenaka itu sendiri meski kelihatannya disusun dari kata-kata dan istilah yang ngawur, bait-bait itu jelaslah disusun dan dimainkan oleh pikiran yang rasional, metodis.

Tidaklah jelas apakah Carroll dipengaruhi oleh Lear, atau Lear yang dipengaruhi Carroll. Lantaran tampaknya keduanya tidak pernah berbincang. Alice’s Adventures in Wonderland (atau Alice in Wonderland) diterbitkan pada Juni 1865. Sebelum itu, Lear hanya ada pantun jenaka dan History of the Seven Families.

Tetapi, lima bulan sebelum Alice in Wonderland diterbitkan, Lear sendiri sudah menciptakan Land of Gramblamble, the Lake Pipple-popple, Soffsky-Poffsky trees, the Plumpudding Flea, the Clange-Wangle, dan Tiggory-trees. Kelihatannya Lear dan Carroll saat itu mengembangkan literatur jenakanya pada saat yang bersamaan tetapi sendiri-sendiri.

Berkenalan dengan Edward Lear, Pelukis cum Penulis Sajak Jenaka dari Inggris 1

There was an Old Man who said, “Hush!
I perceive a young bird in this bush!”
⁠When they said, “Is it small?”
⁠He replied, “Not at all!
It is four times as big as the bush!”

Akhir yang Sunyi

Tahun 1870-an, Lear menetap di Sanremo, Italia. Di sebuah villa yang dinamai “Villa Tennyson.” Kawan karibnya adalah Giorgio, seorang juru masak asal Albania, dan kucingnya, Foss. Giorgio lebih dulu meninggal pada 8 Agustus 1883. Kepergian Giorgio membawa kepedihan mendalam bagi Lear. Setelah kawan karibnya itu tiada, Lear jadi memikirkan mengenai hidup setelah kematian dan mulai menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan kalau-kalau ia meninggal nanti.

Dimulai dari memilih lokasi untuk makamnya, lalu peletakan batu nisannya. Memilah-milah barang miliknya, mana saja yang akan diwasiatkan untuk kawan-kawannya. Ia ingin bangkit dari kesedihan dengan menuliskan nama-nama orang yang telah berjasa baginya. Mulai dari Ann, kakaknya. Ia sebenarnya juga ingin menghibur diri dengan mengunjungi tempat-tempat yang belum didatanginya seperti Jepang, Jawa, Madeira, atau Amerika Selatan. Tetapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.

Lear_1887
Edward Lear, 1887 (Wikimedia Commons)

Selain itu, ia mengalami kesulitan keuangan. Penjualan buku-bukunya di London tak lagi bagus. Sulit sekali menemukan orang yang mau membeli lukisannya. Ia jatuh sakit, radang selaput pleura. Kawan karibnya yang lain, Foss meninggal tahun 1886, upacara pemakamannya dilaksanakan di taman villa itu. Dua tahun kemudian, Lear menyusul Foss. Ia meninggal di Sanremo, Italia pada 29 Januari 1888 di Villa Tennyson. Ia dikuburkan di pemakaman Foce di Sanremo.

Lear meninggal pada hari Minggu, pukul 2:20 dini hari. Pemakamannya dikabarkan begitu menyedihkan. Kawan-kawannya tak bisa hadir. Di penghujung waktunya, Lear berujar pada Giuseppe—tukang kebunnya, “Ya Tuhan, Giuseppe, rasanya kini aku sekarat. Tolong sampaikan ke kawan-kawan dan kolega-kolegaku bahwa aku memikirkan mereka, terutama sang Hakim dan Lord Northbrook dan Lord Carlingford. Terima kasihku tak terkira ke kawan-kawanku yang baik atas kebaikan yang selalu mereka lakukan kepadaku.”*


Sumber dan saran bacaan tentang Edward Lear
  1. Edward Lear di Project Gutenberg
  2. Edward Lear, Nonsense Book, di Internet Archive atau lainnya
  3. Edward Lear di Google Play Books
  4. Biografi Edward Lear, Britannica
  5. Edward Lear Society website
  6. Edward Lear diulas di Poetry Foundation
  7. Matthew Bevis, On Rationality and Nonsense (esai di The Institute of Art and Ideas, 2019)
  8. Mengenai Nonsense Verse
  9. George Orwell, Nonsense and Poetry (esai di Tribune, 1945)
  10. Vivien Noakes, Edward Lear: The Life of a Wanderer (biografi, 1969)
Lear and Foss in San Remo
Lear dan Foss (kucingnya) di San Remo

By Kedai Resensi Surabaya

Resensi singkat dan segala macamnya. Dikelola oleh dua orang mahasiswa pegiat literasi dan berbasis di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.