Categories
Serba-serbi

Apakah Zapatista adalah Perjuangan Anti-Kapitalis?

Perjuangan dari martabat untuk martabat, maka, adalah perjuangan anti-kapitalis.

oleh John Holloway

*Artikel ini awalnya diterbitkan dalam Bahasa Spanyol dalam Rebeldia No. 1 (Mexico City, November 2002). Pertanyaan mengenai judul diajukan oleh para penyunting dari jurnal tersebut. Beberapa gagasan yang disuguhkan di sini dikembangkan dalam Holloway (2002). Untuk Eloina Peláez, terima kasih banyak.

Diterjemahkan oleh Reza. Foto: Susana Gonzalez/Newsmakers via Latinousa.org


Gerakan Zapatista adalah (is) gerakan bermartabat. Bukanlah telah (was): adalah (is). Dan tidak hanya untuk pribumi, tapi semuanya.

Martabat adalah sebuah gerakan. “Ini dan itu harus dibuat sebuah jalan untuk dilalui” (ujaran EZLN, 27 Februari 2001, di Puebla). Itu adalah sebuah ‘perjalanan susah dan berbahaya, sebuah penderitaan, sebuah pengembaraan, sebuah ketersesatan, sebuah pencarian akan tanah air yang tersembunyi, penuh gangguan yang tragis, mendidih, penuh dengan lompatan, letusan, janji kesepian, tanpa akhir sarat dengan kesadaran akan cahaya.’ (Bloch 1964, Vol. 2, hlm. 29)

Martabat tidak bergerak dalam sebuah jalan yang lurus. Jalur yang akan dijalani adalah jalur yang majemuk yang dibuat dalam proses perjalanan: jalur yang menolak pengartian. Lebih dari sekedar gerakan, ia adalah sebuah perjalanan, sebuah pengembaraan.

Sebuah perjalanan, tapi bukan hanya berjalan-jalan saja. Martabat selalu sebuah perjalanan melawan sesuatu. Melawan segala hal yang menolak martabat.

Apakah hal-hal yang menolak martabat? Semua yang memaksakan sebuah topeng untuk kita dan memenjarakan kita dalam topeng itu.[1] Dunia tanpa martabat berkata kepada kami, “anda adalah pribumi, jadi itulah yang dapat anda lakukan”; “anda adalah seorang wanita, itu sebabnya anda melakukan apa yang anda lakukan”; “anda homoseks, itu sebabnya anda berperilaku seperti ini”; “anda sudah tua dan kita tahu seperti apa orang tua itu”. Dunia tanpa martabat melampirkan diri kita pada sebuah definisi. Ia berkata kepada kita “jalanmu sejauh ini, anda tidak bisa melangkah lebih jauh”. Dan ia berkata lagi kepada kita “anda harus berjalan di jalan raya, bukan kemanapun yang anda inginkan”. Dunia tanpa martabat membatasi kita, mendefinisikan kita, tapi ia tidak mendefinisikan kita secara eksternal tapi dengan sebuah definisi yang menekan keberadaan kita.

Tapi dari mana topeng tersebut muncul? Apakah rasisme? Apakah seksisme? Apakah homofobia? Ialah dari mereka semua. Tapi ia lebih dari mereka semua. Kita semua dipaksa menggunakan topeng. Kita semua terjebak dalam waktu yang homogen dan linear, waktu yang hanya berjalan ke depan, dalam sebuah garis lurus, waktu yang menolak kreatifitas kita, kemampuan kita untuk melakukan hal lain. Tidak hanya pribumi tapi seluruh diri kita dipaksa melihat film yang sama tiap hari: “Kita ingin kehidupan seperti dalam program film yang mana dapat memilih film yang berbeda-beda tiap hari. Sekarang kita telah bangkit dan membawa senjata karena lebih dari lima ratus tahun, mereka telah mewajibkan kita untuk melihat film yang sama setiap hari” (Subcomandante Marcos, La Jornada, 25 Agustus 1996). Tapi ada sebuah perubahan dari film yang kita dipaksa menontonnya setiap hari: ia semakin menjadi penuh kekerasan. Ia menjadi semakin jelas tiap hari bahwa waktu linear yang membawa kita ke depan, jalan raya lurus yang mana kita dipaksa menjalaninya, mengarahkan langsung kepada kehancuran diri sendiri dari kemanusiaan.

