Anarkisme, Sebuah Pengantar Singkat

Filsafat Aug 17, 2017

Pemaknaan yang bias terhadap anarkisme membuatnya seringkali disalahtafsirkan oleh masyarakat umum, tak luput juga para akademisi yang menyandang gelar berlipat-lipat.


Daniel Guerin - Anarchism

Judul Buku: Anarchism

Penulis: Daniel Guerin

Penerbit: Monthly Review Press

Tebal Buku: xx+166 halaman

Tahun Terbit: 1970

Anarki, Anarko, Anarkis, Anarkisme selalu menjadi kata yang ditakuti oleh masyarakat luas, nampaknya kata-kata tersebut tidak pernah disambut hangat oleh khalayak umum. Kata-kata itu cenderung pada kekacauan dan kerusakan, bahkan terkadang anarki diartikan sebagai kekacauan itu sendiri. Pemaknaan yang bias terhadap anarkisme membuatnya seringkali disalahtafsirkan oleh masyarakat umum, tak luput juga para akademisi yang menyandang gelar berlipat-lipat. Adapun pengartian secara bahasa, anarkisme diartikan sebagai kekacauan, ini adalah pendistorsian makna besar-besaran yang pernah dilakukan oleh Bahasa Indonesia dan membuat masyarakat Indonesia Anarkophobia, ditambah dengan minat baca yang kurang di Indonesia membuat negara ini menjadi negara Anarkophobia terbesar di Asia Tenggara. Untuk usaha penyadaran untuk memahami makna dari Anarkisme, maka saya meresensi salah satu buku dari penulis beraliran Anarko, yakni Daniel Guerin. Selamat menikmati.

Guerin menyebutkan bahwa kata Anarchy sudah setua dunia ini sendiri, diambil dari Bahasa Yunani, yakni An yang bermaknya tanpa, dan Archy/Arkhos yang berarti kekuasaan/penguasa, maka secara etimologis, Anarki dapat diartikan sebagaimana kondisi tanpa penguasa atau pemerintah yang dicita-citakan. Namun selama ribuan tahun, anarkisme telah direndahkan oleh pemaknaan yang dangkal, dimana kata itu diartikan sebagai kekacauan, tidak terorganisir dan ketidakteraturan.

Pierre-Joseph Proudhon, salah seorang peletak dasar pemikiran anarkisme pernah berkata bahwa kekacauan yang ada didunia disebabkan pemerintah dan hanya masyarakat tanpa pemerintah yang dapat mengembalikan tatanan dunia dan melakukan harmonisasi sosial. Dia selalu secara kaku mengembalikan makna Anarkisme kepada pemaknaan secara etimologis untuk menjaga maksud asli dari munculnya kata itu. Namun secara paradoks dan keras kepala, Proudhon juga menggunakan kata anarki dalam pemaknaan yang rendah yakni ketidakteraturan, sehingga membuat kebingungan bagi para pembaca bukunya. Murid setianya pun mengikuti gaya berpikirnya, yakni Mikhail Bakunin.

Proudhon dan Bakunin membawa pemaknaan ini lebih jauh lagi dimana mereka membuat kebingungan dari dua pengartian anarkisme yang sifatnya berlawanan: arti pertama menggambarkan bahwa anarkisme adalah kekuatan kolosal dari ketidakteraturan, kekacauan yang ada di masyarakat, tapi dibalik revolusi besar ini, ada arti anarkisme sebagai pondasi baru tatanan baru dan stabil yang rasional di masyarakat yang didasarkan pada kebebasan dan solidaritas. Namun pada akhir hidupnya, Proudhon mengkhianati idealismenya dengan menyebut dirinya sebagai seorang federalist, para keturunannya (secara pemikiran) pun lebih contong kepada borjuis kecil dan lebih memilih kata Mutualisme dibanding Anarkisme, untuk dari garis sosialisme, mereka biasanya menyebutnya sebagai kolektifisme. Dan pada akhirnya di Perancis, seseorang bernama Sebastian Faure menggunakan kata Le Libertaire yang sekarang membuat kata Libertarian dan Anarkis dapat saling menggantikan.

Kelemahan istilah-istilah ini adalah kegagalan untuk menyampaikan karakteristik dari doktrin yang mereka (istilah-istilah tersebut) harus jelaskan. Anarkisme hanyalah sinonim dari Sosialisme. Anarkis sebenarnya adalah sosialis yang bertujuan untuk menghilangkan ekspolitasi yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Anarkisme hanyalah salah satu aliran dari Sosialisme, aliran yang dimana komponen utamanya adalah kebebasan dan ingin menghilangkan pemerintah. Adolf Fischer, salah seorang martir dari insiden di Chicago berkata bahwa “setiap anarkis adalah sosialis, tapi setiap sosialis tidak selalu anarkis”. Beberapa anarkis menganggap diri mereka sebagai sosialis dengan logika terbaik, tapi karena “propaganda melalui aksi” yang mereka kumandangkan, mereka dicap sebagai teroris, terkadang pandangan buruk yang diberikan khalayak umum kepada para anarkis adalah ulah mereka sendiri yang acapkali menggunakan kekerasan dalam resolusi konfliknya.

Namun tidak bisa kita mensamaratakan bahwa seorang anarkis selalu teroris, terkadang itu hanya metode yang berbeda-beda dari tiap individu merdeka (anarkis) dalam menjalankan resolusi konfliknya, dan pastinya dalam anarkisme pun banyak sekali aliran dan memiliki pola pikir yang berbeda, kelebihan para anarkis adalah mereka punya tradisi intelektual yang berbeda, mengutamakan kreatifitas dan tidak memiliki metode yang berbelit sehingga perkembangan gerakannya sangatlah luas. Memang secara teori, Anarkisme tidak sekuat Sosialisme atau Marxisme, tapi harus dan wajib diakui, bahwa di abad keduapuluhsatu ini, anarkisme lah yang paling maju dalam hal pergerakan, dari Battle in Seattle hingga Occupy Wall Street, mereka adalah Anarkis. (rez)

Reza Maulana Hikam

Undergraduate student of Public Administration in Airlangga University. Founder of this book review website, Kedai Resensi Surabaya. Free writer in Geo Times.