Kekuatan apa ini yang memerangkap kita dalam waktu yang linear, yang membuat kita berjalan dalam jalan yang lurus menuju kehancuran diri sendiri, yang memerangkap perbuatan dalam topeng keberadaan? Apakah hal ini yang menegasikan martabat kita?

Ialah pemecahan dari perbuatan. Martabat kita adalah perbuatan, kemampuan kita untuk berbuat dan berbuat sesuatu yang berbeda. Semut tidak memiliki martabat: mereka berbuat, tapi mereka tidak bisa memproyeksikan sebuah perbuatan yang berbeda untuk hari esok. Karena itu waktu mereka linear. Tapi “hal itu yang membuat langkah kita bangkit di atas hewan dan tumbuhan, hal itu yang membuat bebatuan ada di bawah kaki kita” (EZLN, La Palabra, Vol. 1, hlm. 122) adalah kita berbuat dan memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu yang beda, untuk membuat sesuatu. Kita dapat merencanakan suatu perbuatan lalu melakukannya. Kemampuan ini untuk berbuat selalu bersifat sosial, apakah tampak seperti itu atau tidak. Perbuatan kita selalu mensyaratkan perbuatan orang lain, di masa kini dan di masa lampau. Perbuatan kita selalu menjadi bagian dari sebuah arus sosial dari perbuatan di mana hasil perbuatan mengalir ke perbuatan orang lain.

Tapi di masyarakat masa kini, arus sosial dari perbuatan dirusak. Kapitalis mengambil apa yang menjadi perbuatan dan berkata “hal ini adalah milikku, milikku, milikku!” Dengan mengambil perbuatan, ia memecah arus sosial dari perbuatan, karena perbuatan selalu membangun di atas apa yang sudah diperbuat (hasil perbuatan). Dengan mengambil hasil perbuatan, para kapitalis mampu memaksa pembuat untuk menjual kemampuan mereka untuk berbuat (yang diubah menjadi kekuatan bekerja) kepadanya, sehingga ia sekarang memberitahu apa yang harus mereka perbuat. Dengan hal itu, si pembuat kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu yang berbeda: sekarang mereka harus berbuat apa yang diperintahkan.

Kapital adalah sebuah proses dari pemisahan. Ia memisahkan hasil perbuatan dari perbuatan, dan maka dari itu pembuat dari hasil perbuatan dan dari perbuatan mereka sendiri. Dalam gerakan yang sama, pembuat terpisah dari kekayaan yang telah mereka buat dan dari kemampuan untuk berbuat hal lainnya. Kita dibuat miskin dan dirampas dari subjektifitas kita. Kapital adalah sebuah proses pemisahan kita dari kekayaan atas buatan sosial manusia, dari martabat kita, dari peluang untuk melihat film yang berbeda di hari esok.

Dengan memisahkan pembuat dari kemampuan untuk berbuat berbeda, kapital merendahkan perbuatannya. Kapitalisme adalah rezim dari “apa adanya”, “seperti itulah hidup”, “anda adalah perempuan dan begitulah perempuan”, “anda pribumi dan begitulah pribumi”. Di balik rasisme, seksisme, homofobia berdiri sebuah permasalahan yang lebih umum: dominasi dari topeng, label, identitas. Di balik penolakan tertentu dari martabat (“anda adalah orang India, seorang perempuan”) bersandar penolakan martabat yang lebih umum (“anda adalah anda, tidak lebih”). Martabat adalah perjuangan melawan negasinya sendiri: perjuangan untuk martabat di awali sebagai sebuah perjuangan melawan penolakan tertentu atas martabat (diskriminasi terhadap pribumi, terhadap perempuan), dan ia mengarah terus-menerus menuju saling pengakuan atas martabat, menuju persatuan martabat. Jalan-jalan bersimpangan, mengalir bersama, terpecah dan tergabung, mengalir dalam satu arah yang sama. Semua martabat yang sama, jika mereka jujur, dihadapkan tidak hanya pada negasi martabat tertentu, tapi terhadap negasi umum dari martabat yang menekankan sebuah label dan merendahkan potensi kita sebagai manusia kepada label tersebut. Gerakan dari martabat mengarahkan kita tidak hanya melawan penghinaan tertentu, tapi membawa kita lebih jauh, melawan penghinaan secara umum. Dan penghinaan secara umum adalah pelabelan orang, perendahan perbuatan kepada keberadaan. Dan penghinaan yang sangat amat buruk ini yang mana sekarang mengancam untuk menolak kemanusiaan dan mengarahkannya kepada kehancuran absolut dari kemanusiaan, penghinaan yang amat sangat ini muncul sederhananya dari jalan di mana perbuatan telah diorganisir, dari fakta bahwa kapital adalah pemisahan hasil perbuatan dari perbuatan, dengan apapun yang mengikuti hal itu.

Perjuangan dari martabat untuk martabat, maka, adalah perjuangan anti-kapitalis. Tapi hal ini harus tidak menjadi label baru (“aku adalah sosialis, kamu adalah liberal”, “aku adalah seorang komunis, kamu adalah revisionis”). Perjuangan melawan kapital adalah perjuangan melawan proses pemisahan itu adalah kapital: pemisahan atas hasil perbuatan dari perbuatan, pemisahan dari kekayaan yang kita bentuk dari diri kita sendiri, pemisahan dari subjektifitas kita, martabat kita dari diri kita. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan melawan pemisahan, perjuangan untuk membawa bersamaan sesuatu yang dipisah oleh kapital, perjuangan untuk sebuah bentuk berbeda dari perbuatan, sebuah cara yang berbeda untuk menghubungkan satu dengan lainnya sebagai subjek yang aktif, sebagai pembuat. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan untuk mengemansipasi perbuatan dari keberadaan, perjuangan untuk membuat secara eksplisit arus sosial dari perbuatan. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan untuk membuat sebuah masyarakat didasarkan kepada pengakuan bahwa martabat di tempat yang didasarkan pada negasi martabat.

Bagaimana kita bisa melakukannya? Apakah memungkinkan? Kita bisa berjuang, pastinya, tapi apakah benar-benar memungkinkan untuk membentuk sebuah masyarakat didasarkan kepada martabat, sebuah masyarakat yang melampaui kapitalisme? Apakah memungkinkan untuk membangun cara-cara alternatif dalam perbuatan di dalam kapitalisme, atau apakah kita tidak harus menghancurkan kapitalisme terlebih dahulu untuk membuat kemungkinan semacam itu? Apakah memungkinkan untuk membuat dan memperluas ruang martabat atau bukankah ruang semacam itu terikat untuk ditekan atau diserap olehnya? Apakah memungkinkan untuk membuat dan memperluas ruang kemartabatan di mana kapitalisme dihancurkan dan sebuah masyarakat didasarkan pada saling penghormatan dari martabat terbentuk?

Pernah disampaikan bahwa satu-satunya cara untuk membangun relasi sosial didasarkan pada martabat adalah untuk menghancurkan kapitalisme terlebih dahulu lalu membuat masyarakat yang baru. Telah disampaikan bahwa perubahan dari kapitalisme menuju komunisme cukuplah berbeda dari perubahan dari feodalisme ke kapitalisme. Kapitalisme bertumbuh dari celah feodalisme, di dalam ruang yang ditinggalkan terbuka oleh dominasi feodal, tapi, dikatakan bahwa hal yang sama tidak dapat terjadi dengan komunisme: pembangunan dari relasi sosial baru membutuhkan kontrol kesadaran dari perbuatan sosial dan hal ini hanya dapat diperkenalkan pada tingkat masyarakat yang sebagai satu kesatuan. Perubahan dari kapitalisme menuju sebuah bentuk berbeda dari masyarakat oleh karena itu tidak dapat terjadi dengan perantara: ia hanya bisa terjadi dengan perebutan kekuasaan pada inti dari masyarakat, yang akan mengizinkan pengenalan terhadap sebuah kesosialan baru.

Permasalahan dengan argumen lawas adalah, terlepas dari segala hal lainnya, ialah cukup tidak realistis. Ia mengandaikan dunia adalah penjumlahan dari masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda, masing-masing dengan negaranya sendiri, jadi tiap negara dapat dipahami sebagai pusat dari masyarakatnya. Tapi sekarang jelas bahwa dunia kapitalis tidak seperti itu dan tidak pernah seperti itu. Kapital adalah sebuah relasi teritorial yang penting, dalam arti bahwa faktanya bahwa relasi sosial dimediasi oleh uang berarti bahwa pengeksploitasi kapitalis dapat secara mudah berada di London dan pekerjanya berada di Afrika Selatan, atau produsen dari sebuah produk bisa di Puebla dan konsumennya ada di Hong Kong. Masyarakat kapitalis, maka, bukanlah sejumlah masyarakat yang dibatasi wilayah: ia adalah (dan selalu) satu masyarakat global yang didukung oleh sejumlah banyak negara. Untuk menguasai satu negara, maka, bukan untuk menaklukkan kekuasaan pada pusat masyarakat, tapi hanya untuk menduduki (dalam kasus terbaiknya) sebuah ruang tertentu dalam masyarakat kapitalis. Dengan kata lain, jika kita meninggalkan peluang untuk mengambil alih kekuasaan di seluruh atau kebanyakan negara pada waktu yang sama, satu-satunya cara yang memungkinkan untuk membayangkan perubahan revolusioner sebagai perubahan perantara, sebagai sebuah perubahan yang membawa celah dalam masyarakat kapitalis.

Kita tidak dapat memikirkan perubahan radikal, sebagai sesuatu yang dibawa dari atas, atau sebagai pengenalan dari perencanaan pusat. Revolusi hanya bisa menjadi sebuah bangunan dari bawah. Tapi bagaimana kita bisa membangun martabat dalam sebuah masyarakat yang secara sistematis menegasikan martabat, bagaimana bisa kita membuatnya begitu kuat sehingga ia menegasikan masyarakat yang menegasikan diri kita?

Ialah pertanyaan bukan mengenai revolusi, tapi juga bukan pemberontakan saja.[2] Ia adalah pertanyaan mengenai revolusi.[3] Revolusi (dengan R kapital), dipahami sebagai pendahuluan dari perubahan dari atas, tidak akan bekerja. Pemberontakan adalah perjuangan atas martabat dan akan tetap ada selama martabat dinegasikan. Tapi hal itu tidak cukup. Kita memberontak karena kita pemberontak, karena kita manusia. Tapi kita tidak hanya ingin berjuang melawan negasi martabat, kita ingin membuat masyarakat didasarkan pada pengakuan atas martabat. Tidak hanya pemberontakan, bukan Revolusi, tapi revolusi. Tapi apa maksudnya dan bagaimana kita melakukannya? Dalam perjuangan revolusioner ini, tidak ada bentuk-bentuk, tidak ada resep-resep, hanya sebuat pertanyaan penting yang penuh keputusasaan. Bukan pertanyaan hampa tapi sebuah pertanyaan dipenuhi ribuan jawaban.

Celah: ini adalah ribuan jawaban untuk pertanyaan mengenai revolusi. Di mana-mana ada celah. Perjuangan dari martabat merobek jalinan dominasi kapitalis. Ketika orang-orang menentang pembangunan bandara di Atenco, ketika mereka menentang pembangunan jalan di Tepeaca, ketika mereka menentang Rencana Puebla Panama, ketika para mahasiswa UNAM menentang pengenaan biaya, ketika para pekerja melanjutkan pemogokan untuk menolak pengenalan ritme kerja yang lebih cepat, mereka mengatakan “TIDAK, di sini tidak, di sini kapital tidak berkuasa!” Setiap kata TIDAK adalah nyalanya martabat, celah dalam aturan kapital. Setiap TIDAK adalah melarikan diri, penerbangan dari aturan kapital.

TIDAK adalah titik awal dari seluruh harapan. Tapi hal itu tidak cukup. Kita berkata TIDAK kepada kapital di satu sisi, tapi ia tetap menyerang kita, memisahkan kita dari kekayaan yang kita buat, menolak martabat kita sebagai subjek aktif. Tapi martabat kita tidak dengan mudah ditolak. TIDAK memiliki momentum yang membawa kita ke depan.

Perjuangan mengatakan TIDAK seringkali membawa kita lebih dari itu. Dalam setiap perjuangan melawan kapital, hubungan relasi sosial alternatif dikembangkan. Mereka yang berjuang menyadari bahwa mereka tidak berjuang hanya melawan pemaksaan kapital tertentu, tetapi mereka berjuang untuk jenis relasi sosial yang berbeda. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, banyak perjuangan telah memberikan tekanan besar pada struktur horizontal, pada partisipasi semua orang, pada penolakan struktur hirarkis kapitalisme: dengan demikian mandar obedeciendo dari Zapatista, Majelis Horizontal dari para mahasiswa UNAM, asembelas barriales dari Buenos Aires, tatanan yang dikembangkan oleh gerakan ‘anti-globalisasi’ di seluruh dunia, persahabatan yang berkembang dalam pemogokan. Semua ini adalah eksperimen yang sangat sering dan disadari, semua cara untuk mengatakan “kami tidak hanya mengatakan TIDAK kepada kapital, kami mengembangkan konsep politik yang berbeda, membangun serangkaian relasi sosial yang berbeda, berusaha mencari-cari masyarakat yang ingin kita bangun.”

Tapi hal itu tidak cukup. Kita tidak bisa makan dari diskusi demokrasi, kita tidak bisa minum dari persahabatan. Tidak baik jika, setelah pembicaraan mengenai demokrasi dalam asamblea barrial atau frente Zapatista di malam hari, kita harus menjual kemampuan kita untuk berbuat (kekuatan kerja) kepada kapital di hari esoknya dan terlibat aktif dalam proses pemisahan yang dimaksud oleh kapital. Tapi di sini juga energi perjuangan membawa kita maju, dari berbicara menjadi berbuat.

Perjuangan yang berjuang tidak hanya untuk mengatakan TIDAK, tetapi untuk menciptakan relasi sosial lainnya dalam praktik yang didorong selangkah lebih maju, ke organisasi praktis dari perbuatan. Asambleas Barriale di Argentina semakin bergerak dari membahas dan memprotes pemerintah menjadi pengambilan kehidupan mereka di tangan mereka sendiri dan pendudukan terhadap klinik yang sudah ditinggalkan, rumah-rumah yang kosong, bank-bank yang telah melarikan diri, dengan tujuan untuk menyediakan jaminan kesehatan yang lebih baik, dan untuk menyediakan tempat-tempat untuk dihuni orang-orang dan pusat-pusat yang digunakan untuk pertemuan atau diskusi. Ketika pabrik-pabrik tutup, para pekerja tidak hanya protes tapi mendudukinya dan menggunakan mereka untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan. Celah menjadi sebuah tempat yang bukan hanya penolakan, bukan hanya untuk mengembangkan tatanan horisontal tapi untuk membangun sebuah bentuk alternatif dari perbuatan.

Tetapi hal itu tidak cukup. Celahnya seringkali kecil, perbuatan-perbuatan alternatifpun terisolasi. Bagaimana kita menghubungkan proyek-proyek alternatif ini? Jika dilakukan melalui pasar, pasar akan mendominasi mereka. Ia tidak bisa dilakukan dengan memperkenalkan perencanaan sosial dari atas, karena hal itu mengandaikan tatanan yang tidak ada dan tidak bisa ada pada saat itu. Hal ini tentu merupakan proses perbuatan dari bawah, secara sedikit demi sedikit. Di Argentina, gerakan barter, dalam manifestasi terbaiknya, adalah sebuah upaya untuk mengembangkan bentuk-bentuk lain dari artikulasi antara produsen dan konsumen (prosumidores), tapi hal itu juga masih eksperimental.

Tetapi tetap saja itu tidak cukup. Revolusi tidak mungkin kemiskinan. Gerakan revolusi berusaha untuk memperlihatkan secara eksplisit kekayaan dari perbuatan sosial. Tapi sekarang, kapital memisahkan kita dari kekayaan tersebut, ia berdiri sebagai penjaga gerbang dari perbuatan sosial dan memberitahu kita bahwa kita dapat mendapatkan akses ke kekayaan itu jika kita tunduk kepada aturan kapital, logika laba. Bagaimana kita dapat menghindari penjaga gerbang itu, menemukan cara-cara lain untuk menghubungkan kekayaan dari perbuatan dari jutaan manusia di seluruh dunia yang, mereka juga, mengatakan TIDAK atau ingin mengatakan TIDAK pada hubungn sosial dari kapital?

Pada setiap tingkat negara menawarkan dirinya sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita. Negara menyampaikan dengan menggema “Datanglah kepadaku, tata dirimu melaluiku, aku bukan kapital. Aku bisa menyediakan dasar bagi sebuah organisasi alternatif kesosialan.” Tapi hal ini adalah kebohongan, sebuah tipuan. Negara adalah kapital, sebuah bentuk kapital. Negara adalah bentuk khusus kapitalis dari relasi sosial. Negara sangatlah terikat ke dalam jaring global dari relasi-relasi sosial kapitalis yang mana tidak mungkin kesosialan anti-kapitalis dapat dibangun melalui negara, meskipun partai manapun yang duduk dalam pemerintahan. Negara menegakkan kepada kita sebuah relasi sosial hirarkis yang tidak kita inginkan; negara mengatakan bahwa kita harus realistis dan menerima logika kapitalis dan perhitungan dari kekuasaan ketika kita cukup jelas bahwa kita tidak menerima logika perhitungan tersebut. Negara mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan permasalahan kita, bahwa kita tidak mampu menyelesaikannya, ia mereduksi kita menjadi korban, menolak subjektifitas kita. Negara adalah sebuah bentuk pendamaian perjuangan kita terhadap dominasi kapitalis. Jalan dari negara bukanlah jalan martabat.

Tentu ada banyak situasi di mana kita dapat mengubah sumber daya negara untuk keuntungan kita sendiri – seperti ketika piqueteros menutup jalan untuk memaksa negara untuk memberikan dana kepada mereka yang mana mereka, piquesteros, gunakan untuk mengembangkan bentuk alternatif dari perbuatan. Ada juga situasi di mana masuk akal untuk memilih satu partai daripada yang lain, untuk mempertahankan atau menciptakan lebih banyak ruang untuk gerakan kita. Tetapi negara tidak bisa menyediakan kesosialan alternatif yang awalnya ditawarkannya. BUMN, contohnya, tidak menyediakan sebuah organisasi yang berbeda dari perbuatan: mereka mengubah perbuatan menjadi pekerjaan dan merendahkannya ke gerakan dari kapital dengan cara yang sama seperti industri lainnya (hal yang sama juga terjadi di bekas Uni Soviet seperti di Inggris dan seperti di Meksiko). Meskipun jika ada situasi di mana kita mungkin ingin menggunakan negara, seperti kita menggunakan uang, penting untuk lebih jelasnya bahwa negara, seperti uang, adalah perwujudan relasi yang menolak martabat kita. Bukan melalui negara kita dapat menciptakan masyarakat berdasarkan martabat.

Lalu bagaimana? Pertanyaan ini menyiksa kita. Solusi lawas tidak bekerja, tidak dapat bekerja. Tapi bisakah solusi lain bekerja? Dapatkah perjuangan melawan negasi dari martabat benar-benar mengarahkan kita pada sebuah masyarakat didasarkan pada martabat, sebuah masyarakat yang di dalamnya kekuatan sosial dari perbuatan disetarakan (sebuah masyarakat komunis)? Kepastian tidak berada di sisi kita. Kepastian tidak bisa berada di sisi kita, karena kepastian ada hanya di mana martabat kemanusiaan ditolak, di mana relasi sosial sepenuhnya direifikasi, di mana orang sepenuhnya direduksi menjadi sekedar topeng. Satu-satunya kepastian untuk kita adalah bahwa martabat manusia berarti melawan sebuah dunia yang menolak martabat.

Api martabat, kilatan petir, celah dalam dominasi kapitalis. Lihatlah peta kapitalisme dan lihat betapa sobeknya, seberapa besar celahnya, nyala api pemberontakan. Chiapas, Buenos Aires, Cochabamba, Quito, Caracas, dan seterusnya di seluruh penjuru dunia. Perjuangan kita adalah memperluas celah-celah itu sebagai ruang-waktu, untuk mengipasi nyala api martabat. Kadang-kadang nyala apa menerangi langit dan kita dapat melihat dengan jelas apa yang memberi kita harapan: penguasa bergantung kepada yang dikuasai, kapital bergantung pada kita, pada kemampuan untuk mengubah perbuatan kita menjadi pekerjaan yang bisa dieksploitasi olehnya. Ialah perbuatan kita yang membentuk dunia, kapital yang lari di belakangnya berusaha mengendalikannya. Kita adalah api dan kapital adalah pemadam kebakaran. Singkatnya: satu-satunya kekuatan produktif adalah kekuatan kreatif dari perbuatan manusia, dan relasi-relasi kapitalis dari perjuangan produksi sepanjang waktu mengandung kekuatan itu.

Kapital takut kepada kita. Kapital melarikan diri dari kita, sama seperti kita melarikan diri darinya. Pelarian dan ancaman pelarian adalah fitur utama dari dominasi kapitalis. Tuan-tuan feodal tidak lari dari budak-budak mereka: jika budak-budak itu tidak berperilaku baik, tuannya tetap ada dan menghukum mereka, seringkali secara fisik. Tetapi beda halnya dengan kapitalisme. Kapital mengatakan kepada kami sepanjang waktu: “jika kamu tidak berperilaku baik, aku akan pergi”. Kita hidup dalam tekanan besar, di bawah ancaman mengerikan bahwa penguasa kita akan pergi dan meninggalkan kita. Dan seringkali kapital pergi, dan jutaan orang menjadi pengangguran, seluruh wilayah atau negara tinggal tanpa investasi, seluruh generasi ditinggalkan tanpa merasakan eksploitasi secara langsung. Di bawah neoliberalisme, ancaman untuk pergi ini dan kenyataan dari kepergian menjadi semakin sentral: itulah arti ekspansi kredit dan kebangkitan kapital keuangan. Semakin jelas kapital mengatakan “berperilakulah seperti robot, lakukan seluruh yang aku katakan atau aku akan pergi”. Semakin banyak, kapital melarikan diri dari fakta bahwa kita bukanlah robot, kapital melarikan diri dari martabat kita.

Martabat dan kapital tidaklah cocok. Semakin banyak kemajuan martabat, semakin sering kapital melarikan diri. Ketika pribumi bangkit, kapital melarikan diri. Ketika para buruh menduduki pabrik-pabrik, kapital melarikan diri. Ketika mahasiswa memberontak melawan penataan ulang dari edukasi, kapital melarikan diri. Ketika tampaknya pemerintah sayap Kiri mungkin memperkenalkan langkah-langkah yang memengaruhi laba, kapital melarikan diri (dan pemerintah berubah pikiran). Itulah sebabnya pertanyaan tentang bagaimana kita merespons pelarian kapital sangat penting bagi perjuangan untuk martabat (bahkan lebih mendasar ketimbang pertanyaan mengenai penindasan, karena penindasan selalu disajikan sebagai respon terhadap pelarian kapital). Apa yang akan kami jawab ketika kapital mengatakan “berperilakulah dengan baik atau kita akan pergi”? Apa yang akan kita katakan ketika kapital pergi?

Biarkan saja! Biarkan ia pergi! Itulah kepandaian hebat dari slogan orang Argentina “Que se vayan todos!” (Biarkan mereka pergi!) Kapital mendominasi dengan mengancam kita bahwa ia akan pergi. Jadi, biarkan saja mereka pergi melarikan diri. Kita dapat mengelola dengan sempurna tanpanya. Kita akan bertahan.

Atau bisakah kita? Itu pertanyaan besarnya. Kapital bukan hanya sebuah proses penutupan celah. Dengan pergi dan dengan mengancam untuk pergi, hal itu juga membuka celah-celah potensial. Ketika kapital mengancam terlalu sering, maka buruh akan terdorong untuk mengatakan, “oke, pergilah sekarang, bawa uangmu, tapi kita akan tetap di sini bersama mesin-mesin dan bangunan-bangunan”. Ketika kapital pergi dari seluruh wilayah, maka orang akan didorong oleh pilihan dan kebutuhan untuk menemukan cara lain untuk bertahan. Mereka terdorong untuk membangun relasi-relasi sosial yang melampaui kapitalisme. Celah-celah terbuka tidak hanya melalui perjuangan-perjuangan kita tapi pelarian kapital dari martabat kita.

Tapi bagaimana kita bertahan tanpa orang yang mengeksploitasi, ketika mereka mengontrol akses pada kekayaan dari perbuatan manusia? Itu adalah tantangan terbesarnya. Bagaimana kita memperkuat celah-celah sehingga mereka tidak hanya saku yang terisolasi dari kemiskinan tapi sebuah bentuk alternatif nyata dari perbuatan yang membuat kita dapat mengatakan kepada kapital “oke, pergilah, jika itu adalah hal yang selalu menjadi ancamanmu?” Di lain waktu kapital itu membuat kita pengangguran, dapatkah kita berkata “baiklah, sekarang kita bisa melakukan sesuatu yang lebih bermakna”? Di waktu lain ketika kapital menutup sebuah pabrik, bagaimana kita bisa mengatakan “pergilah sekarang, sekarang kita bisa menggunakan peralatan dan bangunan dan pengetahuan kita dengan cara yang berbeda”? Di lain waktu ketika kapital mengatakan “tolonglah bank-bank kita atau sistem keuangan akan jatuh”, bagaimana kita bisa mengatakan “biarkan dia jatuh, kita memiliki cara yang lebih baik untuk mengelola hubungan-hubungan kita”? Di lain waktu ketika kapital mengancam kita “aku akan pergi”, bagaimana kita bisa mengatakan “ya, pergilah, pergilah selamanya dan bawa kawan-kawanmu denganmu. Que se vayan todos.”? Itulah permasalahan dari revolusi (dengan “r” kecil).

Apa arti revolusi? Ini pertanyaan, hanya bisa menjadi pertanyaan. Tapi bukan pertanyaan yang diam. Ini bukan pertanyaan yang macet di satu tempat, apakah tempat itu Saint Petersburg atau Selva Lacandona, atau Buenos Aires atau dalam suatu saat, apakah itu 1917, atau awal Januari 1994 atau 19/20 Desember 2001. Ia bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan sebuah formula atau resep. Ia adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan perjuangan, tapi refleksi teoritis adalah bagian dari perjuangan itu. Ia adalah pertanyaan dengan sebuah energi dan sebuah amarah dan sebuah kerinduan yang mendorongnya untuk maju. Mari kita selalu mendorong ke depan semua pertanyaan, sejauh yang kita bisa, dengan setiap tindakan politik, dengan setiap refleksi teoritik. Preguntando Caminamos meminta kita berjalan. Ya, tapi kita berjalan dengan amarah, bertanya dengan penuh semangat.*

Rujukan

Bloch E. (1964), Tübinger Einleitung in die Philosophie, Bd. 2 (Frankfurt: Suhrkamp)

Ejérito Zapatista de Liberación Nacional (1994) La Palabra de los Armados de Verdad y Fuego (Mexico City: Fuenteovejuna)

Holloway J. (2002), Change the World without taking Power, (London: Pluto)


[1] Untuk Subcomandante Marcos, sebuah masyarakat bermartabat adalah sebuah masyarakat di mana orangnya “tidak perlu menggunakan topeng untuk berhubungan dengan lainnya”. Wawancara dengan Cristián Calónico Lucio, 11 November 1995, hlm. 61..

[2] Dalam wawancaranya 9 Maret 2001 dengan Julio Scherer, Marcos mengatakan “kita melihat diri kita sendiri lebih sebagai seorang pemberontak yang ingin perubahan sosial. Hal itu, definisi dari revolusi klasik tidak cocok untuk kita.” (Proceso, 11 Maret 2001, hlm. 14). Marcos memang benar untuk menolak konsepsi lama dari revolusi, tapi konsep pemberontakan tidak cocok untuk mengkonseptualisasikan tantangan untuk merubah dunia. Perbedaan antara Revolusi dan revolusi lebih tepat. Lihat catatan selanjutnya.

[3] Dalam “Story of the Mirrors” (La Jornada, 9/10/11 Juni 1995, hlm. 17 (11 Juni), Marcos membicarakan revolusi yang “akan terjadi, secara prinsipil, sebuah revolusi yang merupakan hasil dari perjuangan di berbagai garda depan sosial, dengan berbagai metode, di bawah bentuk-bentuk sosial yang berbeda, dengan tingkatan komitmen dan partisipasi yang berbeda.” Ia mengatakan bahwa ia menggunakan huruf kecil, untuk menghindari polemik dari banyak pendukung dan pelindung REVOLUSI”)

By Kedai Resensi Surabaya

Resensi singkat dan segala macamnya. Dikelola oleh dua orang mahasiswa pegiat literasi dan berbasis di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.